Ance Alfiando : Perkampungan Suku Anak Dalam di Jambi, Habitat Mereka Sudah Dirusak

membawa lima belas orang yang separuhnya anak anak dan bayi menuju kawasan pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) kawasan yang dinamakan Bukit Dua Belas Sarolangun Provinsi Jambi, 
IMPIANNEWS.COM (Jambi). 

Menjelang dini hari kabut masih sangat tebal, udara masih sangat dingin. Mobil double cabin rescue tactical unit ini keluar dari Jalan Lintas Sumatera ke arah timur  menembus kawasan hutan dan perkebunan, membawa lima belas orang yang separuhnya anak anak dan bayi menuju kawasan pemukiman Suku Anak Dalam (SAD) kawasan yang dinamakan Bukit Dua Belas Sarolangun Provinsi Jambi, pada Jumat (04/05/2018)

Ada cerita miris ketika kami bercerita dengan mereka dalam tiga belas jam perjalanan pemulangan suku anak dalam yang sempat terlantar di daerah kami.

Diceritakan Ance, bahwa mereka berjalan ini hanya dikenal sebagai tradisi melangun atau dikenal dengan pengembaraan beberapa bulan untuk menghilangkan rasa sedih dan rindu ketika salah satu anggota keluarga meninggal dunia, menjadi sirna.

Kami terdiam ketika mendengar fakta lain yang melatarbelakangi. Hutan sebagai habitat mereka perlahan habis. Komunitas adat terpencil ini semakin terdesak oleh pembukaan lahan yang mengusik tempat tinggal dan penghidupan mereka.

"Tidak ada tempat lagi yang terisa, dulu masih bisa nak begawe mencari rotan segulung dua gulung dan berburu, sekarang semua sudah jadi sawit" ujar Meci, pria tua yang menjadi pimpinan rombongan ini.

Kondisi inilah yang membuat mereka harus "keluar". Pembukaan hutan dan lahan perkebunan dengan pola seperti obat nyamuk bakar membuat mereka tidak ada pilihan lain untuk bertahan di dalam. Terusik dari perkampungan yang biasanya damai, sekarang serba kekurangan dan ketakutan.

Perjalanan harus dilakukan, keluarga harus dibawa. Tidak sedikit yang meregang nyawa dijalanan karena kecelakaan, sakit atau bentrokan dengan masyarakat lain.

Dipinggiran kebun sawit kami berhenti untuk istirahat. memandangi wajah polos anak anak  yang berlarian sembari bermain, dengan rambut kemerahan dan kulit kecoklatan karena terbakar sengatan matahari.

Anak anak yang bertahan hidup dengan ikut membantu orang tua memunguti "berondolan", biji sawit yang rontok meskipun harus mengambil resiko pentungan petugas penjagaan lahan.

Senyum mereka masih khas, tidak ada guratan sedih. Anak anak hebat, namun kami tak sanggup memandang kalian terlalu lama.

Terlintas dipikiran, kemana mereka setelah ini. Pun hari ini kita pulang kembali ke Payakumbuh. Entah mana dan siapa yang lebih kejam. Mereka yang terbiasa berburu dan mengkonsumsi bijian, sekarang mesti beralih keras. Rimba perkampungan mereka beralih fungsi jadi lahan.

Bahasa spesifik yang sulit dimengerti, itulah suatu spesifik adat budaya Suku Anak Dalam (SDA) Jambi, yang semestinya keberadaan budaya mereka dilestarikan. Bukan bergerilya berjalan kaki menyabung nyawa dengan pundak penuh pikulan dan kepala penuh jujungan.(ul)