Sijodah, Warga Balai Betung Semblih 5 Ekor Kambing. Ini Sejarahnya

Suasana Sijodah tahun 2020 (foto by Cinok)

IMPIANNEWS.COM 

Payakumbuh, --- Menindaklanjuti rapat rembug warga RW II Balai Betung kelurahan Ompang Tanah Sirah (OTS) Kecamatan Payakumbuh Utara, pada Sabtu(24/04/2021) malam bertempat di mushalla Nurul Yakin yang membahas penyelenggaraan rutinitas Sijodah di daerah setempat. Tepatnya, pada Minggu momen Hardiknas (02/05/2021) warga setempat melaksanakan gotong royong guna menyiapkan rencana tersebut. 


Goro yang dihadiri semua warga RW II tersebut dipusatkan pada pencarian kayu bakar dan membuat dangau (pondok) untuk memasak.


Untuk kita ketahui bersama, Sijodah merupakan bahasa asli kenagarian Koto Nan Godang. Dari informasi di lapangan Sijodah bermakna makan basamo jelang berbuka puasa di bulan Ramadhan. Ada juga mambayia utang akikah, ada juga yang memaknai akikah massal. 


Dari sesepuh di Balai Betung, Burhanis Piliang, bahwasanya tradisi sijodah punyo sejarah nan panjang. Banyak pengorbanan yang telah dilakukan demi terwujudnya tradisi sijodah yang kini sudah diseremonialkan rutin setiap malam ganjil 10 Ramadhan terakhir, di daerah ini. 


"Sijodah adolah mambayia utang akikah anak, dengan memanfaatkan kambing yang dibeli kampung yang nanti dibayar orangtua di Ramadhan tahun depannya. Kambing pembayar tersebut, disemblih, dimasak dan disantap bersama saat berbuka puasa. Sijodah ini menghadirkan semua unsur warga, termasuk para duta kampuang yang tinggal diluar daerah,"terang Burhanis disela goro. 


Dikuatkan Mamak Saharudin Gindo, bahwa banyak tokoh yang terlibat dalam melahirkan dan mempertahankan tradisi sijodah. 


"Satiok era ada tokohnyo. Dulunyo sijodah dilaksanakan di longgo Ongku Potai. Dek lah ado surau ciek lai, dipagantian. Saingek ambo banyak tokoh nan baperan di sijodah ko dulu. Sarupo Mak Mawi, Pak Damuhar, Mak Amir Khaidi, Ongku potai jo Pak Ajok, tuak Siri, Gaek Ambo jo gaek-gaek kito nan masih hiduik kini. Nan padusi baitu pulo,  gaek kito nan ado kini, nan lah daulu. Sarupo Piak Kombo, Tiu, Buk Sini, pokok e ndak bisa disobuk an de,"terang singkat Mak Gindo di lokasi goro belakang kantor lurah. 


Disamping sebuah bentuk syukur orangtua yang mengakikahkan anaknya, seremonial ini mengandung nilai saling membantu dan paling inti adalah bertujuan untuk meningkatkan silaturahim warga. Semua unsur dilibatkan, baik warga yang anaknya ikut akikah, maupun warga yang tidak terlibat akikah. Semua dilaksanakan bersama. 


Di Ramadhan tahun 1442H/2021M, ada 5 kambing yang akan disemblih dalam Sijodah kali ini. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan Kamis (06/05/2021) yang dipusatkan di Longgo Tongah (mushala Nurul Yakin). Dan panitia sudah dibentuk sedemikian rupa. Tahun ini, warga Balai Betung mempercayakan Djasmi selaku Ketua panitia dibantu Arnes Saputra sebagai wakil dibantu panitia lain bersama warga penuh semangat kebersamaan. 


Sejarah Singkat Sijodah di Balai Betung 

Menurut informasi sesepuh kampung Balai Betung, Sijodah pertama digagas dimasa Pak Jorong Moechtar (almarhum Buyuang Tombi). Beliau seorang veteran kelahiran 1916. Diusianya 17 tahun, beliau sudah diamanahi sebagai wali jorong Balai Betung. Almarhum memiliki 8 orang anak dari pasangannya Kasiana (almh). Sebagian dari anak almarhum juga sudah meninggal dunia. 

Terkait sejarah Sijodah kami coba korek dari Tarmis Moechtar (anak dari almarhum Pak Jorong Moechtar) di rumahnya didampingi anak dan cucu beliau. 


Diceritakan Tarmis, dulu ayah bercerita, saat beliau menjabat wali jorong, baru 30 rumah yang ada di  Jorong Balai Betung. Masa itu, hidup dan penghidupan sangat sulit. Jangankan untuk membeli kambing untuk akikah anak,  untuk mencari uang belanja Rp5, dan membeli beras saja, kala itu sangat sulit. 


"Sangat jarang warga kita yang melaksanakan akikah. Untuk itu, Jorong Moechtar berembug dengan warga. Mufakatnya, semua warga ikut jadi buruh tani. Hasil mufakat dijalani. Adapun sawah yang kerap digarap warga adalah milik H. Nawar, Sawah Dt. Amang dan lainnya. Hasil pengumpulan upah buruh tani dijadikan untuk seekor kambing. Hingga akhirnya menjadi 2 ekor. Sia nan mamakai katiko itu, ndak takono dek ambo de,"jelas Tarmis. 


"Aset 2 ekor kambing itu diumumkan kepada warga, barang siapa yang ingin mengikahkan anaknya, silahkan pakai aset kampung tersebut. Untuk selanjutnya disemblih untuk akikah. Akikah adalah daging masak. Iya kan ?. Karena susahnya penghidupan, akhirnya pembiayaan seremonial akikah dibebankan secara bersama, termasuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Prosesi akikah si anak dilaksanakan sesuai syariat islam. Selanjutnya juga mengandung nilai syariat, yakni tolong menolong hingga berbuka puasanya,"jelas Tarmis lagi. 


"Kambing yang dipakai orang tua tersebut selanjutnya dibayar dalam jangka satu tahun, yakni sudah ada jelang sijodah selanjutnya, sesuai harga kambing saat itu. Program ini sangat membantu, semuanya dilangsungkan bersama, "ulasnya. 


Bagi yang memakai Sijodah, dikenakan iyuran 2 gantang beras, 10 buah kelapa, 1 kantong nangka, dan sejumlah uang. Iyuran juga dibebankan warga beras, kelapa dan nangka. 


"Kegiatan ini sudah berlangsung lama di kampung kita, hingga kini Kota Payakumbuh berdiri sendiri sebagai daerah administrasi sendiri sejak tahun 1970, lalu,"ulas Odang Mardis, sesepuh kampung. 


Sebelumnya, Sijodah telah dilaksanakan pada Sabtu (01/05/2021) malam di Longgo Ambacang. Panitia bersama warga sembelih 3 ekor kambing. Sementara untuk pelaksanaan sijodah di longgo tawakkal, informasi dari Ketua RT, Iwan. Tahun ini tidak dilangsungkan. Adalah H. Windy Almahdi menambahkan, saat ini kita punya 5 aset kampung untuk kambing sijodah. 


"Tahun ini kita tidak sijodah, insya Allah tahun depan di mesjid Al Mutawahiddah,"terangnya.  


Sementara, Lurah OTS Majri didampingi Ketua LPM Khaidir sangat bangga dengan kekompakan warga pendahulu, sehingga tradisi baik itu masih dijalani hingga kini penuh kebersamaan. 


"Untuk kelurahan OTS, 2 RW ada tradisi sijodah ini. Semoga RW Tanjung Anau juga bakal ada sijodah, kedepannya. Saya akan coba apungkan melalui rapat di RW I,"harap Khaidir.(ul) 

Posting Komentar

0 Komentar