Oleh : Amy Sarahza
Fenomena downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup tengah ramai diperbincangkan di media sosial seperti Threads. Sejumlah warganet membagikan pengalaman mereka yang terpaksa mengubah kebiasaan sehari-hari, mulai dari mengganti produk dengan merek lebih murah, menjual kendaraan, hingga menerima pekerjaan dengan gaji jauh lebih rendah.
Fenomena ini mencuri perhatian setelah berbagai akun Threads mengajak warganet menceritakan perubahan gaya hidup yang mereka alami di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Perekonomian kita sedang tidak baik-baik saja, ini terlihat dari berbagai permasalahan ekonomi yang muncul ditengah masyarakat umum. Keterpurukan ekonomi ini dirasakan semua kalangan mulai dari masyarakat kelas bawah sampai kelas menengah ke atas. Salah satu yang lagi hangat diperbincangkan dikalangan menengah atas adalah fenomena downgrade lifestyle atau menurunkan standar gaya hidup, mengapa fenomena ini bisa terjadi?
Ketidakseimbangan Pendapatan dan Inflasi
Tidak dimungkiri, beberapa tahun ini keterpurukan ekonomi dirasakan semua rakyat, mulai dari ekonomi kelas bawah, menengah sampai atas terkena imbasnya. Harga bahan pokok yang terus meroket, kenaikan harga BBM ,PHK massal, efisiensi dilingkungan pekerjaan, dan inflasi yang terjadi tidak serta-merta membuat pendapatan naik. Justru pertumbuhan pendapatan dan upah tidak mengalami perubahan. Bagaimana bisa dengan pendapatan yang tetap sama, sedangkan untuk pengeluaran mengalami kenaikan disegala lini. Karena kondisi ini lah dengan sadar atau terpaksa rakyat yang ekonomi menengah memutuskan untuk meminimalisir atau downgrade lifestyle mereka agar bisa terus bertahan ditengah ketidakpastian ekonomi yang terjadi.
Tekanan Kelas Menengah
Masyarakat kelas menengah merupakan kelompok yang paling rentan terhadap penurunan daya beli ( turun kelas ). Yang mereka lakukan biasnya dimulai dari mengubah moda transportasi yang mereka gunakan, yang biasa pake mobil beralih ke motor, bahkan bisa beralih ke tranportasi umum. Yang biasa menggunakan Pertamax turbo bisa beralih ke Pertamax biasa atau bahkan beralih ke pertalite. Yang biasa seminggu bisa beberapa kali makan diluar atau nongkrong dicafe, sekarang diganti seminggu sekali atau 2 Minggu sekali saja. Bahkan ad yang jadi rajin masak dan makan dirumah. Menganti produk yang mahal dan kualitas terbaik, diganti dengan yang lebih murah. Bahkan ada yang rela menjual barang-barang kesayangan misalnya mobil. Para ahli menilai tindakan ini bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup (survival strategy) agar kebutuhan inti tetap terpenuhi.
Dalam pandangan ekonomi Islam dan sejarah pemerintahan Islam (Daulah Islam), keterpurukan ekonomi dan inflasi diatasi melalui kombinasi kebijakan moneter, fiskal, dan moral.
1. Kebijakan Moneter dan Standar Nilai Uang
Penggunaan Mata Uang Riil (Dinar dan Dirham), Daulah Islam secara historis menggunakan mata uang berbasis logam mulia (emas/dinar dan perak/dirham) yang memiliki nilai intrinsik. Hal ini mencegah penurunan nilai uang yang liar akibat pencetakan uang kertas tanpa jaminan (fiat money). Selain itu, dalam konsep ekonomi Islam, pencetakan uang dikendalikan secara ketat agar hanya mengikuti kebutuhan riil transaksi di pasar, bukan untuk menutupi defisit anggaran pemerintah.
Didukung juga dengan larangan riba dan perbankan, menghilangkan praktik bunga dan sistem perbankan cadangan fraksional (fractional reserve banking) yang menciptakan uang beredar berlebihan tanpa didukung sektor riil.
2. Kebijakan Fiskal dan Pengelolaan Anggaran
Optimalisasi Instrumen Zakat, Infak, dan Sedekah: Zakat ditarik secara proporsional dan didistribusikan langsung kepada kelompok yang berhak (ashnaf). Ini berfungsi sebagai jaring pengaman sosial (social safety net) yang menjaga daya beli masyarakat kelas bawah saat krisis. Pendayagunaan Wakaf Produktif, aset wakaf dikelola untuk membiayai fasilitas publik, pendidikan, dan kesehatan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Baitul Mal).
Sumber Pendapatan Negara yang Beragam, Baitul Mal mengelola berbagai pos pendapatan yang adil, seperti kharaj (pajak hasil tanah), jizyah, ghanimah, dan pengelolaan sumber daya alam untuk kepentingan umum (Kolektivisme Publik).
3. Stabilisasi Sektor Riil dan Pengendalian Harga
Mendorong Investasi pada Sektor Riil dengan cara, dana yang mengendap (idle funds) didorong masuk ke dalam bentuk kerja sama bisnis yang produktif seperti mudharabah (bagi hasil) dan musyarakah, sehingga meningkatkan suplai barang dan jasa di pasaran. Dalam Daulah Islam, pemerintah menjamin kebebasan pasar yang sehat, namun akan melakukan intervensi (tas'ir atau pengawasan harga) jika terjadi penimbunan (ihtikar) atau manipulasi pasar yang memicu lonjakan harga.
4. Pendekatan Spiritual dan Etika Individu
Dalam Islam berbisnis pun ada adab dan etika nya, Allah SWT Melarang kecurangan dalam takaran, sebagaimana firman Allah SWT:
وَيْل
لِّلْمُطَفِّفِينَ ۙ
الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۙ
وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ۙ
Artinya: Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!,(Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan,
dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi". ( QS. Al muthafifin 1-3)
selain kecurangan dalam takaran, spekulasi berlebihan (maysir), serta penimbunan barang pokok yang memperparah inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation)juga dilarang dalam Islam.
Dalam Islam juga diajarkan gaya hidup qanaah ( sederhana), sehingga mendorong masyarakat untuk menahan konsumsi yang berlebihan (tabdzir) dan mengalihkan dana ke kegiatan bermanfaat atau sektor produktif.
Sistem ekonomi yang sehat, anti inflasi dan sesuai syariat akan bisa diimplementasikan dalam negara yang berideologi Islam dengan institusi global bernama khilafah Islamiyyah. Rakyat akan benar-benar merasakan ekonomi yang adil dan hidup sejahtera dengan kepemimpinan khilafah yang akan meriayah seluruh rakyat nya.
Wallahu'alam bisawab.
