Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Pages

Fenomena Downgrade, Gaya Bertahan dalam Ancaman Kemiskinan

| 18 October WIB

Oleh Ernita Setyorini

Banyak warganet di sosial media yang membagikan unggahannya terkait gaya hidup yang harus di downgrade. Fenomena downgrade merupakan penurunan standar gaya hidup di tengah-tengah masyarakat. Dimana strategi bertahan hidup masyarakat sekarang berada dalam masa ketidak pastian ekonomi.

Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, menilai downgrade gaya hidup terjadi bukan karena situasi ketidakpastian ekonomi saja. "Saya menangkap ini lebih sebagai strategi dari masyarakat untuk menghadapi situasi ketidakpastian dengan melakukan downgrade atau mencari substitusi yang lebih murah," ucap dia ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu (17/10/2026). (Kompas.com, 18/10/2026)

Perubahan gaya hidup masyarakat, penyesuaian kememilikat asset sampai pengurangan angka konsumsi dapat disebabkan pendapatan yang relative stagnan. Disisi lain, kebutuhan hidup yang harus dipenuhi sekaligus harganya terus-menerus mengalami peningkatan. Oleh karena itu masyarakat melakukan berbagai penyesuaian bukan keinginannya berhemat namun ruang memilih dalam mengatur pengeluaran semakin terbatas.

Direktur Next Policy Yusuf Wibisono menilai "Dalam tahun-tahun terakhir, ketika ekonomi terus tumbuh tinggi, kita semakin sering melihat tanda-tanda pelemahan daya beli masyarakat, dari pusat perbelanjaan yang sepi bahkan tutup, mal ramai pengunjung namun kasir-nya sepi, bahkan pasar tradisional mengalami penurunan omset, hingga kelas menengah yang rela 'downgrade' gaya hidup demi menghemat pengeluaran," kata Yusuf kepada CNBC Indonesia pada Senin (12/10/2026). (Cnbcindonesia.com, 18/10/2026)

Tanda-tanda daya beli melemah semakin terlihat pada beberpa tahun terakhir meskipun Indonesia perekonomiannya masih tercatat mengalami pertumbuhan. Padahal fenomena ini terjadi disaat kondisi ekonomi yang bergejolak menjadikan masyarakat terutama dari kelas menengah lebih mengandalkan fungsi dari pada gengsi. Dimana kelas menengah mempunyai peran penting untuk menopang komsumsi pertumbuhan ekonomi.

Disaat kelas menengah ekonominya melemah maka kemampuan masyarakat untuk menggunakan jasa dan beli barang di luar kebutuhan pokok juga ikut tertekan. Sehingga perlu adanya berbabagi upaya rumah tangga untuk menjaga komsumsi dasar agar kondisinya relative stabil. Adapun cara yang digunakan dengan mengorbankan komsmsi yang lebih penting dan fleksibel.

Kalau dahulu fenomena tekanan finansial banyak yang makan tabungan (mantab) tetapi sekarang lebih banyak lagi yang makan dari utang (maut). Sehingga kapitalisme mendorong masyarakat untuk mengedepankan gengsi dan mengejar gaya hidup mewah. Di sisi lain kapitalisme melahirkan kemiskinan struktural yang terjebak dalam kemiskinan bukan karena malas namun akibat sistem sosial, akases terbatas terhadap sumber daya dan politik yang tidak adil.

Downgrade merupakan dampak dari kebijakan efisiensi yang telah dilakukan oleh pemerintah, kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan perpajakan, sampai terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Penerapan politik ekonomi kapitalisme sekuler menyebabkan ancaman kemiskinan yang meluas dan menghasilkan krisis financial. Sehingga banyak keluarga yang terpaksa mengurasi kualitas dan kuantitas pengeluaran sehari-hari. 

Salah satunya upaya yang dilakukan masyarakat dengan menyesuaikan belanja demi bertahan hidup dan pindah ke tempat tinggal yang lebih kecil. Selain itu, seseorang dengan sengaja menurunkan kualitas hidupnya karena harga untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin mahal.
Hal ini menunjukkan bahwa negara dalam sistem kapitalisme sekuler berlepas tangan untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya. 

Padahal negara telah melaksanakan beberapa progam bantuan yang diberikan kepada masyarakat membutuhkan. Namun permasalahannya apakah kebijakan yang dijalankan benar-benar bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyakat secara menyeluruh. Penghasilan yang diterima seseorang tidak cukup untuk menjamin finansialnya disaat mengalami kenaikan harga kebutuhan dasar maupun kebutuhan mendesak belum lagi apabila yang kehilangan pekerjaan.

Berbeda dengan sistem Islam yang pengaturan dan perspektif tentang seseorang dalam menggunakan harta. Dimana syariat Islam mempunyai aturan secara menyeluruh mengenai cara mendapatkan harta dan mendistribusikannya. Selain itu, Islam memiliki langkah-langkah negara menjamin pemenuhan kebutuhan masyarakat dan bagaimana membelanjakan harta dengan halal.

Islam juga mempunyai paradigma gaya hidup yang mengutamakan kebutuhan berdasarkan prioritas bukan untuk memenuhi semua keinginan. Dimana memiliki sikap yang sederhana, menjauhi sesuatu mengarah pemborosan dan tidak berlebih-lebihan dalam mengelola harta. Dalam kesederhanaan bukan berarti seseorang harus menurunkan kualitas hidup akibat tekanan ekonomi.

 Islam telah mengatur mengenai pemenuhan kebutuhan hidup sebagai permasalahan sebagai tanggung jawab bersamaa. Hal ini negara mempunyai kebijakan untuk menjamin kesejahteraan rakyat. Oleh sebab itu, negara berkewajiban menyediakan lapangan kerja yang memadai dan membuka kesempatan kepada rakyatnya untuk memperoleh penghasilan yang layak tanpa membebani dengan pajak. 

Adapun pengelolaan kekayaan umum seharusnya diarahkan demi kepentingan masyarakat bukan kepada segelintir pihak yang menjadi keuntungannya. Kebijakan ekonomi yang diterapkan harus menjamin distibusi kekayaan yang adil. Serta mencegah berbagai upaya menumpukan harta untuk kelompok tertentu.

Sistem Islam menjamin semua kebutuhan dasar baik dari pangan, pendidikan, kesehatan dan kemananan sehingga tidak akan terjadi tekanan finansial secara massal. Seluruh anggaran ini diperoleh dari baitulmal yakni lembaga pengelola harta umat dan negara. Sehingga negara harus menjalankan fungsi ra'in yakni pengurus, pelindung dan melayani rakyat secara keseluruhan. 

Wallahualam bissawab