Iman, Toleransi dan Identitas Muslim

Oleh: Hasna

IMPIANNEWS.COM

Meneguhkan iman dan identitas IslamToleransi. Kata ini sering disampaikan, Khususnya kepada umat Islam. Apalagi menjelang perayaan natal.

Merujuk pada kamus almunawir, halaman 702, toleransi dan tasamuh diartikan sebagai sikap membiarkan (menghargai), lapang dada. Islam memberikan ketentuan yang sangat jelas tentang bagaimana toleransi terhadap orang kafir harus dilakukan.

Pertama: Toleransi dengan orang kafir tidak boleh mengurangi keyakinan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar (yang lain salah) dan satu-satunya jalan keselamatan di akhirat (yang lain tidak).

Kedua: Toleransi tidak boleh mengurangi keyakinan bahwa penerapan syariah secara kaffah akan memberikan Rahmat bagus seluruh umat manusia (muslim dan non muslim).

Ketiga: Toleransi tidak boleh mengurangi semangat dakwah mengajak non muslim masuk Islam.

Keempat: Toleransi dilakukan dengan tidak memaksa non muslim untuk meyakini Islam.

Kelima: Islam membolehkan bermuamalah dengan non muslim (jual-beli, sewa menyewa, ajar-mengajar dalam saintek,dll). 

Islam pun memerintahkan agar berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka. 

Namun demikian, toleransi bukan partisipasi. Rasulullah Saw. Tegas menolak melakukan toleransi dalam bentuk terlibat apalagi mengamalkan ajaran agama lain. 

Lalu bagaimana kita harus menyikapi klaim kaum Nasrani bahwa Al-Masih anak tuhan, makan perayaan natal adalah perayaan atas kelahiran Tuhan Yesus Kristus di dunia. Tidak ada makna lain dari perayaan natal selain itu. Lalu pantaskah kita ikut senang dan bergembira atas kelahiran Tuhan Yesus dengan ikut perayaan natal bersama? Apalagi kelahiran nabi Isa as., sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT sendiri, sama seperti penciptaan nabi Adam as.

Nabi Isa as. sendiri menegaskan dirinya sebagai Abdullah (hamba Allah). Karena itu seorang muslim harus tegas menolak klaim Isa as. Anak tuhan. Ia pun harus tegas menolak perayaan natal bersama. Ini sebagaimana dinyatakan dalam fatwa MUI tahun 1981. Oleh karena itu, mengikuti perayaan natal bersama hukumnya haram.

Sikap seorang muslim kepada kaum Nasrani semestinya seperti nabi Muhammad Saw. Beliau tegas mengajak kaum Nasrani, juga Yahudi untuk masuk Islam. 

Jelaslah, Islam adalah agama yg amat toleran. Islam memberikan kebebasan kepada setiap manusia dalam memilih agamanya. Namun demikian, toleransi bukan partisipasi, juga bukan malah menegasikan agamanya sendiri dengan, misalnya, menolak syariah diterapkan secara kaffah. Sayangnya, justru itulah yang sekarang acap terjadi. menyedihkan. 

Allah SWT telah merintahkan hambanya Agara masuk Islam secara kaffah. Orang yang memeluk Islam wajib mengambil Islam secara menyeluruh dan menolak yang lain selain Islam. Itu baru disebut masuk Islam secara kaffah. Alhasil, setiap muslim wajib memegang teguh Islam. Ia haram meninggalkan keyakinan Islamnya. Ia juga haram menginggalkan identitas keislamannya. Sebaliknya, identitas Islam harus dipegang teguh oleh setiap muslim dalam seluruh aspek kehidupannya. Apalagi dalam urusan peribadatan. Ikut perayaan natal bersama jelas mencederai identitas Islam seorang muslim dan yang pasti haram hukumnya. Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Post a Comment

0 Comments