Sadar gak sih? sebagai anak muda terutama Gen Z seperti kita, terkadang atau mungkin sering berada di titik lebih memilih sudut pandang (PoV) pribadi daripada mendengarkan orang tua, guru, dsb dalam mempersepsikan realitas kehidupan. Karena bisa jadi kita merasa eranya sudah berbeda. Sehingga apa yang mereka alami, tidaklah sama dengan kita yang dari sejak dini mulai melihat dunia digital dengan berbagai perkembangannya dan akses informasi global.
PoV (Point of View) alias sudut pandang dalam konteks anak muda seperti kita saat ini, telah menjadi alat utama pembentuk identitas dan kurasi gaya hidup (lifestyle). Karena kita tumbuh di bawah kendali algoritma media sosial. PoV bukan hanya soal "cara melihat dunia", tapi "bagaimana kita ingin dunia yang melihat kita". Sehingga, PoV bukan sekadar tren media sosial yang lewat, melainkan lensa eksistensial. Ini adalah mekanisme pertahanan sekaligus cara berekspresi di mana gaya hidup tidak lagi didefinisikan oleh apa yang kita miliki, melainkan oleh bagaimana kita membingkai dan menceritakan kehidupan kita kepada dunia.
Kadangkala, ini membuat kita mudah terbawa PoV yang lagi viral dikarenakan ada dorongan untuk menyelaraskan. Sehingga tidak heran, jika kita tidak mampu untuk mengikuti atau menyelaraskannya bisa berdampak pada masalah kesehatan mental.
Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022, bahwa sebanyak 1 dari 3 remaja di Indonesia (34,9% atau setara 15,5 juta jiwa) memiliki masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir, dengan tekanan interaksi digital sebagai salah satu faktor utamanya. Dampaknya adalah kecemasan (anxiety), krisis identitas, kecanduan media digital, hingga pola hidup konsumtif demi meraih validasi semu di dunia maya mengalami peningkatan. Sehingga terjebak pada pencarian kebahagiaan yang sifatnya sementara dan merusak karena mengejar popularitas atau pengakuan publik. Kemudian, terjadilah kemerosotan atau bahkan kosongnya level keimanan dan intelektual karena terjebak kesenangan jangka pendek.
Tenanglah kawan, sejatinya Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna ini memiliki PoV (sudut pandang) yang khas, yang menjadi GPS agar kita selamat alias gak kesasar, yaitu navigasi tercanggih yang memiliki fitur-fitur lengkap untuk memandu setiap langkah kita. Apapun yang kita kerjakan, landasannya hukum syara', yaitu halal haram, bukan apa yang sedang viral atau suara kebanyakan orang. Jadi, tidak mudah goyah oleh arus zaman yang terus berubah. Begitupun soal hakikat kebahagiaan, yaitu ketenangan yang hadir karena mendapatkan ridho Allah. Bukan karena banyaknya materi dan pengikut, serta seberapa tenar dan bebasnya kita.
Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa PoV yang muncul saat ini bukanlah asli dari kebutuhan diri, tapi diciptakan oleh sistem kapitalisme global yang menargetkan anak muda sebagai target pasar. Perkara kita berpakaian saja, ini sebenarnya pakai standar medsos atau standar Islam. Algoritma lah yang mengarahkan. Maka, apapun yang viral, bukan berarti kebenaran yang mutlak. Dari sini kita perlu selektif, kritis, dan waspada dengan dilandasi bagaimana Islam mengaturnya.
Dalam potret pendidikan Islam, anak muda dibekali kemampuan berpikir kritis yang mampu menyeleksi apapun informasi yang masuk dan ditanamkan visi hidup yang berorientasi jangka panjang, yaitu dunia-akhirat. Jika orang-orang kafir saja memiliki visi hidup hingga puluhan tahun ke depan. Maka, kita sebagai muslim harus memiliki visi hidup hingga beratus-ratus tahun ke depan, alias dari dunia sampai ke akhirat.
Untuk itu, potret pendidikan yang baik tentulah dihasilkan dari sistem yang baik pula. Di sinilah peran negara sangat dibutuhkan. Di dalam sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah, negara akan bertanggungjawab untuk membentengi ruang publik atau media sosial dari konten yang berindikasi merusak generasi, dan menghadirkan lingkungan sosial yang saling beramar ma'ruf nahi mungkar.
Selain itu, negara menjadikan anak-anak muda sebagai generasi yang memiliki kepribadian Islam yang tinggi dan disiapkan untuk membangun peradaban Islam yang mulia dengan Islam yang menjadi PoVnya.
Wallaahua'lam bisshowaab.
