Rumit dan Berliku, Data Bantuan Sosial Covid 19

IMPIANNEWS.COM
Catatan, --- Beberapa hari yang lalu penulis bertemu dengan seseorang yang berkaitan pen"data"an bantuan sosial di Kota ini. Pria berperawakan tinggi besar dan gagah ini, sebut saja namanya "AA" kelihatan sangat lelah. 

Tidak ada senyuman yang biasanya selalu muncul setiap kali bertemu. Rona hitam dibawah kelopak matanya jelas melihatkan bahwa dia sangat kurang tidur. Dia datang masih berkaitan dengan koordinasi masalah data bantuan sosial Covid 19 ini.

Ditengah bincang-bincang koordinasi masalah pekerjaan, didorong rasa penasaran yang tinggi, penulis akhirnya mengajukan pertanyaan, "Apo juo masalahnyo data ko alun juo salasai lai". Opps.

Dengan tenang nya dia menjawab. Bukan langsung ke pokok persoalan. Tapi sedikit curhat, dia berkata "iko se dek abang lah, lah tiok hari sampai malam dikantua, ndak tantu hari lai, anak lah acok tingga, babuko dikantua, malam tadi se sampai sahur masih juo dikantua".

Penulis hanya diam memperhatikan, tak ada respon. Hanya mencoba membiarkan dia mencurahkan segala apa yang dia rasakan. Tiba-tiba dia melanjutkan, "pusat mintak data, propinsi mintak data, dikirim, tapi nan kalua babeda pado nan dikirim, ado nan alah maningga masuak juo, nan lah pindah masuak juo" suaranya mulai meninggi. Ooo... hanya suara itu yang keluar dari mulut penulis. 

Lalu dia melanjutkan, "alun lai data nan untuak kota, petunjuk barubah-rubah, ado nan suami masuak ka bantuan pusat, ee namo istri ado pulo di bantuan propinsi, padahal bantuan itu adalah untuak satu keluarga atau KK. Tidak boleh dobel. Sadoalah ee itu harus kita sisir, kita cocok kan, maa patuik dikaluakan, maa yang harus dimasuak kan, cubo pikia dek abang. Ado pulo nan semua masyarakat merasa berhak, semua mengatakan terdampak, yaa kita semua terdampaklah, tapikan ada kriteria terdampak tersebut. Petugas kita dilapangan, lurah, RT, petugas sosial kita juga sudah lelah". 

Penulis hanya mengangguk-anggukkan kepala, pertanda mulai paham. Dalam hati penulis berkata, "rumit dan berliku juga ya".

Dengan nada suara mulai rendah dia melanjutkan, "kami sangat paham bahwa masyarakat sangat menunggu-nunggu ini bang, pimpinan kita juga setiap hari mendesak kami agar data ini cepat selesai,  tapi kalau bantuan ini kita turunkan secara sembrono, itu juga akan menimbulkan keresahan ditengah-tengah masyarakat, kacau nantik.  Dan kita juga tidak ingin melanggar aturan, jangan-jangan kita pula yang berurusan dengan pihak berwajib dikemudian hari", imbuhnya.

Diakhir bicaranya, dia memandang langit-langit kantor dengan pandangan kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya, entahlah.

Hanya kalimat penyemangat yang keluar dari mulut penulis, "semangat terus, anggap ini ladang amal ditengah pandemi Covid 19 ini, kalau kita hitung-hitung dengan tugas pokok dan fungsi sebagai aparat tentu ini sudah melebihi dari yang biasa, semangat", sambil penulis mengepalkan tangan, kearahnya, kan tidak boleh bersalaman dalam kondisi covid 19. Akhirnya dia pamit untuk melanjutkan tugasnya. 

Sampai tulisan ini diturunkan, Jum'at malam (15/5/2020), pejuang data itu masih bekerja dikantor bersama teman-temannya. Semangat. Jangan kasih kendor. Dan kepada masyarakat diharapkan bersabar, semua telah berjuang dengan maksimal, semoga menjadikan yang tebaik.

Payakumbuh, medio Mai 2020, (Hermanto Rajo Shampono).

Post a Comment

0 Comments