Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Pages

Menggunakan Kecangihan Teknologi AI Sesuai Syariat

| 01 November WIB

oleh: umi silvi

Teknologi kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat. Menulis artikel, membuat gambar, menjawab pertanyaan, hingga menghasilkan video yang tampak nyata kini bisa dilakukan dalam hitungan detik. Semua terasa praktis. Namun, di balik kemudahan itu, ada hal yang patut kita renungkan: apakah kemajuan teknologi juga membuat manusia semakin bijak, berakhlak, dan dekat kepada Allah? Jangan sampai mesin makin pintar, sementara manusia justru kehilangan pegangan hidup.

Di balik pesona kecanggihannya, teknologi Artificial Intelligence (AI) ibarat sebilah pisau tajam bermata dua. Jika salah arah, inovasi terbesar zaman kita ini bisa berubah menjadi ancaman berbahaya bagi masa depan umat manusia.

Saat ini, teknologi kecerdasan buatan atau AI berkembang sangat cepat. Para peneliti AI, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton yang dianggap sebagai “Bapak AI”, sudah memberikan peringatan keras. Mereka meminta pemerintah di seluruh dunia bersiap menghadapi “ledakan kecerdasan”, yaitu kondisi ketika kemampuan AI dapat melompat jauh di luar kendali manusia (CNNIndonesia.com, 30/9/2026).

Dilansir dari The Guardian, para penulis mengungkapkan keprihatinan tentang “ledakan kecerdasan” AI. Mereka menggambarkan sebagai percepatan drastis kemajuan AI akibat proses recursive self-improvement (RSI) atau penelitian dan pengembangan (R&D) AI secara otomatis.

Seorang programer AI dalam riset tersebut dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti manusia terbaik karena otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri. Kecanggihan AI bisa menjadi perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia, karena memadatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi beberapa bulan atau kurang.

Meskipun kecanggihan AI dapat menghasilkan dampak yang positif, misalnya dalam bidang medis dan teknologi. Namun, ledakan kecerdasan AI bisa membawa dampak negatif yang berisiko, yaitu berupa ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali keterlibatan manusia, serta ancaman perang antarnegara.

Perkembangan teknologi AI (Artificial Intelligence) memiliki dua sisi mata uang, yaitu memberikan kemudahan luar biasa sekaligus membawa risiko bahaya yang signifikan bagi manusia. Sebagai teknologi yang terus berevolusi, dampak AI sangat bergantung pada bagaimana cara manusia mengembangkan, meregulasi, dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan buatan (AI) adalah sebuah alat, pemanfaatannya sangat bergantung pada siapa yang mengendalikannya. AI terbukti hebat karena dapat mempercepat pekerjaan, membantu penelitian penting lewat “tenaga kerja digital”, dan menyelesaikan berbagai masalah rumit demi kemajuan manusia.

Sayangnya, hari ini AI justru sering disalahgunakan oleh sistem kapitalisme yang serakah. Banyak bos besar dan perusahaan raksasa menggunakan AI hanya untuk mencetak uang sebanyak-banyaknya dan memotong biaya operasional. Akibatnya, muncul masalah besar di masyarakat, misalnya PHK massal, kerja diatur robot, monopoli raksasa teknologi (big tech), dan krisis kelebihan produksi. Jika teknologi ini dibiarkan tumbuh bebas tanpa kendali syariat dan hanya disetir oleh nafsu mencari kekayaan pribadi, AI yang seharusnya memajukan dunia malah akan membawa kehancuran bagi kehidupan manusia.

Ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah Islam dan syariat Islam bisa berisiko pada kehancuran kehidupan manusia. Allah Swt. memberikan manusia akal. Dengan akal, manusia akan mampu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah sekaligus mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi (pengelola bumi). Teknologi merupakan salah satu kemuliaan dari akal tersebut. Islam menetapkan hukum yang sangat tegas, segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadharah jikalau dipengaruhi oleh ideologi tertentu atau pemikiran tertentu. Maka, muslim tidak boleh mengambilnya.

Ketika hukum buatan manusia kewalahan mengimbangi laju teknologi, Islam hadir memberikan panduan yang komprehensif. Allah Swt. menciptakan manusia dengan kelebihan utama berupa akal pikiran agar mampu mengemban amanah sebagai khalifah fil ardhi, yaitu mengelola bumi sekaligus memimpin diri sendiri agar tetap di jalan Allah.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi …'” (QS. Al-Baqarah: 30)

Oleh karena itu, AI harus tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti mutlak dalam pengambilan keputusan yang membutuhkan kesadaran iman dan nurani manusia. Dalam pandangan Islam, hasil karya manusia terbagi menjadi dua:

1. Hadharah (pandangan hidup yang dipengaruhi teologi/keyakinan tertentu);

2. Madaniyah (sains dan alat fisik yang bersifat umum).

AI sebenarnya masuk dalam kategori madaniyah yang umum. Akan tetapi, karena AI tidak memiliki hati nurani, arah penerapannya mutlak disetir oleh ideologi, nilai, dan kepentingan pihak yang memproduksinya.

Di sinilah letak urgensi akidah dan syariat Islam. Ketika kendali teknologi berada di tangan peradaban yang beriman dan taat pada hukum Allah, AI akan menjelma menjadi teknologi luar biasa untuk kemaslahatan umat. Sebaliknya, jika perkembangannya dibiarkan liar di bawah kendali nafsu kapitalisasi yang mengabaikan batasan halal-haram, teknologi ini hanya akan menjadi alat penindasan yang kejam.

Fenomena ledakan kecerdasan buatan ini, menjadi bukti nyata bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh dilepas tanpa arah. Agar umat manusia selamat, seluruh rantai inovasi digital, mulai dari proses perancangan, regulasi hukum, hingga pemanfaatannya, harus dilandasi oleh aturan syariat Islam. Hanya dengan bersandar pada aturan Sang Pencipta, kemajuan teknologi akan membawa berkah dan kedamaian, bukan menjadi musibah bagi peradaban manusia. Wallahu a’lam bish-shawab.