Mencari Tawa pada Anak-anak Penyintas Banjir Kubutama

Oleh: Kanasta Laila Husna, Alifia Putri Chairunnisa, Mutia Farhanah Harahap, dan Mifthahul Azzuhra.
(Mahasiswa Program Studi Psikologi, FK UNAND)

IMPIANNEWS.COM

Bagi masyarakat di kawasan perumahan Kubutama, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, bencana banjir bukan lagi menjadi suatu hal yang baru. Pasalnya, sepanjang tahun 2022 ini saja telah terjadi beberapa kali banjir dengan ketinggian air paling besar mencapai 1,5 hingga 2 meter yang terjadi pada Minggu/2 Oktober 2022 lalu.

Dari penjelasan warga, kejadian banjir yang paling besar ini terjadi sekitar pukul 2 dini hari ketika warga sedang tertidur lelap. Pada saat kejadian, air naik secara tiba-tiba sehingga warga tidak sempat untuk melakukan persiapan penyelamatan.

Adapun dampak dari bencana banjir yang dirasakan warga diantaranya seperti kerugian harta benda dimana banyak barang terutama alat elektronik yang rusak dan tidak dapat terselamatkan. Dampak lainnya yaitu warga juga menjadi lebih rentan untuk terkena penyakit fisik serta memiliki kekhawatiran jika bencana yang sama terjadi kembali.

Sehubungan dengan dampak dari bencana yang terjadi ini, dalam buku panduan Pertolongan Psikologis Pertama: Panduan bagi Relawan Bencana (2020), dijelaskan bahwa terdapat beberapa kelompok yang dinilai rentan terkena dampak psikologis pasca bencana sehingga membutuhkan perhatian khusus, diantaranya adalah anak dan remaja, orang yang memiliki cacat kesehatan, serta individu yang beresiko mengalami diskriminasi atau kekerasan.

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa di kawasan perumahan Kubutama ini terdapat banyak anak-anak dengan rentang usia sekitar 3-12 tahun. Oleh karena itu, kami selaku mahasiswa Psikologi Unand bermaksud untuk lebih fokus memberikan intervensi kepada anak-anak. Intervensi ini kami lakukan sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan mental untuk mengurangi risiko munculnya gangguan psikologis pasca bencana sekaligus menerapkan ilmu Psikologi Bencana yang telah kami pelajari di bangku perkuliahan.

Bentuk dari intervensi yang kami berikan adalah berupa kegiatan rekreasional (recreational activity) dalam bentuk menggambar dan mewarnai. Kami memfasilitasi anak dengan kertas HVS, alat tulis, dan pensil warna. Pada kegiatan yang berlangsung sekitar 30 menit ini, anak dibebaskan untuk menggambar apapun yang mereka sukai.

Adapun tujuan dari aktivitas rekreasional ini diantaranya adalah untuk mendukung tahap perkembangan anak, memberikan kesempatan bagi anak untuk mempelajari hal-hal positif, mengurangi dampak negatif bencana, serta membantu pemulihan anak (Yuwanto, dkk., 2018).

Posting Komentar

0 Komentar