Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Pages

Janji yang Perih

| 22 May WIB

 

Puisi
Imah Yuliati Sefiani 
Purwokerto Jawa Tengah

Terlingkar cincin emas di jemari,

Saksi bisu janji yang kini mati.

Senyumanmu pembawa luka yang sunyi,

Mengukir perih di balik tawa yang kau beri.

 

Kini, air mata datang kembali,

Membasuh pipi di gelapnya hari.

Bagai garam di atas luka yang belum menepi,

Kau biarkan aku hancur dalam sepi.

 

   ‘’ Lingkaran Sembilu’’

 

Emas di jari melingkar begitu rapi,

Namun di dalamnya, ada duri yang tak terlihat mata.

Ia mengikat bukan untuk melindungi,

Melainkan menjerat langkah dalam sunyi.

Setiap kilatnya adalah pengingat,

Bahwa janji hanyalah sembilu yang menyayat.

 

    ‘’Siklus yang Perih’’

 

Pagi membawa tawa, namun senja membawa sisa.

Aku mengira ruang kosong ini telah tertutup rapat,

Tapi air mata datang kembali tanpa mengetuk pintu.

Ia mengalir di jalur yang sama, luka yang sama.

Sebuah putaran waktu yang tak pernah mengenal kata usai,

Hanya rasa sakit yang terus berulang tanpa damai.

 

    ‘’Topeng Bahagia’’

Aku terpaku menatap wajahnya yang berseri

Terjebak kedalam senyuman pembawa Luka yang ia beri 

Baginya itu hanya lengkung bibir tiada makan

Namun bagiku itu adlah cara halus untuk menyiksa

 Menyusun semua yang sudah direncana

Untuk pergi tanpa kata 

Iya tertawa sekolah tiada hati yang akan ia patahkan

Menampilkan kehangatan yang sebenarnya menghancurkan

Dibalik Manis senyumanya ada belati yang tersembunyi 

 Meninggalkan sayatan dalam yang harus aku tanggung sendiri

 

       ‘’’’Perjamuan Luka’’

 

Meja telah tertata dengan kenangan pahit,

Kau datang bukan untuk menyembuhkan,

Tetapi membawa segenggam garam di atas luka.

Setiap kata yang kau ucap menambah perih yang mendalam,

Menjadikan duka sebagai hidangan utama.

Aku dipaksa menelan rasa sakit yang kau suguhkan dengan sengaja.

 

     ‘’’ Janji yang Mengiris’

Kau tawarkan masa depan dalam kata-kata yang rapi,

Namun setiap kalimatmu adalah mata pisau yang tersembunyi.

Dahulu aku percaya pada setiap sumpah yang kau beri,

Kini aku sadar, itu hanyalah cara untuk membuatku mati berkali-kali.

Tak ada lagi hangat yang tersisa dari sebuah komitmen,

Hanya luka mendalam hasil manisnya kebohongan.

Janji itu tak lagi suci, ia telah menjadi senjata yang bengis,

Di tanganmu, harapan terakhirku akhirnya habis dan mengiris.