Kenangan Pahit Jurnalis akan Dibunuh Saat Masjid Babri India Dihancurkan

Masjid Babri India (Foto: Islampos.com)

IMPIANNEWS.COM (New Delhi)

Qurban Ali, Mantan produser BBC adalah orang pertama yang menyampaikan berita soal pembongkaran Masjid Babri yang bersejarah ke dunia pada 6 Desember 1992.

Berita tersebut menggambarkan bahwa pembongkaran masjid berusia 450 tahun ini menjadi titik balik dalam sejarah India.Berbicara kepada Anadolu Agency, Ali mengenang hari yang menentukan itu, sementara massa mengurungnya bersama rekan-rekan lainnya di sebuah kuil. 

Dengan susah payah, Ali melarikan diri dari Kota Ayodhya yang ramai oleh Kar Sevaks (sukarelawan Hindu) yang tengah haus darah para jurnalis.“Sekitar pukul 6 malam waktu India [1230 GMT], pembongkaran berakhir. Dengan susah payah, saya besama Kepala BBC Asia Selatan Mark Tully, berhasil menyelinap keluar. 

Kami mencapai Faizabad, kota terdekat dan check in di hotel pada jam 9 malam. Segera siaran BBC Urdu mengudara,” ujar jurnalis senior yang kini bekerja untuk edisi mingguan Bahasa Inggris Sunday Observer.Umumnya orang India dan sekitarnya masih ingat bagaimana suara melengking Ali, mengabarkan dunia bahwa Masjid Babri tak ada lagi.

 Sementara media lain memberitakan bahwa masjid tersebut rusak ringan. Ali menyebutkan bahwa dia menyaksikan bangunan bersejarah itu berubah menjadi puing-puing, sebelum meninggalkan Kota Ayodhya, Uttar Pradesh, India.“Relawan Hindu mengumpulkan batu bata dan membawanya sebagai oleh-oleh.

 Media resmi memberi tahu dunia bahwa masjid itu mengalami kerusakan kecil dan massa memperbaikinya kembali,” tambah dia.Sekitar 500 jurnalis berkumpul di kota tersebut pada hari yang sama, namun tak semua mencapai Faizabad. Ali masih ingat, saat itu berbagai isu beredar, namun tak ada yang memperkirakan masjid akan dihancurkan.

Sementara ratusan ribu sukarelawan berkumpul di kota kuil Ayodhya atas panggilan Vishwa Hindu Parishad (VHP) dan Partai Bharatiya Janata (BJP). Mereka memimpin pembangunan Kuil Ram yang besar di lokasi Masjid Babri.

Mereka mengklaim bahwa dewa Hindu Lord Rama lahir di lokasi masjid itu jutaan tahun lalu. Mereka berjanji kepada pemerintah dan pengadilan bahwa akan secara simbolis menggelar upacara keagamaan dan tak ada kerusakan pada masjid.Beberapa tokoh yang hadir di antaranya pemimpin tinggi BJP LK Advani dan Murli Manohar Joshi. 

Keduanya berposisi sebagai menteri pusat.“Pada pukul 11:30 pagi, Kar Sevaks mulai menyerbu masjid. Terjadi kekacauan. Massa mulai memukuli jurnalis, menghancurkan kamera dan menginjak-injak alat perekam. Kami bergegas ke kantor telegraf pusat Faizabad untuk melaporkan bahwa masjid diserang. 

Setelah kembali, kami mengikuti barisan Pasukan Polisi Cadangan Pusat paramiliter untuk pulang ke Ayodhya. Tapi pasukan pusat tak diizinkan masuk ke kota. Kami mengambil rute lain untuk mencapai Ayodhya,” ujar jurnalis, yang menyaksikan pembongkaran Masjid Babri.

“Tak lama kemudian massa menemukan kami. Mereka mengenali Mark Tully. Kami diancam dan dikurung di sebuah ruangan. Mereka akan membunuh kami. Tapi seseorang menyarankan agar pembokaran diselesaikan lebih dulu, baru kemudian memutuskan nasib kami. 

Kami digiring ke sebuah ruangan dan dikunci. Larut malam, dengan susah payah, para penculik setuju untuk membawa kami ke seorang pemimpin senior, yang memerintahkan pembebasan kami. Kami bebas, tapi tak mudah untuk keluar dari kota. Entah bagaimana, kami berhasil mencapai Faizabad, sejauh 10 kilometer. 

Tapi hari itu tampak seperti ratusan mil jauhnya,” tambah dia.Ali berkata, kita berhasil menghindari kematian hari itu. tapi peristiwa itu sangat merusak gagasan India dan ribuan tahun peradabannya yang melambangkan pluralisme. 

Jurnalis senior, yang meliput pembangunan Kuil Ram, mengatakan selama ini itu tak pernah menjadi persoalan politik.“BJP yang menjadikannya sebagai gerakan politik dan alat kampanye mereka pada 1989. Sebelumnya, itu bukan persoalan besar,” kata dia.Dua puluh tujuh tahun setelah pembongkaran masjid, Ali mengatakan Muslim India saat ini, terutama kaum muda, tengah menghadapi masa-masa yang amat sulit.

 Loyalitas dan kebangsaan mereka dipertanyakan, tak hanya oleh negara tetapi juga masyarakat. Kota Ayodhya, yang kitab suci Hindu Ramayana sebut sebagai simbol warisan budaya India dan keanekaragaman selama berabad-abad terakhir. 

Namun kini telah menjadi simbol perpecahan, antara Hindu dan Muslim.“Banyak hal telah berubah. Gagasan dasar India dipertaruhkan,” keluh jurnalis itu.Sumber : Anadolu Agency


Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.