Latest Post

IMPIANNEWS.COM (Cianjur). 

Insiden tidak menyenangkan menimpa keluarga Ketua KPU Cianjur, Jawa Barat, Hilman Wahyudi di tengah bulan puasa Ramadan.

Rumahnya Hilman Wahyudi di Kampung Karangtengah, RT 002 RW 009, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, disatroni orang tak dikenal, Kamis (23/5/2019) malam.

Tak cukup menyatroni, orang tak dikenal itu pun sempat menyekap istri Hilman Wahyudi, Yanti.
Kepada wartawan, Yanti menceritakan kronologi kejadian yang terjadi malam itu.

Yanti yang masih tampak terpukul atas kejadian itu mengatakan, saat itu suaminya, Hilman Wahyudi, tidak berada di rumah, hanya ada dia dan anaknya yang masih kecil.

Yanti yang terlihat syok seusai mengalami kejadian tersebut menuturkan, saat itu selepas menunaikan shalat tarawih ia kaget mendapati dua orang tak dikenal masuk rumah.

"Mukanya ditutupi. Masuknya lewat pintu depan karena pintu belum saya kunci. Mereka langsung masuk dan mengikat saya dengan tali tambang," tutur Yanti kepada wartawan, Jumat (24/5/2019) dini hari.

Dalam keadaan terikat, korban mengaku diseret ke bagian belakang rumah. "Mereka sempat meminta saya untuk menelepon suami. Suami saat itu memang sedang ada urusan di luar rumah," tutur dia.

Korban menyebut, pelaku tak sempat meneruskan aksinya karena keburu diketahui warga. Kedua pelaku dapat melarikan diri.

Jajaran Polres Cianjur yang mendapat laporan terkait kejadian tersebut langsung bergerak ke tempat kejadian perkara.

Kasatreskrim Polres Cianjur AKP Budi Nuryanto menyebutkan, pihaknya masih mendalami kasus dugaan penyekapan tersebut.

Belum diketahui motif pelaku karena aksi mereka lebih dulu diketahui warga. “Masih kami dalami. Jika memang ada perkembangan, kami informasikan lagi," kata dia.

Sejauh ini, lanjut Budi, tidak ada dugaan motif yang mengarah pada profesi suami korban sebagai Ketua KPU Cianjur. “Doakan saja cepat terungkap," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Istri Ketua KPU Cianjur Disekap Orang Tak Dikenal"

IMPIAMMEWS.COM (Jakarta).

Penyelenggaraan Pekan Nasional Tani Indonesia merupakan wujud motivasi produktifitas penyelenggaraan pembangunan pertanian Indonesia. Jika selama ini Sumbar baru produksi padi 4 ton per ha, mesti upaya maksimal menjadi produksi padi 13,5 ton per ha.

Hal ini disampaikan Menteri Pertania Republika Indonesia Dr. Amran Sulaiman dalam pembukaan rapat persiapan penyelenggara Penas Tani ke XVI tahun 2020 di Sumatera Barat, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Republik Indonesia Jakarta, Senin (20/5/2019).

Hadir dalam kesempatan tersebut,  Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir,  Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit,  Wakil Walikota Hendri Septa, Pejabat eselojn I,  II serta beberapa kepanitian dilingkung Kementerian Pertanian Republik Indonesia  dan utusan kementerian terkait lainnya.

Kementan Amran Sulaiman juga menyampaikan saat ini hasil pertanian Indonesia Produk Domestik Bruto (PDB) sudah masuk lima besar dari 224 negara dengan presentase 125,4 % dan mendapat perhatian dunia.

Kita amat pujikan KTNA yang konsisten bekerja walau dana penyelengaraan Kementerian Pertanian ditekan turun  dari  34,9 Triliun tahun 2015 menjadi 18,9 Trilun tahun 2016, 19,3 Triliun tahun 2017 serta juga menekan dana belanja pegawai. Dan ini malah membawa peningkatan PDB Petani,  2013 - 847,8 7 Triliun,  2014 - 880,4 Triliun,  2015- 906,8 Triliun,  melebihi target 35 % dari tahun 2017-2018 mencapai 37 % sebesar 1.005,4 Triliun.

Kita juga bangga adanya penurunan tingginya inflasi bahan makanan Indonesia dari 11,74 % menjadi 1,26 %. Ini semua merupakan buah kerja KTNA secara nasional yang telah memberikan kontribusi positif dalam kemajuan dalam sektor pertanian, ungkap mentan.

Mentan RI juga menekankan, Pekan Nasional (PENAS) yang mempertemukan Petani dan Nelayan Andalan di Indonesia akan digelar di Sumatera Barat. Hendaknya memperlihatkan hasil produksi yang membangkan, bukan apa adanya.

"Mesti ditingkatkan metode dan cara bagaimana hasil produk bidang pertanian menjadi semangat para petani untuk berhasil lebih baik lagi di tahun yang akan datang", harapnya.

Wagub Nasrul Abit juga menegaskan, pemikiran besar Menteri Pertanian bagaimana produksi pertanian Sumatera Barat dapat menjadi lebih baik. Jika saat ini hasil rata-rata produk pertanian 4 ton per ha,  maka seyogyanya kedepan menjadi 13,5 ton per ha.

" Penyelenggaraan Penas Tani ke XVI tahun 2020 di Sumbar mampu menjadi inspirasi bagi perkembangan pembangunan pertanian di Indonesia. Kita berkeyakinan hal itu dapat diraih jika semua bekerja maksimal dalam koordinasi yang baik. Apakah soal bibit,  pupuk atau teknologi pertanian lainnya yang dapat mendorong keberhasilan produk pertanian Sumatera Barat", ajaknya.

Wagub Nasrul Abit juga mengajak seluruh stakehorler pembangunan sektor pertanian dapat berkontribusi nyata dalam memajukan produk pertanian Sumatera Barat.

Penas Tani ke XVI Tahun 2020 momentum yang tepat untuk membuktikan potensi itu ada dan kemampuan itu menjadi pembelajar petani Indonesia dan khusus petani yang ada di Sumbar.

Guna menyukseskan penyelenggaraan Penas Tani 2020 di Sumbar,  Kementerian Pertanian (Kementan) pun menggelar Sosialisasi dan Koordinasi dengan KTNA serta jajaran panitia pusat dan daerah.

Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Indonesia merupakan ajang berkumpul dan bersilahturahmi bagi para kontak tani, nelayan dan petani hutan untuk saling memperlihatkan pencapaiannya selaku pelaku utama dalam pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan.

Kegiatan PENAS digagas oleh para tokoh tani, nelayan sejak 1971 dan menjadi wadah pertemuan kontak tani, nelayan dan petani hutan untuk saling mengisi dan memperkuat kepemimpinan agribisnis di tingkat petani, nelayan dan petani hutan.

Termasuk melakukan konsolidasi, pengembangan diri, tukar menukar informasi, apresiasi, kemitraan dan promosi hasil pertanian, perikanan dan kehutanan yang diselenggarakan secara teratur dan berkelanjutan. 

Sesuai dengan hasil Rembug Utama Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional pada PENAS XV Petani Nelayan Tahun 2017 di Aceh, disepakati bahwa PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2020 akan diselenggarakan di Sumatera Barat, tepatnya di Kelurahan Aie Pacah Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang dengan jumlah peserta sebanyak 50.000 orang.

Adapun tema dan Logo PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2020 merupakan hasil musyawarah dan kesepakatan dalam Rembug Utama Pengurus KTNA Nasional yang telah dilaksanakan di Kota Padang, Sumatera Barat pada tanggal 20 s.d 22 Maret 2018.

Kemudian dimantapkan kembali pada Rapat Koordinasi (Rakor) antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Kelompok KTNA Nasional tanggal 24 Agustus 2018 di Jakarta.

Untuk menindaklanjuti hasil Rakor tersebut, maka pada tanggal 20 Mei 2019 akan diadakan “Sosialisasi Kegiatan PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2020” di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian.

Sosialisasi tersebut akan dihadiri oleh + 500 orang peserta yang terdiri dari Panitia Pusat, Panitia Daerah dan Kelompok KTNA.

PENAS XVI Petani Nelayan Tahun 2020 bertema: “Memantapkan Penguatan Potensi dan Posisi Tawar Komoditi Lokal untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan Berkelanjutan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045”.

(Humas Sumbar)

IMPIANNEWS.COM (Padang)

Hendri Septa, yang dilantik sebagai Wakil Wali Kota (Wawako) Padang pada 13 Mei lalu, menggelar acara syukuran menempati rumah dinas Wakil Wali Kota Padang di Jalan A. Yani 51. Syukuran tersebut diikuti anak yatim, Wali Kota Mahyeldi dan pimpinan SKPD Pemko Padang, Kamis (24/05/2019). 

Di kesempatan itu, Wali Kota Mahyeldi mengatakan, dengan digelarnya acara syukuran dan buka puasa bersama anak yatim mendatangkan keberkahan dan keridhoan Allah Subhana wa Ta'ala dalam menjalankan tugas negara dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

f"Semoga rumah dinas yang ditempati ini mempermudah dalam melaksanakan tugas sebagai Wakil Wali Kota Padang sebagaimana amanat yang diterima," sebut Mahyeldi.

Sementara itu, Wawako Hendri mengucapkan terima kasih kepada anak yatim, Wali Kota Padang, Kepala SKPD beserta ASN Pemko Padang yang telah hadir dalam acara syukuran dan buka puasa bersama.

“Insya Allah, rumah dinas ini nenjadi hunian yang nyaman bagi keluarga, sekaligus untuk menjalan roda pemerintahan bersama Bapak Mahyeldi", ujar Hendri. 

Ia menambahkan, selama lima tahun kedepan dirinya bersama bapak Mahyeldi akan berusaha mewujudkan Kota Padang sebagai kota yang madani 6dan metropolitan, sesuai dengan visi dan misi yang telah disampaikan.

"Untuk itu kami memohom dukungan serta masukan selama lima tahun kedepan agar visi dan misi yang telah kami ikrarkan itu dapat y hendaknya," kata Hendri. (th)

Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara soal gugatan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno yang akan diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jumat (24/5/2019).

IMPIANNEWS.COM (Jakarta). 

Usai bertemu Prabowo Subianto, Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat bicara soal gugatan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno yang akan diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Jusuf Kalla menyampai hal itu setelah menggelar pembicaraan mendalam dengan para tokoh bangsa di kediaman dinas Wapres JK, Jalan Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019) malam.

Jusuf Kalla menjelaskan, para tokoh bangsa itu membicarakan situasi terkini terkait proses Pemilu hingga terjadinya kericuhan Aksi 22 Mei di Jakarta.

"Dalam pembicaraan hangat dan sangat mendalam, para tokoh-tokoh bangsa ini telah membicarakan situasi bangsa ini," ujar Jusuf Kalla kepada Kompas Tv, Jumat (24/5/2019).

"Khususnya tentang proses Pemilu yang kemudian juga berefek kepada situasi ibu kota."

"Namun demikian, kita tetap optimis dan mengharapkan masyarakat itu melaksanakan demokrasi dengan tenang," sambungnya.

Dirinya menjelaskan, dalam pertemuan tersebut membahas hal penting yang menyinggung soal langkah Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandi.

Jusuf Kalla menyatakan apresiasinya kepada kedua Paslon yang sama-sama ingin menjalankan proses pemilu sesuai jalur konstitusi.

Selain itu, dia juga menghargai BPN Prabowo - Sandi yang akan mengajukan gugatan soal pemilu kepada MK.

"Kami sangat menghargai bahwa kedua pasangan calon itu semua bertekad untuk menyelesaikan soal-soal kita sesuai dengan aturan konstitusi dan undang-undang yang berlaku," jelas Jusuf Kalla.

"Sehingga kami menghargai keputusan Paslon 02 membawa masalah ini ke MK."

"Karena itulah jalan yang sesuai dengan undang-undang," imbuhnya.
Dia juga meminta kepada MK supaya memproses gugatan BPN Prabowo - Sandi dengan transaparan, adil, dan independen.

"Karena itu mari kita semua mendukung proses ini dengan mengharapkan MK menjalankannya dengan transparan prosesnya, dengan adil, dengan independen," tandasnya.

Simak videonya di sini.
Diberitakan sebelumnya, Koordinator Juru Bicara BPN, Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan berkas-berkas sebagai syarat pengajuan gugatan kepada MK.
Hal itu dikatakan Dahnil di kediaman Capres 02, Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (22/5/2019).

Dahnil menyampaikan bahwa tim kuasa hukum yang akan mengajukan gugatan terdiri dari empat orang.
Antara lain Denny Indrayana, Bambang Widjojanto, Irman Putra Sidin dan Rikrik Rizkian.

Diketahui bahwa pengajuan gugatan ke MK diputuskan dalam rapat internal BPN di kediaman Prabowo pada Selasa (21/5/2109).

Tanggapan MK
MK Menyinggung soal gugatan BPN Prabowo-Sandi soal sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019.

Menurut Juru Bicara MK, Fajar Laksono gugatan yang akan diajukan oleh BPN Prabowo-Sandi harus disertai bukti-bukti.

Selain itu, Fajar mengungkapkan bahwa gugatan tak bisa diproses jika hanya berdasar klaim dan asumsi.
Hal itu dikemukakan Fajar dalam sesi jumpa pers di kantor MK, Kamis (23/5/2019).

"Bukti yang kemudian bisa menguatkan dalil pemohon," ujar Fajar, dikutip TribunWow.com dari Tribunnews.com.

"Misalnya, kalau terjadi kecurangan itu di mana saja kan begitu, di daerah mana saja, di TPS mana saja oleh siapa."

"Itu kemudian harus bisa membuktikan, pemohon harus bisa membuktikan."
"Artinya, tidak bisa kemudian di dalam persidangan hanya klaim, asumsi," tambahnya.

Dirinya menegaskan bahwa keinginan BPN Prabowo-Sandi untuk mengajukan gugatannya dibatasi hingga Jumat (24/5/2019).

Untuk itu, Fajar mengatakan jika MK selalu siap jika BPN Prabowo-Sandi ingin mengajukan gugatan kepada pihaknya hingga batas waktu yang ditentukan.

"Intinya, MK siap menunggu sampai tenggat waktu pengajuan permohonan sengketa pilpres itu besok malam Jumat jam 24.00 WIB," jelas Fajar.

"Oleh karena itu, terserah calon pemohon ini akan datang jam berapa. Yang pasti MKstand by," tandasnya.

Lebih lanjut diberitakan dari Kompas.com,Fajar juga memaparkan sejumlah syarat yang harus dibawa oleh BPN Prabowo-Sandi.

Dia menjelaskan, isi permohonan meliputi identitas pemohon, kewenangan MK, kedudukan kewenangan MK, kedudukan hukum, tenggat waktu pengajuan, dan berkas permohonan harus diisi dengan hal yang dipersoalkan.

"Jadi permohonan itu sendiri tertulis rangkap empat kemudian disertai daftar alat bukti dan alat bukti itu sendiri yang sesuai dengan daftar itu," papar Fajar.

Fajar menambahkan bahwa alat bukti harus dibawa pada saat mengajukan gugatan ke MK.



sumber : Tribunnatam.id

IMPIANNEWS.COM (Kabupaten Aceh Utara).

Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin, SH mengangkat Iskandar, S.Pd sebagai Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh Kabupaten Aceh Utara menggantikan Kepala sebelumnya Muhammad Abubakar, Pengangkatan Iskandar berdasarkan Surat Keputusan Nomor 015/SK-P/YARA/V/2019 tertanggal 23 Mei 2019. Pergantian ini merupakan penyegaran kader organisasi.

"Alhamdulillah saya hari ini dipercaya untuk menjaga amanah YARA perwakilan Aceh Utara. Amanah ini akan saya jaga dengan sebaik-baik mungkin. Semoga dapat membawa manfaat atau faedah bagi masyarakat di Kabupaten Aceh Utara," kata Iskandar melalui rilisnya pada media ini, Banda Aceh,  Jumat (24/5).

Walaupun sebenarnya tugas ini bukan tugas ringan apalagi YARA merupakan salah Organisasi Bantuan Hukum yang sudah di akreditasi oleh Kementerian Hukum dan HAM, dimana YARA di beri tugas oleh negara menjadi Organisasi Pemberi Bantuan Hukum untuk masyarakat miskin yang bermasalah dengan hukum," Ucap iskandar

Sementara itu, Safaruddin berharap, nantinya Ketua perwakilan YARA Aceh Utara, Iskandar yang juga merupakan alumni kader terbaik Akademi Bela Negara Partai Nasdem dapat memberikan warna baru bagi masyarakat dalam pelayanan advokasi hukum baik secara litigasi maupun non litigasi, sehingga semakin mudah diakses oleh masyarakat miskin terutama yang ada di Kabupaten Aceh Utara.

"Semoga nantinya Iskandar dapat membangun komunikasi dengan berbagai pihak, terutama Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan dan Lapas/Rutan, memberikan layanan bantuan hukum kepada masyarakat di Aceh Utara, melakukan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Aceh Utara", tutup Safar. (nz)

Kesuksesan itu diraih dari peringkat Nasional Tahum 2018  rangking  34, dan Tahun 2019 Aceh berada pada urutan ke-27, pencapaian prestasi naik 8 tingkat 
IMPIANNEWS.COM (Banda Aceh). 

Dinas Pendidikan Provinsi Aceh sukses menaikkan peringkat tingkat kelulusan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ditingkat SMA, SMK, dan MA tahun 2019. 

Kesuksesan itu diraih dari peringkat Nasional Tahum 2018  rangking  34, dan Tahun 2019 Aceh berada pada urutan ke-27, pencapaian prestasi naik 8 tingkat dari tahun sebelumnya, sungguh  yang luar biasa, tentu semua tak terlepas dari peranan penting tenaga pengajar yaitu para Guru-guru dan para wali murid yang peduli dengan anak-anaknya dirumah untuk lebih giat belajar.

Kenaikan UN Aceh di Tahun ini, setelah Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan setempat melakukan berbagai kegiatan dan bimbingan intensif di seluruh Kabupaten/kota di Provinsi  dimulai sejak akhir tahun 2018 hingga April 2019.

Hal itu diketahui atas pemberitahuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia, bahwa Aceh berhasil naik 8 peringkat dari UN tahun lalu yang berada di posisi terakhir peringkat 34 untuk hasil Ujian Nasional SMK tahun 2019 berada pada peringkat 27.

Di peringkat ke-27, Provinsi Aceh berada satu tingkat di atas Papua dan masih di bawah Gorontalo dan Sulawesi Selatan di posisi 25 dan 26.

Hal itu, disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Syaridin S.Pd, M.Pd katakan pihaknya bersyukur atas prestasi yang telah diraih Dinas Pendidikan Aceh terkait naiknya 8 peringkat hasil UN yang menjadi urutan ke 27 secara Nasional.

"Saya sejak awal, tidak pernah mengatakan bahwa Aceh mampu meraih peringkat 1 atau 10 besar nasional. Karena tidak mungkin terjadi dalam waktu sesingkat ini. Saya orang matematika, soal peringkat bermain dengan angka, ini upaya maksimal untuk saat ini,”kata Syaridin.

Ia juga menyebutkan, secara nasional rata-rata hasil UN pada tahun ini naik dengan kenaikan satu poin. Tetapi untuk rata-rata hasil ujian nasional Aceh untuk SMA dan SMK, mengalami kenaikan rata-rata tiga poin. "Alhamdulillah, ini terjadi pada semua kabupaten/kota, semua satuan pendidikan, dan semua mata pelajaran yang diujian Nasional

Lebih jaih. dikatakannya, pencapaian tersebut merupakan sejarah baru bagi dunia pendidikan Aceh yang sebelumnya belum pernah mengumpulkan nilai UN sempurna sebanyak itu dan juga prestasi lainnya. “Ini merupakan prestasi besar yang ditorehkan siswa Aceh, yang menjadi modal yang baik untuk kemajuan pendidikan Aceh ke depan,”ungkap Syaridin.

Capaian hebat itu, kata dia, bukan lah hasil yang didapat secara instan, melainkan berkat proses panjang melalui pembelajaran intensif baik di sekolah maupun luar sekolah.

 “Dengan meningkatnya nilai UN ini, kami berharap kualitas para guru dan tenaga pendidikan Aceh juga semakin meningkat. Semoga prestasi Aceh semakin baik ke depan,” sebutnya.

“Terobosan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Aceh untuk menggenjot peningkatan mutu UN salah satunya dengan menerapkan metode pembelajaran terbaru untuk persiapan UN. Guru-guru yang ada di seluruh kabupaten/kota dilatih menjadi instruktur nasional atau IN,”jelasnya.

Para IN inilah, kata Syaridin, yang kemudian menjadi instruktur bagi guru lain untuk memulai pembelajaran dengan mengkaji kisi-kisi nasional pendidikan.

 “Kisi-kisi ini memuat rambu-rambu dan indikator ujian nasional setiap tahunnya. Kita mencoba ‘memaksa’ guru-guru kita melalui kepala sekolah untuk melakukan ini secara terus menerus. Terima kasih atas kerja keras semua guru di Aceh serta dukungan orang tua serta semua pihak,”Ujar Kadis Pendidikan.

Untuk itu, jelas Syaridin, pihaknya juga melibatkan semua unsur pendidikan di antaranya perguruan tinggi seperti Unsyiah, UIN Ar-Raniry, tenaga instruktur dari pusat, dari LPMP, dan lainnya. “Tim inilah yang membimbing guru-guru dalam menyusun soal-soal prediksi UN yang mengacu pada kisi-kisi UN. Setelah soal disusun, tim dari provinsi dan instruktur nasional diberdayakan untuk menyosialisasikan, membimbing, dan menerapkan metode kisi-kisi UN yang sudah dikaji tersebut.

 Yaitu soal-soal yang berkapasitas tinggi yang sebelumnya kurang terjamah oleh guru dan kurang tersampaikan ke siswa,”terangnya.

Pelaksanaan UNBK Terbaik

Selain itu, Provinsi Aceh ditetapkan sebagai satu dari tujuh provinsi terbaik di Indonesia selain DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur, Gorontalo, Kalimantan Selatan dan Bangka Belitung, dalam melaksanakan UNBK 100 persen.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemendikbud, Totok Suprayitno, saat membuka Gebyar Hardiknas 2019 di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, beberapa waktu lalu.

Totok Suprayitno memuji perkembangan pendidikan di Aceh yang dinilai cukup baik. “Pemerintah Aceh berkomitmen luar biasa terhadap dunia pendidikan, sehingga Aceh dapat melaksanakan UNBK 100 persen pada tahun 2019,”katanya.

Dengan dilaksanakannya UNBK 100 persen, kata Totok, maka komitmen menjaga integritas UN sangat tinggi, karena gambaran nilai UN bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh perguruan tinggi dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Syaridin memberikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI atas pengakuan tersebut. Prestasi itu dapat memotivasi Aceh untuk lebih berprestasi lagi ke depan. “Alhamdulillah, pendidikan kita dalam hal pelaksanaan UNBK sudah setara dengan daerah lain di Indonesia,” ujar Syaridin.

Tahun 2019 ini, sebut dia, merupakan sebuah kemajuan besar Aceh yang dapat melaksanakan UNBK 100 persen di seluruh kabupaten/kota. Oleh karena itu, ia berharap kesuksesan pelaksanaan UNBK itu dapat memacu para peserta UNBK di seluruh Aceh untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Kerja keras tersebut mendapatkan apresiasi dari Plt Gubernur Aceh yang sejak awal memang terus mendukung Dinas Pendidikan, dengan turut memantau pelaksanaan UN di beberapa daerah seperti  Kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan Gayo Lues.

“Dalam pemantauan tersebut, Plt Gubernur merasa senang bahwa sekolah-sekolah yang letaknya nun jauh di sana sudah dapat melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), walaupun masih ada kekurangan di sana sini, dia akan berusaha memperbaiki itu agar pelaksanakan UNBK tahun depan lebih baik lagi,”pungkasnya.(adv)

IMPIANNEWS.COM
Payakumbuh, --- Pada Sabtu (25/5/2019) esok menjadi hari terakhir program Karantina Tahfizh yang diinisiasi oleh SMAN 1 (SMANSA) Payakumbuh. Program percepatan menghapal Al Qur’an tersebut dikuti oleh Siswa SMAN 1 Payakumbuh yang berhasil lolos seleksi. Program telah dimulai sejak 1 Ramadan 1440 H lalu.

“Insyaallah, besok kami bersama orang tua peserta akan menjemput anak-anak yang saat ini sedang berjuang mengikuti Karantina Tahfizh. Besok hasil karantina akan kita uji secara terbuka disini,” ujar Kepala SMAN 1 Payakumbuh, Erwin Sepriadi, M.Pd saat ditemui Humas di kampus SMAN 1 Payakumbuh, Kelurahan Tiakar, Jumat (24/5/2019).

Dikatakan, program Karantina Tahfizh adalah program menghafal Al Qur’an sebanyak 10 juz dalam waktu 20 hari pada Bulan Ramadan. Kegiatan yang diikuti 30 anak terpilih itu berlangsung di SKB Payakumbuh, Kelurahan Padang Tangah Payobadar, Payakumbuh Timur.

“Jumlah peserta sebanyak 30 orang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan sisanya siswa perempuan. Alhamdulillah, dari laporan yang kami terima, para peserta terus berjuang memenuhi target untuk bisa hafal 10 Juz,” ungkap Erwin.

Dijelaskan, pihaknya bekerjasama dengan beberapa alumni timur tengah sebagai mentor dibawah tanggungjawab Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 1 Payakumbuh, Ust. Zulkifli.

“Barusan kami dilaporkan, sebagian sudah ada hafal 8-9 Juz. Mudah-mudahan hingga hari penutupan besok, sebagian besar anak-anak kita bisa memenuhi target program,” pungkasnya.

Terpisah, Walikota Payakumbuh Riza Falepi mengapresiasi program inovasi yang dilaksanakan SMAN 1 Payakumbuh tersebut. Dikatakan, mesti tidak langsung berada dibawah koordinasi Pemerintah Kota, kegiatan tersebut jelas berpengaruh kepada peningkatan kehidupan beragama dan pembentukan generasi muda Payakumbuh yang berakhlak mulia.

“Saya sangat mengapresiasi. Kegiatan ini selaras dengan visi misi kami mewujudkan Payakumbuh Maju, Sejahtera dan Bermartabat, tepatnya pada misi kelima yaitu mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia dan berbudaya, berdasarkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK,red),” pungkas Walikota Riza.

Acara penutupan Karantina Tahfizh SMAN 1 Payakumbuh sendiri akan dilaksanakan pada Sabtu (26/5) sore. Rencana, acara diserangkaian dengan pengujian hafalan dan buka puasa bersama dengan peserta dan wali murid. Walikota Payakumbuh sendiri direncanakan akan ikut menghadiri kegiatan tersebut. (rel/ul)

IMPIANNEWS.COM
Payakumbuh, --- Wakil Walikota Payakumbuh Erwin Yunaz memenuhi undangan Yayasan Al Huffazh Kota Payakumbuh. Yayasan yang terletak di Kelurahan Tanjuang Pauah, Kecamatan Payakumbuh Barat tersebut menggelar kegiatan berbagi Sembako kepada Dhuafa dan Petugas Kebersihan Kota Payakumbuh, Jum’at (24/5/2019).

Hadir mendampingi Wawako, Staf Ahli Walikota Syahril, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dafrul Pasi dan Tim Humas Diskominfo. Pada kesempatan itu Wawako mengungkapkan rasa terimakasih atas kegiatan amal dari Yayasan Al Huffazh dalam membantu masyarakat kurang mampu.

“Kita bersyukur, yayasan turut membantu meringankan tanggungjawab pemerintah membantu kaum dhuafa. Kami menyadari tidak akan mampu berbuat sendiri. Kontribusi dari yayasan yang mau bersinergi seperti ini sangat luar biasa, atas nama Pemko kami mengucapkan terima kasih banyak,” ujar Wawako Erwin.

Orang nomor dua di Kota Payakumbuh ini juga menyebutkan, ada ukhuwwah yang tidak banyak orang mampu menjalinnya sehingga terjadi perpecahan. Namun Yayasan Alhuffaz mampu dan mau bergandengan bersama pemerintah, bersinergi dalam rasa persaudaraan membantu ummat.

“Semoga dengan kehadiran Yayasan Alhuffaz ditengah-tengah kita mampu menciptakan generasi yang berakhlak mulia dan berbudaya, berdasarkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” harap Wawako.

Kepala SD Al Huffazh Ustadz H. Rinaldi, S.Pd, M.Si mengatakan ada sebanyak 500 paket sembako yang diberikan kepada 186 petugas kebersihan Kota Payakumbuh, dan untuk ibu-ibu dhuafa diserahkan kepada 314 orang. Masing-masing sembako terdiri dari beras, telur, gula, dan minyak goreng. Dengan total harga Rp.160.000 perpaket.

Ustadz Rinaldi juga menyebut, sebagai yayasan pendidikan, tentunya segala kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat, yayasan ingin memberikan kabar kepedulian kepada kepala daerah. Dalam hal ini kepada Walikota Payakumbuh dan Wakilnya.

“Kehadiran Wawako memberikan kita energi yang luar biasa, dengan datang langsung ketempat kita merupakan sebuah apresiasi oleh pimpinan daerah, Al Huffazh ingin memperlihatkan kepada Wawako kalau Pemko Payakumbuh tak sendiri, ada yayasan yang berupaya peduli kepada masyarakat Kota Payakumbuh disini,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan, untuk bantuan kepada dhuafa, yayasan Al Huffaz bekerjasama dengan kelurahan dalam melakukan pendataan dan mengamanahkan agar penyerahan Sembako gratis itu tepat sasaran. Setiap calon penerima diberikan kupon.

“Kami bersama dengan guru, walimurid ikut serta membantu menyediakan paket Sembako untuk di serahkan kepada dhuafa dan petugas kebersihan. Semoga langkah kecil ini mampu sedikit meringankan beban mereka yang kekurangan dan juga membantu pemerintah daerah,” pungkas Ustadz Rinaldi. (rel/ul)

IMPIANNEWS.COM
Payakumbuh, --- Jumat (24/5/2019) pagi, Wakil Walikota Payakumbuh Erwin Yunaz didaulat menjadi pemateri dalam acara pesantren Ramadan yang diangkatkan oleh SMAN 1 (SMANSA) Payakumbuh. Wawako mengupas tema “Kewirausahaan Dalam Islam”.

Turut mendampingi Wawako, Kepala SMANSA Payakumbuh, Erwin Satriadi, M.Pd, Kabid Kehumasan Diskominfo Irwan Suwandi.SN, Lurah Tiakar Aulia Fajrin dan jajaran majelis guru SMANSA.

Diawal materinya di SMANSA (panggilan tren SMAN 1 Payakumbuh – red) itu, Wawako bertanya kepada para siswa apakah sudah ada yang melakukan kegiatan perniagaan. “Siapa yang tidak pernah berjualan? Angkat tangan,” seru Wawako Erwin.

Entah malu atau memang pernah berjualan, tak seorangpun yang mengangkat tangan. Hal itu langsung ditimpali Wawako, “Berarti kalian semua pengusaha dong, sudah pernh berjualan semuanya,” ujar Wawako mencairkan suasana. Namun ketika diuji kejujuran dengan kaitan bohong merusak pahala berpuasa, maka mayoritas siswapun mengangkat tangan belum pernah berjualan.

Dikatakan Wawako, “Berniaga itu bagus, kalau sudah melakukan sedari dini, berarti kita adalah calon pengusaha, kenapa harus berdagang?
Karena 9 dari 10 nasehat Rasulullah, dan 9 dari 10 pintu rezeki adalah berdagang,” ujar wawako.

Wawako menerangkan bahwa dewasa ini para pemimpin bangsa baik pusat maupun daerah berasal dari kalangan pedagang. Hal ini berbanding terbalik dengan pada masa orde baru dimana pemimpin mayoritas dari pegawai baik sipil maupun militer.

“Saat ini yang jadi pimpinan itu dari pengusaha, sangat sedikit yang nerasal dari pegawai, maka saya dorong kalian, bagi yang ingin jadi pemimpin masa depan, bercita-italah jadi pengusaha jangan jadi pegawai,” ujar Erwin.

Diceritakan Erwin, kondisi sekarang sudah terjadi pergeseran. Dikatakan, dulu orang tua melepas anak merantau, yang dipesankan adalah berpandai-pandai dirantau, mungkin saja nanti tidak cukup bekal dari kampung.

“Sedangkan sekarang orang tua bukan berpesan demikian, malah hanya berpesan untuk rajin belajar saja kepada anaknya, sugesti tersebut merubah orientasi dari sang anak ketika di rantau,” ungkap Erwin.

Ditambahkan, dengan begitu mudahnya alat komunikasi, banyak generasi muda yang tidak siap menghadapi tantangan zaman, apalagi dengan akses komunikasi yang begitu mudah kepada keluarga, sehingga tak ada ketakutan bagi seorang anak ketika tidak memiliki uang saat berusaha di rantau orang.

“Tidak ada fighting spirit, terjadi degradasi umat, karena hanya lahir generasi yang dipertaruhkan untuk belajar. Kita kehilangan kekuatan, karena begitu banyak jumlah orang lemah berekonomi sehingga perniagaan tidak lagi dikuasai umat,” terangnya.

Wawako mengajak dan mengharapkan siswa untuk memiliki tekad dalam hati sebagai umat Rasulullah, memiliki semangat berwirausaha yang akan menjadi penguasa masa depan yang kuat mental dan berdaya saing.

“Kuasai perniagaan, kuasai ilmu tersebut dengan sungguh-sungguh, milikilah tekad seperti Rasulullah, semoga semangat itu tumbuh dalam diri generasi muda, jangan kehilangan harapan,” harap Wawako

Sementara, Kepala SMAN 1 Payakumbuh Erwin Satriadi mengapresiasi kehadiran Wawako di sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, Wawako sangat komit dengan pembinaan generasi muda, dan perhatian dengan setiap sekolah yang ada di Payakumbuh.

“Semoga berkesempatan lagi untuk datang ke SMANSA, karena pada hari Sabtu besok, penutupan dan sekaligus penjemputan siswa yang masih dalam karantina Tahfiz untuk menghafal 10 Juz Alqur’an, akan dilaksanakan,” pungkasnya. (rel/ul)

IMPIANNEWS.COM
Jakarta, --- Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meminta Gubernur, Bupati/Walikota menyelenggarakan upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila Tahun 2019. Hal itu dituangkan dalam Radiogram Nomor 019.1/4110/Sj yang ditujukan pada Gubernur, Bupati/Walikota tertanggal 21 Mei 2019.

Radiogram tersebut dikeluarkan sehubungan dengan surat Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Nomor B.116/Ka.BPIP/05/2019 tanggal 13 Mei 2019 Perihal Pedoman Peringatan Hari Lahir Pancasila 2019.

Tak hanya itu, Kepala Daerah juga diminta melakukan kegiatan yang mendukung pemahaman nilai Pancasila, publikasi diseminasi semarak peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2019 di lingkungan masing-masing.

"Kepala Daerah diminta melaksanakan upacara serta melakukan kegiatan yang mendukung penanaman nilai-nilai Pancasila, melakukan publikasi, serta memasang spanduk Peringatan Hari Lahir Pancasila," kata Tjahjo.

Tema Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni, tahun ini mengusung tema "Kita Indonesia, Kita Pancasila." Pedoman pelaksanaan peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2019, logo dan tema dapat diunduh pada laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di www.bpip.go.id (ul)

Rilis Pers Puspen Kemendagri (Jumat, 24 Mei 2019)

IMPIANNEWS.COM
Payakumbuh, --- Sebagai wujud syukur atas nikmat dari Allah Yang Maha Kuasa, untuk kedua kalinya Takaza Rest dan Benteng Seluler komunitas menggelar bagi bagi takjil gratis kepada masyarakat pengguna jalan di Kota Payakumbuh.

Pembagian takjil kepada warga pada Jumat (24/05/2019) dipusatkan di depan Takaza Rest Jalan Soedirman Kota Payakumbuh, tepatnya di depan Lapas Kelas IIB Payakumbuh.  Setiap pengguna jalan mendapat 1 hingga 2 paket takjil yang sudah disiapkan Komunitas yang sering mangkal di Takaza Rest dan Benteng Seluler. 

Sebagaimana keterangan Ketua Pelaksana Bagi - Bagi Takjil Gratis, Adi Takaza kepada media sore itu, bahwa kegiatan bagi-bagi takjil gratis merupakan implementasi wujud syukur atas rezki dan nikmat sehat yang dikaruniakan Allah.

"Semua atas nikmat Allah, dan kami wujudkan dalam kegiatan seperti ini, meskipun hanya setahun sekali. Dan ini merupakan tahun yang kedua kami dari komunitas menggelar bagi-bagi takjil gratis. Semoga bermanfaat bagi masyarakat, khususnya yang sedang mendirikan puasa,"terang Owner Takaza Rest didampingi istrinya Eno Maharani.

Sementara, Ismail Benteng selaku owner Benteng Seluler menerangkan bahwa komunitas telah menyiapkan sebanyak 500 paket takjil untuk dibagikan seore itu.

"Pas pukul 18.00 Wib, sebanyak 500 paket takjil sudah kami distribusikan. Kami mengucapkan terima kasih kepada para pendukung dan donatur yang tidak bisa kami sebutkan. Insyaallah kegiatan ini tidak akan mengurangi isi kantong. Malahan akan menambah dari sudut dan kesempatan yang tidak kita ketahui. Wallahu a'lamu. Sekali lagi, terima kasih kepada semuanya,"imbuh Ismail yang akrab disapa 'Baraik' dalam komunitas ini.

Adalah, Abdul Manaf dari Pekanbaru merasa berterima kasih sekali ketika anggota komunitas membagikan takjil saat mobil yang dikendarai Abdul melintas di lokasi tersebut.

"Kami baru saja dari Kota Bukittingi hendak pulang ke Pekanbaru. Rencananya kami beserta keluarga akan berbuka di rumah makan di Lubuak Bangku. Namun karena macetnya kondisi jalan raya kemungkinan kami terlambat untuk sampai disana. Alhamdulillah ada takjil gratis ini. Semoga Allah memberkahi mereka. Terima kasih,"ungkapnya.(ul)

Sandiaga Uno mengatakan pertemuan Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kamis 24 Mei merupakan bagian dari komunikasi politik
IMPIANNEWS. COM (Jakarta)

Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengatakan pertemuan Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kamis 24 Mei merupakan bagian dari komunikasi politik pasca-Pemilu 2019.

"Prabowo menyampaikan langkah yang akan ditempuh sesuai dengan koridor undang-undang dan tahapan yang diatur konstitusi," kata Sandiaga di Jakarta seperti dikutip Antaranews, Jumat (24/5/2019).

Sandiaga mengatakan, Prabowo juga menyampaikan apa yang akan terus disampaikan kepada masyarakat adalah langkah-langkah ke depan harus tenteram, aman dan damai.

Selain itu, menurut dia, Prabowo juga menyampaikan bahwa ditemukannya dugaan berbagai penyimpangan dan kekecewaan masyarakat yang disuarakan melalui aksi damai, tidak akan menjadi salah satu penghambat masalah ekonomi.

"Ini menjadi komunikasi politik antara Prabowo dan JK dalam koridor harapan untuk kebaikan bangsa," ujarnya.

Namun, Sandiaga enggan berspekulasi apakah pertemuan Prabowo-JK merupakan langkah awal sebelum pertemuan antara Jokowi-Prabowo.

"Belum ada rencana ini (pertemuan Jokowi-Prabowo), hanya tentunya sebuah pertemuan yang dirancang untuk melakukan komunikasi sehingga tidak tersendat komunikasi langsung antara tokoh bangsa," katanya.

Sebelumnya, Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Maher Algadri mengatakan pertemuan antara JK dengan Prabowo dilakukan pada Kamis 24 Mei sore di sebuah tempat di Jakarta.

Menurut dia, pertemuan keduanya bukan untuk mengambil suatu keputusan namun hanya ingin mencairkan suasana dan mengecek seberapa jauh pandangan masing-masing pihak terkait Indonesia ke depan.


sumber : okezone


IMPIANNEWS.COM
Payakumbuh, --- Wakil Walikota Payakumbuh Erwin Yunaz sengaja alihkan 70 % Program buka puasa bersama warga pada bulan Ramadhan tahun 2019 ke mesjid. Dan hanya 30 % saja program buka puasa yang dipusatkan di rumah dinas.

Keterangan ini disampaikan langsung Wawako Erwin Yunaz saat buka puasa bersama jemaah Mesjid Gadang Balai Gadang kenagarian Koto Nan Gadang Kec. Payakumbuh Utara, Jumat (24/05/2019). 

"Ramadhan tahun dulu kita sengaja undang warga buka bersama di rumah dinas. Tapi tahun ini kita sengaja buat beda. pemerintah yang hadir bersama warga untuk buka puasa bersama. Besok direncanakan kita buka puasa dengan jemaah mesjid yang lain sebagaimana sudah dijadwalkan,"sebut Erwin Yunaz.

Dikatakannya, dengan turunnya pemerintah untuk bersilaturahmi lebih dekat dengan warga. Pemerintah bisa lebih mengetahui kondisi lapangan warga, khususnya kondisi jemaah mesjid. Kondisi ini nantinya akan menjadi nahan bagi pemerintah dalam pengambilan langkah dan kebijakan arah pembangunan.

Hadir bersilaturahmi dengan jemaah Mesjid Gadang Balai Gadang, Wawako Erwin Yunaz tampak didampingi Kabag Kesra Ul Fakhri , Camat Payakumbuh Utara, Nurdal. Rombongan disambut lurah setempat bersama jemaah mesjid.

Dalam arahannnya menjelang bedug berbuka, Wawako Erwin Yunaz mengharapkan jemaah agar mengoptimalkan sisa usia untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah,  apalagi di di bulan pernuh berkah, rahmah dan ampunan. 

"Kami sangat bahagia bersua dengan jemaah di bulan suci ini, mari kita raih keberkahan ramadhan. Marilah kita ramaikan dan makmurkan mesjid. Sayang sekali mesjid kita bangun megah dengan dana milyaran, tapi jemaahnya sedikit. Padahal di zaman Rasulullah SAW, mesjid bukan hanya sebagai pusat ibadah, tapi mesjid juga pusat perekonomian umat, pusat mengatur strategi. Meramaikan dan memakmurkan mesjid adalah tugas kita bersama, termasuk motivasi dari pemerintah,"imbau Erwin Yunaz sembari menyampaikan salam maaf dari Walikota yang tak sempat hadir dalam kesempatan berbahagia itu. 

Dikatakan, mesjid adalah tempat yang suci yang diisi dan melahirkan jemaah yang suci. Dimana jemaahnya suci dengan wuduknya, terjaga lisan dan pikiranya dari penyakut hati. Dari mesjid, lahirlah generasi hebat.

Untuk itu, mari kita optimalkan puasa dan qiyamul lail Ramadhan. Apalagi malam - malam penghujung Ramadhan, dimana didalamnya terdapat malam lailatul qadr. Jika kita beribadah di malam yang dirahasiakan Allah SWT ini sama dengan beribadah dalam 83 tahun. Itu hanya satu malam lailatul qadr. Lainnya, bulan Ramadhan adalah bulan makbul doa. Mari kita perbanyak doa. Semoga Allah SWT mengabulkan pinta kita,"ajaknya lagi.

Dipenghujung sambutannya, Erwin Yunaz meminta doa dan restu dari warga dan jemaah.

"Kami tak luput dari khilaf, untuk itu mohon doakan kami selalu amanah dalam menjalankan tugas. Semoga kegiatan yang kita gelar hari ini bisa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, dan meningkatkan ukhuwah islamiyah. Aamiin,"pungkas Erwin Yunaz.

Bedug berbuka berbunyi, jemaah langsung berbuka dengan yang manis dan shalat Magrib berjemaah.

Momen buka puasa bersama antara Pemko Payakumbuh dengan jemaah Mesjid Gadang Balai Gadang sebelumnya juga diawali dengan kuliah agama singkat yang disampaikan ustadz Abu Abdillah dari Payakumbuh.(ul)

        Oleh : 
Simon Syaefudin

Hujan rintik-rintik sejak pagi tak membuatku membatalkan niat untuk pergi ke Pasar Filipina di Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia. Aku mendengar informasi dari teman-temanku yang sudah pergi ke sana seperti Fatin Hamama, penyair asal Solok Sumbar dan Siti Rahmah, novelis asal Kinabalu Negeri Sabah bahwa masakan seafood di Pasar Filipina enak sekali. Harganya juga murah jika dibandingkan seafood di Mangga Dua dan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pasar Filipina, dinamakan demikian, karena memang para pedagangnya orang-orang Filipina. Mereka adalah para pengungsi yang lari dari Pulau Mindanau ketika terjadi peperangan antara angkatan bersenjata Filipina dengan Pejuang Muslim Moro di zaman Presiden Marcos. Mereka lebih memilih mengungsi ke Sabah dibanding ke Thailand atau Myanmar karena orang-orang Negeri Sabah beragama Islam, sama dengan agama orang-orang Moro. Pemerintah Negeri Sabah pun menerima pengungsi Moro dengan tangan terbuka.

Karena para pengungsi ini kebanyakan pelaut, Pemerintah Negeri Sabah membuat pelabuhan laut sekalian dengan tempat pelelangan ikan untuk para pengungsi agar bisa bekerja. Lebih jauh lagi, pemerintah Negeri Sabah membuat pasar khusus untuk kuliner ikan bakar di dekat tempat pelelangan ikan itu.

Ternyata berhasil. Pasar itu kini dikenal penduduk Kinabalu sebagai Pasar Filipina dan sekarang menjadi ikon wisata kuliner di Negeri Sabah. Turis-turis lokal maupun mancanegara sangat menyukai pasar ikan bakar itu karena di samping enak, harganya  murah. Kini Pasar Filipina sangat ramai, terutama di malam hari. Bukan hanya masyarakat Kinabalu yang datang untuk menikmati ikan bakar di Pasar Filipina, tapi juga orang-orang dari daerah lain yang jauh seperti Kuala Lumpur, Kedah, Terengganu bahkan orang Singapura.

Aku memang penggila seafood. Di Jakarta, hampir semua warung seafood sudah aku jelajahi, dari ujung ke ujung. Karena itu air liurku terasa asin bila membayangkan enaknya seafood di Pasar Filipina itu. Aku sempat berpikir kalau makan seafoodnya bareng ama mantanku, Metti Prameswari, alumnus UGM, pasti asyik. Beberapa kali aku makan seafood dengan dia di Kemayoran Jakarta sambil mengenang masa lalu yang tidak kesampaian. Maksudnya gak bisa pacaran selama kuliah di UGM. Setelah beberapa bulan sering bertemu di Jakarta, kami punya istilah pade – pacaran ketemu gede. Saat itu saya 34 tahun, dia 32. Pade setelah masing-masing berusia datita – diatas tiga puluh tahun. Metti masih cantik seperti dulu. Matanya seperti bule. Hidungnya seperti India. Alisnya seperti orang Uzbekiatan, agak melingkar. Dia bilang dulu sebenarnya naksir aku. Tapi gak berani ngomong. Sama sepertiku. Aku juga naksir dia. Tapi tak berani ngomong. Ya.sudah gak kesampaian. Sekarang, idep-idep balas dendam masa lalu, katanya. Aku juga mengiyakannya.

Fatin, sahabatku yang pinter buat puisi itu memberitahu bahwa Pasar Filipina sangat terkenal. Turis-turis manca negara bila ke Kinabalu pasti menyempatkan diri ke Pasar Filipina. Kata Fatin, ada satu seafood yang paling khas di Pasar Filipina. Namanya latoh. Sejenis rumput laut, tapi bentuknya mirip daun putri malu. Warnanya hijau transparan. Lotoi rebusan ini biasa dimakan sebagai lalapan. Rasanya ngekres tapi nggrinjel kaya makan bakso gepeng. Bener-bener membuatku penasaran. Cara makannya, latoh dicolek ke sambal, lalu dimakan. Seperti orang Jawa makan lalapan kangkung. Ouup... sambalnya sederhana. Tapi sedap sekali. Terbuat dari irisan cabe merah, sedikit terasi, dan air jeruk limau dan jeruk nipis. Maaf itu perkiraanku saja. Aku belum pernah bertanya kepada para pedagag ikan bakar di pasar Filipina bagaimana cara membuat sambal itu. Tapi rasa bsambal itu, amboi... nikmat sekali jika dimakan dengan ikan bakar.

“Aku selalu menyempatkan makan latoh kalau ke Kinabalu,” kata Fatin. Fatin adalah seorang penyair produktif asal Solok Panjang.

“Aku senang sekali lalapan latoh, rumput laut yang bentuknya benar-benar seperti pohon putri malu itu,” ungkap Fatin yang sudah sering pergi ke Kinabalu. Cerita Fatin tentang latoh itu dibenarkan Rahmah, temannya, wanita asli dari Kinabalu.

“Kak Simon harus pergi ke Pasar Filipina jika ingin merasakan makanan khas kota atas bayu ini,” kata Rahmah dengan suara jernihnya. Rahmah memanggil aku kakak, karena merasa lebih muda satu minggu dariku. Aku dan Rahmah lahir di tahun yang sama bulan Juli, Cuma beda tanggalnya. Aku tanggal 15, Rahmah tanggal 22. Hanya beda seminggu saja. Waktu kami berbincang di Tugu Double Six Kinabalu, Rahmah mengaku sudah punya cucu. Dalam batin, aku juga harusnya punya cucu. Tapi karena nikahnya terlambat, gak laku-laku, jadi anak-anakku masih kecil-kecil. Yang sulung saja masih kuliah.

“Kak Simon punya cucu belum?” tanya Rahmah.

“Belum,” jawabku. “Aku nikah usia tua, 35 tahun, Cik Rahmah. Akibatnya anakku yang tertua saja masih kuliah tahun ketiga di universitas. Belum menikah. Jadi punya cucunya masih lama,” kataku. Cik Rahmah hanya tersenyum mendengar penjelasanku.

“Kak Simon pastilah seorang pengarang jenius karena lahir di bulan Juli. Pengarang, arsitek, ilmuwan besar rata-rata lahir di bulan Juli,’ ujar Cik Rahmah. “Secara astrologis orang-orang berbintang Cancer itu imajinasinya tinggi,” tambahnya.

“Ah ada-ada saja Cik Rahmah. Aku kurang percaya pada astrologi.” Meski aku kurang percaya, tapi aku mengangguk-angguk. Sepertinya ada sesuatu yang benar yang dikatakan Cik Rahmah. Setidak-tidaknya, apa yang dinyatakan Cik Rahmah itu sedikit ada buktinya. Emha Ainun Najib, penyair dan seniman yang sangat aku kagumi memang berbintang Cancer. Begitu juga begawan teknologi Indonesia, BJ Habibie berbintang Cancer. Keduanya lahir bulan Juli.

Cik Rahmah bercerita bahwa dia sudah menulis puisi sejak usia belasan tahun. Sampai saat ini ratusan cerpen, novel, dan puisi sudah ditulisnya. Beberapa cerpennya menjadi buku ajar di sekolah-sekolah negeri di Sabah. Dan sampai sekarang Cik Rahmah masih rajin menulis.

“Aku akan berhenti menulis kalau tanganku tidak bisa digerakkan lagi. Aku hanya berhenti menulis kalau usia menjemputku,” ungkap Cik Rahmah. Luar biasa. Aku jadi iri dengan Cik Rahmah. Dalam batin, aku beruntung bisa berkenalan dengan sastrawan hebat ini. Semoga aku ketularan kreativitas Cik Rahmah. Meski usianya menjelang 60 tahun, ia kelihatan masih cantik. Kulitya belum keriput. Matanya masih tajam, menunjukkan semangat hidupnya yang menyala-nyala. Cik Rahmah memang wanita super yang perlu dicontoh.

*****
Simong San.... Simong San....
Aku kaget. Telingaku mendengar ada wanita memanggil-manggil nama Simong San sampai dua kali. Saat itu aku sedang asyik melihat suguhan ikan bakar baronang dan udang macan, sehingga tak terlalu peduli dengan suara yang memanggil-manggil nama Simong San.

Tapi setelah berpikir agak lama, aku penasaran juga. Siapa wanita yang memanggil-manggil nama Simong San ini? Kok suaranya bukan cengkok Melayu? Suaranya lembut mengingatkan suara gadis-gadis Jepang waktu aku menonton film di tivi Hiroshima. Kuhentikan mencowel sambal asam untuk makan lalapan latoh. Aku tengok kiri kanan.

Ouh.. aku terkesiap. Mataku terbelalak! Ternyata ada wanita berhijab di sebelah kananku. Ia berdiri sejauh 5 meter dari tempat dudukku di kedai bakar ikan Pasar Filipina. Apakah wanita itu yang tadi memanggil manggil nama Simong San?
Aku perhatikan wajahnya. Ternyata wanita ini bukan orang Melayu. Meski pakai jilbab, masih terlihat bentuk wajah dan kulitnya bukan orang Malaysia atau Indonesia. Kulitnya kuning langsat, matanya sipit, bibirnya tipis, dan dagunya agak lancip. Mirip orang Jepang. Aku melirik sekilas pada wanita berhijab itu.

Tiba-tiba perasaanku aneh. Kayaknya wajah wanita berhijab ini pernah aku kenal. Tapi di mana ya? batinku. Pikiranku melayang jauh 25 tahun lalu. Oh ya, aku jadi ingat lagi, orang Jepang kalau panggil aku Simong. Simong San.

Kata Simon diucapkan Simong. Sedangkan kata San adalah sebutan hormat, semacam bang di Jakarta. Kalau di Mesir, kapten atau ammu. Di Cirebon kang. Di Yogya mas. Di Bali bli.

Aku terdiam. Aku berpikir, jangan-jangan wanita cantik bermata sipit ini yang tadi memanggil-manggil nama Simong San. Apakah aku yang dipanggil? Jika benar aku, kenal dari mana dia denganku? Aku makin penasaran. Aku jadi ingat, teman-teman Jepangku dulu di Tokyo dan Hiroshima kalau manggil aku Simong San. Tapi mana ada wanita Jepang berhijab? Itulah yang membuat aku makin penasaran.

Kuhentikan lidahku yang sedang mengunyah latoh. Pikiranku mengembara ke masa silam, 25 tahun lalu. Aku sepertinya mengenal perempuan paruh baya yang berhijab ini. Cuma aku tak berani mendekatinya untuk bertanya, apakah dia yang tadi memanggil nama Simong San? Ketika hatiku sedang bergejolak diterjang fantasi masa lalu, tiba-tiba wanita berhijab bermata sipit itu mendekatiku. Aku makin kaget.

“Simong San. Do you still remember me?” katanya seraya mendekat ke arahku. Kini jarak antara perempuan berhijab itu denganku hanya satu meter. Aku benar-benar kaget. Tekejut. Kok dia berani menanyakan apakah aku masih mengingatnya?

“Pardon...madam. Who are you?” kataku agak gelagapan ketika wanita berkulit kuning langsat itu menanyakan apa aku masih ingat kepadanya. Makan latoh pun aku hentikan. Aku fokus pada perempuan  berwajah Jepang ini.

“I am Ayumi,” katanya sambil senyum.

“Haa? “Are you Ayumi?” Aku gelagapan. Aku kaget bukan main. Hampir-hampir lalapan latoh yang masih ada sedikit di mulutku terlontar keluar.

Aku langsung berdiri. Aku langsung mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Ayumi langsung menyambut tanganku. Tangan kami seolah tidak mau lepas. Sambil aku guncang tangan Ayumi, aku tak sadar berkali-kali mengucapkan ...Ayumi .... Ayumi... Ayumi.

“I still remember you. I can’t forget you, Ayumi San. You are always in my heart!” kataku. Ayumi tersenyum. Ia juga kaget kalau aku katakan tak pernah melupakannya.

“How is your mother Akemi San and your father Suzuki San?”

“Baik-baik. Mereka sehat, arhamdurirah,” katanya.

Aku makin kaget lagi. “Kau bisa bahasa Melayu,” tanyaku. Ayumi mengangguk. “Aku sekarang jadi orang Merayu,” katanya. Suamiku orang Maraisia.

Lidah orang Jepang memang sulit menyebut huruf l (el). Kata Melayu, ia sebut Merayu. Alhamdulilah, menjadi arhamdurirah. Aku memakluminya ketika Ayumi menyatakan kalimat alhamdulillah dengan arhamdurirah. Maklum lidah Jepang. Tapi lama-lama, aku yakin lidahnya bisa menyesuaikan dengan lidah Melayu.

Aku kenal Ayumi, 25 tahun lalu saat mengikuti Program Persahabatan Indonesia Jepang Abad 21. Program tersebut diselenggarakan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk membangun persahabatan antara pemuda Indonesia dan Jepang. Pesertanya para pemuda berprestasi. Pemuda teladan, aktivis lembaga sosial, penulis, pegawai negeri berprestasi, dan lain-lain. Aku terpilih sebagai penulis kolom yang dianggap berprestasi. Saat itu, aku menjadi juara pertama lomba menulis se-Indonesia dalam rangka peringatan 100 Tahun Arsip Nasional. Di samping uang, hadiahnya diikutkan program persahabatan Indonesia-Jepang.

Selama di Jepang, sebulan penuh, para peserta diperkenalkan berbagai kebudayaan Jepang. Terus dilibatkan dalam diskusi tentang peran pemuda abad ke-21 dengan para pemuda dan tokoh intelektual Jepang. Peserta juga dibawa ke tempat-tempat wisata Jepang di Kyoto, Hiroshima, Okinawa, dan kota-kota wisata lain. Kemudian ada program home stay selama tiga hari di rumah orang Jepang. Tujuannya agar pemuda Indonesia bisa menghayati bagaimana kehidupan orang Jepang sehari-hari on the spot langsung.

Nah, ketika program home stay inilah aku kenal Ayumi. Aku tinggal di rumah Keluarga Suzuki, seorang kontraktor di Hiroshima. Istrinya, Akemi. Keluarga Suzuki punya dua anak. Yang sulung Ayumi. Adiknya, lelaki, Amida. Ayumi saat itu kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Inggris Hiroshima University tahun keempat. Usianya saat itu 22 tahun. Amida masih SMA.

Sebelum menginap di rumah orang Jepang, pihak JICA sudah memberi tahu sedikit bagaimana cara hidup orang Jepang. Pertama, kalau masuk ke rumah orang Jepang, sepatu harus diletakkan dengan rapi. Setelah dicopot, sepatu diletakkan dengan ujungnya menghadap ke luar rumah. Kedua jangan sekali-kali berbuat tidak senonoh kepada wanita Jepang. Itu bisa dianggap pelecehan seksual dan hukumannya sangat berat. Ketiga harus memberikan omiyage kepada keluarga yang akan ditempati (home stay) untuk mempererat persaudaraan. Omiyage adalah semacam hadiah atau oleh-oleh bila orang Jepang berkunjung atau menemui keluarga atau temannya. Omiyage ini seperti wajib untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Saat itu aku membawa omiyage wayang kulit dan batik Trusmi. Aku membelinya di Cirebon. Aku juga membawa bumbu masak nasi goreng. Keluarga Suzuki senang sekali dengan omiyage yang aku berikan. Apalagi ketika aku masak nasi goreng. Ayumi suka sekali masakanku. “Oishi.. oishi,” kata Ayumi. Enak, katanya.

Aku heran, keluarga Suzuki baik sekali padaku. Padahal yang tinggal di rumah Suzuki, dua orang. Aku dan Handri. Tapi, Suzuki, Akemi, dan Ayumi sangat mengistimewakan aku.

“Simong itu lucu. Banyak cerita hal-hal yang mengasikkan,” kata Ayumi dalam bahasa Inggris terpatah-patah. Akemi juga menyatakan hal sama. “Kehadiran Simong di rumah sangat menghibur kami,” katanya. Aku memang sebelum home stay sudah mengumpulkan cerita-cerita lucu. Bahasa Jepang sedikit-sedikit aku pelajari. Nama-nama pemain bola Jepang saat itu seperti Kenichi, Suzuki, dan Hiroshi juga aku hapal. Aku yakin obrolan tentang sepak bola akan mengakrabkan aku dengan tuan rumah. Sedangkan Handri diam saja. Ia lebih banyak unggah-ungguh. Maklumlah Handri orang Jawa dari Semarang. Sangat pemalu.

Ayumi saat itu suka denganku. Ia mengajak aku keliling kota Hiroshima dengan mobil Audi warna merah. Masyarakat Jepang tahu, kalau mobilnya buatan Jerman, itu simbol orang kaya. Ayumi memang anak orang kaya, kontraktor besar.

Ayumi mengajak aku, naik mobil Audi merah ke Miyajima, tempat wisata terkenal di Hiroshima. Di sana ada kuil di pinggir laut. Kalau musim pasang laut, kuil itu terendam. Di kuil ini ada pohon cemara berusia dua ratus tahun. Aku juga diajak Ayumi melihat jembatan Kintakiyo – jembatan kuno yang semuanya terbuat dari kayu. Tak lupa, Ayumi membawaku melihat musium bom atom di kota Hiroshima dan naik trem yang mengitari kota. Seharian aku jalan-jalan dengan Ayumi, hanya berdua. Handri tidak diajak. Entah kenapa, Ayumi hanya mau berjalan denganku. Sedangkan Handri pergi bersama orang tua Ayumi. Kata Handri, ia diajak Suzuki ke pasar seni yang menjual barang-barang antik di kota Hiroshima. Suzuki tahu kalau Handri adalah seniman.

Di hari ketiga, menjelang kepulanganku dari Hiroshima, aku duduk-duduk di ruang tengah. Saat itu pukul sebelas malam. Handri sudah tidur di atas tatami. Suara dengkurnya terdengar keras, menandakan dia tidur pulas. Tapi aku masih belum tidur. Nonton tivi bersama Ayumi. Pas ketika jarum jam menunjukkan angka dua belas waktu setempat, Ayumi memaggilku masuk ruangan.

“Simong San suka menonton film?” kata Ayumi. Sebagai tamu aku bilang saja iya, tak berani menolak. Aku pun masuk ruangan itu. Ternyata semacam teater kecil. Ada tivi layar lebar, sound sistem bersuara keras, dan sofa warna biru yang empuk. Ayumi langsung memasukkan disk film Pretty Woman yang dibintangi Richard Gere dan Julia Roberts. Meski aku sudah menonton film itu di Jakarta, aku bilang kepada Ayumi belum pernah nonton film Pretty Woman agar Ayumi tidak kecewa.

Mulanya aku asyik menonton film itu. Lama-lama, keasyikanku terganggu. Duduk Ayumi di sofa makin dekat denganku. Dengan hanya memakai celana pendek dan kaos you can see warna merah jambu, Ayumi terus mendekatkan diri ke tempat dudukku.

Wah gimana nih, aku bingung. Aku bisa tergoda dengan gadis Jepang yang cantik berkulit kuning langsat ini. Aku pura-pura bodoh. Aku pura-pura asyik nonton film. Padahal hatiku dag dig dug melihat pakaian Ayumi yang serba minim. Aku masih ingat nasehat Pak AR Fachrudin, bapak kosku waktu kuliah di Yogya. Jangan dekati perbuatan zina, kata Pak AR. Aku masih terngiang kata-katanya. Dalam batin, tidak... tidak, aku tidak akan menyentuh Ayumi, meski tubuhnya yang wangi sudah sangat dekat denganku.

“Sorry Ayumi, I am sleepy,” kataku ketika Ayumi terlihat sudah mulai mendongakkan wajahnya di sampingku supaya aku menciumnya. Sorry, aku sudah mengantuk Ayumi. Ayumi rupanya kaget. Mungkin karena aku tidak meresponnya, padahal ia sudah pasrah, mau diapakan saja olehku.

“Oh sorry Simong San. Maybe you are tired,” katanya. Maaf Simong, mungkin anda sudah capai, kata Ayumi. Ayumi pun mengantarkan aku ke kamar tidur yang sudah disediakan. Handri sudah terlelap. Yang terdengar hanya dengkurnya. Aku pun pura-pura segera tidur. Lalu Ayumi pergi ke kamar sebelah, kamar tidurnya.

Malam itu, aku tak bisa tidur. Wajah Ayumi terbayang-bayang terus. Apalagi ketika nonton film di ruang teater mini dengan busana sangat seksi. “Tidak. Tidak. Aku tak boleh ingat itu,” batinku sambil mengingat nasehat Pak AR Fachrudin. Siang harinya, aku berpamitan karena harus berkumpul dengan teman-teman dari Indonesia yang baru selesai home stay. Tapi malamnya kami masih harus bermalam di Hiroshima sekalian menghadiri acara farewell party di hotel Hiroden dengan “induk semang” tempat kami tinggal selama tiga hari di Hiroshima.

Acara farewell party cukup meriah. Suzuki, Akemi, dan Ayumi datang ke acara farewell party yang dilaksanakan JICA. Ayumi memakai busana merah jambu. Merah jambu ini mungkin warna favorit Ayumi. Dengan rok panjang warna merah jambu dan sepatu hak tinggi, Ayumi kelihatan anggun.

Selama acara farewell party di lantai dua Hotel Hiroden, Ayumi menggandeng tanganku. Mesra. Tak peduli bapaknya, Suzuki San, meledeknya. Ia bilang kepada Ayumi, Simong San sudah punya pacar di Indonesia. Tapi Ayumi tak peduli.

Suzuki San memang pria yang lucu dan humoris. Suka ngledek orang. Handri, teman satu kamar di hotel Hiroden dan di rumah Suzuki, juga pernah diledeknya. Kata Suzuki, Handri mirip Akira Kurosawa, sutradara film terkenal Seven Samurai itu. Suzuki tahu dari biografi Handri yang diberikan JICA, kalau pemuda dari Semarang itu punya cita-cita jadi sutradara film. Dipuji seperti itu Handri hanya senyum-senyum. Mungkin malu karena sebetulnya wajah dia tidak mirip sama sekali dengan Akira Kurosawa. Kalau saya tatap, wajah Handri mirip Teru Miyamoto, penulis novel Maboroshi no Hikari.

Usai acara farewell party di hotel Hiroden, Hiroshima City, aku pun masuk kamar. Aku capek setelah membereskan semua barang-barang, baju, celana, dan lain-lain untuk kembali ke Tokyo. Jam sepuluh malam, setelah acara usai, aku pun tidur-tiduran di kamar. Membaca koran Hiroshima Daily, agar cepat kantuk.

Tiba-tiba ...tok..tok..tok. Ada orang yang mengetuk pintu kamarku. Ouh...ternyata Ayumi. Ia pun masuk kamarku. Tanpa kuduga sebelumnya, ia memelukku erat-erat seakan-akan orang yang rindu kepada pacarnya setelah tidak bertemu selama lima tahun. Ayumi menangis. Aku diam saja. Lalu Ayumi mengeluarkan sebuah poscard warna merah jambu yang berisi tulisan: I love you Simon. Aku pun kaget luar biasa. Ternyata gadis Jepang itu menyintaiku. Aku? Pikiranku tak karuan. Cinta memang tak tak kenal batasan bahasa, kulit, dan ras. Cinta adalah cinta. Cinta bagaikan sinar matahari yang menerangi bumi. Tanpa pamrih. Tanpa bisa dicegah.

Poscard merah jambu itu aku genggam dan kutempelkan di dada sambil memandang Ayumi. “I love you too,” jawabku. Ayumi tersenyum. Lalu memelukku. Aku ingat nasehat Pak AR sehingga aku pun segera melepaskan pelukan Ayumi. “Sorry Simong, I miss you. I love you,” kata Ayumi dengan suara lembut.

******

Kini Ayumi berada di hadapanku di Pasar Filipina, Negeri Sabah. Usianya sudah menua, tapi gurat-gurat kecantikannya masih terlihat.

“Sekarang tinggal di mana Ayumi,” tanyaku.

“Aku tinggal di Kinabalu. Ia pun memberikan kartu penduduk. Namanya tertulis Ayumi Matlani.
Aku kaget. Matlani? Siapakah suami Ayumi? Aku tahu Matlani adalah nama khas Melayu. Seperti nama Sabeni di Betawi. Aku jadi ingat Jasni Matlani, nama Presiden Badan Bahasa dan Sastra Negeri Sabah yang ramah dan humoris itu. Ketika aku usai membaca puisi di kampus Institut Keguruan dan Pendidikan di Kinabalu, Jasni Matlani menepuk bahuku sambil memuji, bagus puisimu Simon! Senang aku dipuji penyair dan novelis top Negeri Sabah itu.

“Kenapa nama belakangmu Matlani?” tanyaku kaget pada Ayumi.

“Suamiku sekarang orang dari Negeri Sabah. Namanya Muhammad Azis Matrani,” jawab Ayumi. Maksudnya Muhammad Azis Matlani. Aku terhenyak. Ooh Ayumi, gumamku tanpa sadar.

“Jadi kamu sekarang beragama Islam sehingga memakai hijab?” tanyaku penasaran.

“Ya Simong, aku sekarang musrimah. Suamiku memintaku memakai hijab sebagai ciri wanita musrimah. Suamiku sudah mengajarku membaca ayat-ayat ar-Qur’an dan pelajaran hadist,” jelas Ayumi.

Ayumi pun aku minta duduk di sebelahku, ikut makan ikan bakar dan lalapan latoh. Aku pesan cumi, ikan kerapu, dan udang macan bakar untuk Ayumi. Minumnya aku pesan orange juice, kesukaan Ayumi waktu di Jepang.

“Bagaimana suamimu dulu,” tanyaku. Aku tahu Ayumi sudah bersuami karena sebelum menikah ia bercerita melalui surat kepadaku bahwa ayahnya memaksa menikah dengan seorang bankir. Suzuki San ingin Ayumi menikah dengan orang kaya. Padahal Ayumi pernah menyatakan dalam suratnya, siap menikah denganku. Tapi karena desakan ayahnya, akhirnya dia terpaksa menikah dengan bankir itu.

“Aku sudah pisah dengan suamiku. Aku tak tahan karena suamiku suka mabuk. Dia peminum berat. Jadinya kasar dan suka menyakitiku. Aku tak tahan dan lari,” cerita Ayumi dengan wajah sendu dalam bahasa Inggris.

“Simong San, sebetulnya aku ingin menikah dengan orang Merayu seperti Indonesia atau Maraiysia. Makanya aku berusaha mendekatimu waktu di Hiroshima. Aku diberitahu teman-temanku yang sudah menikah dengan orang Indonesia bahwa orang Indonesia tidak suka minuman keras. Orang Indonesia juga tidak suka pesta. Agama yang dianutnya melarang orang minum minuman keras dan pesta dansa,” Ayumi menjelaskannya dengan wajah tertunduk. Aku pun ikut prihatin, kasihan mendengarnya.

“Tapi Simong tahu sendiri kan. Orang Jepang itu sangat materialistis. Semuanya diukur dengan uang dan kekayaan. Itulah sebabnya, ayahku meminta aku menikah dengan bankir yang kaya,” tutur Ayumi.

Aku diam. Sesekali tanganku mengorek-ngorek ikan bakar yang masih hangat belum kumakan. Ayumi aku minta meneguk minuman jus jeruknya. Ia pun minum jus warna kuning itu dengan pelan-pelan.

“Ayo dimakan ikan bakarnya, Ayumi. Jangan diam saja,” kataku. Ayumi mengambil ikan bakar. Ia pun mengambil latoh, kemudian mencowelnya dengan sambal asam khas buatan pengungsi Filipina itu. Ayumi kelihatan menikmatinya. Rupanya ia sudah tahu latoh duluan ketimbang aku karena sudah tiga tahun tinggal di Kinabalu.

“Aku punya anak satu, perempuan,” cerita Ayumi. Namanya Duriam Muhammad. Maksudnya Duliam Muhammad. Sengaja aku beri nama khas Merayu agar menyatu dengan kebudayaan setempat, ujar Ayumi yang mulai menyenangi kebudayaan Melayu. Aku bahagia menikah dengan Datuk Muhammad. Ia baik, salatnya rajin, dan sayang pada istri dan anak. Aku bersyukur kepada Tuhan mendapat suami orang Merayu, lanjut Ayumi dengan mata berbinar.

“Simong San sendiri punya anak berapa?” tanya Ayumi.

“Empat,” jawabku.

“Ouuh,” Ayumi kaget. “Banyak sekali anaknya. Di Jepang orang tak berani punya anak lebih dari dua. Bahkan mereka lebih suka punya anak satu atau tidak punya anak sama sekali,” jelasnya. “Malahan sekarang gadis-gadis Jepang lebih suka tidak menikah. Menikah dianggapnya merepotkan. Tidak bebas,” tambah Ayumi pakai bahasa Inggris.

“Bagaimana dengan masa tuanya,” tanyaku.

“Kan ada panti jompo. Pemerintah Jepang memotong gaji setiap karyawan untuk bayar asuransi hari tua. Jadi mereka tidak perlu repot. Di panti jompo fasilitasnya bagus. Ada orang yang mengurusnya,” jelas Ayumi.

Ayumi asik bercerita masa lalunya kepadaku. Tentang kuil Miyajima yang sekarang sering terendam air laut. Jembatan Kintakiyo yang sudah mulai rapuh. Tentang kota Hiroshima yang penduduknya makin berkurang. Populasi penduduk Jepang memang akhir-akhir ini berkurang terus. Hal ini terjadi karena gadis-gadis Jepang lebih suka hidup sendiri ketimbang berkeluarga.

“Simong, aku harus pulang. Sudah jam tujuh petang. Suamiku menunggu. Maaf ya. Rumahku dekat dari sini. Hanya satu kilo meter. Aku ke pasar Firipina hanya mau beli udang macan. Suamiku sangat menyuakinya,” kata Ayumi dengan suara lembut.

“Oke Ayumi. Jaga baik-baik ya. Hati-hati di jalan. Salam untuk suamimu,” kataku masih terkaget-kaget karena tak menduga bisa bertemu mantanku di Kinabalu.

“Assaramuaraikum,” kata Ayumi mengucapkan salam sebelum pergi.

“Waalaikum salam,” aku membalas salam Ayumi. Ayumi pun melambaikan tangan.

Hujan rintik-rintik belum berhenti dari pagi sampai malam di Kinabalu. Aku melihat Ayumi berjalan ke tempat parkir mobil. Tubuhnya yang tinggi semampai masih tetap seperti dulu. Rambutnya yang pirang kini tertutup hijab. Seperti tak percaya kejadian itu, aku bergumam – Tuhan telah menunjukkan keajaiban di Kinabalu kepadaku. Dipertemukan dengan wanita Jepang yang pernah aku cintai.

Dalam hati aku berdoa, Ya Allah bahagiakan Ayumi dan berkahilah keluarganya. Aku bahagia Ayumi mendapat suami orang Melayu yang dicita-citakannya.

Titik-titik air mata bahagia tak terasa membasahi kelopak mataku. Hujan rintik-rintik yang tak berhenti membasahi Kota Atas Bayu hari itu seakan  ikut membasahi hatiku. Aku bahagia jika Ayumi bahagia. Subhanallah! Tuhan telah menunjukkan kekuasaannya mengatur kehidupan manusia, bisik batinku. Allah Maha Besar. (*)

IMPIANNEWS.COM (Jakarta).

Beredar sebuah video aksi persekusi terhadap jurnalis televisi RTV saat meliput Aksi 22 Mei di Jembatan Jati Baru, Jakarta Pusat. Massa aksi mendorong sang jurnalis dan kamera yang digunakan untuk proses liputan.

Video tersebut diunggah melalui akun Twitter @feyzheng. Dalam video hasil rekaman jurnalis RTV itu tampak massa aksi meneriaki jurnalis dan mendorong sang reporter.

"Ini hanya salah satu dari beberapa jurnalis yang mengalami persekusi saat liputan Aksi 22 Mei. lokasi: Jembatan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta Pusat," tulis akun itu seperti

 dikutip Suara.com, Jumat (24/5/2019).
Dalam video singkat berdurasi 28 detik tersebut tampak seorang reporter dari RTV sedang melakukan siaran di Jembatan Jati Baru. Tiba-tiba sejumlah massa aksi yang berada tak jauh dari reporter langsung meneriaki sang reporter dan juru kamera.

"Hoaks, hoaks!" teriak massa aksi.
Mereka pun mendekati sang reporter dan meneriaki kata 'Hoaks' tepat di samping reporter sambil bertepuk tangan. Massa aksi pun langsung mengepung reporter dan juru kamera.

Awalnya sang reporter wanita ini masih berusaha tersenyum dan tampak tenang, ia berusaha melanjutkan siaran. Namun, massa aksi justru mendorong sang reporter dan kamera yang digunakan untuk siaran tersebut.

Ada pula massa aksi 22 Mei yang langsung muncul ke depan kamera sambil mengacungkan salam dua jari di hadapan kamera. Beberapa massa aksi juga meminta agar kedua jurnalis tersebut menghentikan proses peliputan.

Video hasil rekaman dari kamera RTV ini pun mendadak viral. Banyak warganet yang mengaku geram dengan aksi para massa yang telah melanggar Undang Undang mengenai kebebasan pers di Indonesia.

"Hebat mba reporternya. Salut mbanya masih berusaha tenang. Buat yang teriak-teriak hoax hoax dan kasar serta teriak-teriak, kalian semua beraninya ramai-ramai. Coba kalau sendirian berani nggak kayak gitu. Mudah-mudahan kalian terciduk dan ditangkap biar kapok," kata @xiaomochi.

"Semangat para jurnalis, terima kasih sudah mau berani dan ikut ambil dalam menyampaikan informasi terkini. Salut buat kalian semua para jurnalis," ungkap @coachellason_.

"Apa gue doang yang merasa itu orang-orang kayak gak punya adab, pers diperlakukan seperti musuh malah makin kelihatan siapa yang beradab siapa yang biadab," ujar @tabulhunter.

"Acara live dibilang hoax, kasihan mereka tidak paham mana hoax mana berita. Ini perlu pembelajaran," tutur @ajimulyaji2.

"Yang kayak begini kah yang mereka banggakan sampai lupa pulang? Modakl teriak gak jelas di jalan, gak peduli siapa dan apa yang diteriakin. Kesenggol dikit nyalahin lupa apa tujuannya mati sangit?" ungkap @nyonyaabayu.

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.