Ragam Kuliner Sesaji dalam Upacara Tradisi di Jaw

Oleh: Lidya Kisahara 
(mahasiswi aktif Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas)

IMPIANNEWS.COM

Di zaman yang modern seperti sekarang, tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat tetap berpegang teguh pada tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah tidak asing dengan sajen atau sesaji yang kerap digunakan dalam upacara tradisi. Biasanya, masyarakat mempunyai makanan khas untuk disajikan sebagai sesajen. Sesajen merupakan persembahan untuk leluhur yang berisi berbagai makanan. Masyarakat percaya selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sesajen juga dapat mendatangkan keberuntungan dan menangkal bala. 

Sesaji dibagi menjadi beberapa jenis seperti, makanan utama, makanan manis, dan makanan kecil/buah-buahan. Makanan utama disebut ambengan, terdiri dari tumpeng, sega golong, dan aneka lauk-pauk sesuai jenis selamatan yang diselenggarakan. Sesaji jenang berupa jenang abang, putih, sungsum, jenang seger, jenang legen, jenang tuwa. Sesaji yang berupa makanan kecil yaitu buah-buahan dan hasil bumi. Dan sesaji dari jajanan pasar yaitu, ketan, apem, wajik, lemper, dan aneka jenang. 

Dikutip dalam naskah serat centhini yang dimuat dalam jurnal manassa dengan judul Kearifan Lokal "Makanan Tradisional": Rekonstruksi Naskah Jawa dan Fungsinya dalam Masyarakat oleh Trisna Kumala Satya Dewi, ada beberapa makanan tradisional yang digunakan untuk persembahan sesaji, yaitu:

1. Beberapa makanan tradisional yang masih digunakan dalam berbagai keperluan sehari-hari, termasuk untuk upacara ritual adat Jawa:

a. Iwak pitik (Serat Centhini II: 123:24)

Merupakan olahan dari ayam yang dibumbui. Bisa dibuat olahan opor, digoreng, dibuat rendang, beruru, tim dan sebagainya. Iwak pitik selain untuk keperluan sehari-hari, juga biasa digunakan sebagai perlengkapan sesaji pada upacara ritual.

b. Sekul Asahan (Serat Centhini.II: 169:30)

Merupakan olahan dari beras yang ditanak kemudian dilengkapi dengan lauk pauk dan sayur-sayuran. Karena fungsinya sebagai sesaji, sekul asahan juga digunakan oleh masyarakat yang sedang mempunyai hajatan.

c. Sekul Tumpeng Megana (Serat Centhini IV: 321:29)

Merupakan olahan dari beras yang ditanak, sayuran diberi bumbu-bumbu, kelapa muda diparut, teri disangrai.  Nasi kemudian dikukus bersama-sama sayuran dan bumbu- bumbunya. Sekul tumpeng megana pada awalnya digunakan oleh kalangan keraton dan berfungsi sebagai sesaji.

2. Jenis makanan sesaji untuk menghormati para nabi yang memegang pemerintahan (raja), seperti Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman.

a. Makanan untuk menghormati Kanjeng Nabi Yusuf dan istrinya, Siti Zulaikha.

"Ngaturi dhahar Kanjeng Nabi Yusuf, sagarwa Siti Jaleka"; sekul golong dudub pindhang, roti mertega keju 1 piring wedang bubuk powan, apem".

b. Makanan untuk menghormati Kanjeng Nabi Sulaiman. 

"Ngaturi dhahar Kanjeng Nabi Sulaiman": kupat pecel semanggi, roti mertega keju 1 piring, apem, anggur pethak 1 botol.

c. Putri Nabi Muhammad, Siti Fatimah juga mendapatkan penghormatan.

"Memule Siti Fatimah"; ketan biru,

3. Jenis makanan kecil

Jenang bekatul (Serat Centhini II: 157:7) Jenang bekatul dalam Serat Centhini dijelaskan bersama-sama dengan jenis jenang lainnya sebagai perlengkapan sesaji wayang kulit dalam upacara ruwatan.

Dalam pelaksanaan upacara ritual tersebut selalu disertai dengan makanan (sesaji) sebagai kelengkapan upacara. Upacara ritual masyarakat Jawa yang masih banyak dilaksanakan misalnya, bersih desa, sedekah bumi, ruwah rosul, saparan, sadranan dan sebagainya. Upacara ritual yang dilaksanakan oleh pihak keraton, misalnya Kasunanan Surakarta, yaitu Grebeg Syawal, Grebeg Maulud (Sekatenan). Wilujengan Jumenengan Raja. Upacara ritual yang sifatnya individual berkaitan dengan daur hidup, misalnya kelahiran yaitu brokohan, selapanan atau pupar puser. Upacara kehamilan mitoni (tingkeban) yaitu pada usia kehamilan 7 bulan. Upacara yang berhubungan dengan pernikahan yaitu midodareni dan pernikahan adat Jawa. Masyarakat Jawa juga mempunyai tradisi upacara yang berkaitan dengan kepercayaan akan malang dan mujurnya kehidupan manusia yang berkaitan dengan nasib baik dan buruk.

Dilihat dari naskah kuno serat centhini tersebut, ternyata dari zaman dahulu, tradisi sesaji sudah dilakukan. Hingga saat ini sesaji tidak dilupakan oleh masyarakat yang khususnya masyarakat Jawa. Mungkin hanya ada sedikit perubahan ataupun perkembangan yang dilakukan oleh masyarakat. 

Itulah jenis-jenis makanan yang dapat dihidangkan untuk sesaji. Selain untuk makanan sehari-hari ternyata beberapa makanan itu juga dapat dipersembahkan sebagai upacara ritual. Setiap makanan memiliki makna dengan harapan dan keinginan masyarakat yang melakukan upacara. Makanan untuk sesaji tersebut bersifat kedaerahan. Hal ini disebabkan oleh keyakinan dan harapan yang disimbolkan pada jenis makanan tersebut.

Post a Comment

0 Comments