Mekanisme Pembentukan Subjek Pada Tokoh Jayanegara Dalam Novel Kerumunan Terakhir Karya Okky Madasari (Kajian Psikoanalisis Jacques Lacan)


Oleh: M Taufan Riyanto
(Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

IMPIANNEWS.COM

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh konflik hidup yang dialami oleh tokoh utama pada novel Kerumunan Terakhir yaitu Jayanegara. Pembentukan pada subjek yang dialami oleh Jayanegara senada dengan teori psikoanalisis Jacques Lacan. Dalam konsep psikoanalisis Jacques Lacan terdapat tiga tonggak utama, yaitu yang nyata (kebutuhan), yang imajiner (keinginan), dan yang simbolik (Hasrat). Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah konsep yang nyata, yang imajiner, dan yang simbolik yang dialami oleh tokoh Jayanegara dalam novel Kerumunan Terakhir. 

Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra. penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan pembentukan subjek pada diri tokoh Jayanegara menggunakan teori psikoanalisis Jacques Lacan. Hasil dalam penelitian ini adalah bentuk konsep yang nyata yang dialami oleh tokoh Jayanegara semasa kecil. 

Pada tahap ini Jayanegara merasa menyatu dengan sosok ibu dan nenek yang mengasuh secara bergantian. Segala kebutuhan yang diinginkan oleh Jayanegara masih terpenuhi baik oleh ibu maupun neneknya, sehingga belum timbul rasa berkekurangan pada diri Jayanegara. Sedangkan bentuk konsep yag imajiner pada tokoh Jayanegara yaitu rasa berkekurangan yang mulai timbul saat kepergian ibunya akibat perilaku bejat bapaknya yang berprofesi sebagai dosen ternama di Indonesia. Rasa berkekurangan semakin menguat karena ia semakin muak dengan bapaknya yang gemar bergonta-ganti perempuan.

Bentuk konsep yang terakhir yaitu yang simbolik dialami oleh tokoh Jayanegara akibat dendam yang telah disimpan sejak lama terhadap sang bapak sehingga ia berupaya dengan berbagai cara untuk menjatuhkan nama bapaknya sebagai dosen.

Sinopsisi Novel Kerumunan Terakhir

Novel Kerumunan Terakhir menceritakan tentang seorang laki-laki yang harus berhenti kuliah dan menjadi pengangguran, laki-laki tersebut bernama Jayanegara. Semasa kecilnya, Ia sempat tinggal di rumah Simbah, yang ada di kaki Gunung Suroloyo.

Semakin bertambahnya usia, Ia memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama dengan bapaknya mengajar. Laki-laki itu kemudian bertemu dengan Laera yang nantinya akan menjadi kekasihnya.

Maera sendiri digambarkan sebagai sosok perempuan yang sangat optimis terhadap masa depan dan sangat mengharapkan bisa menaklukkan dunia. Setelah Maera lulus kuliah, Ia memutuskan pindah ke Jakarta dan bekerja di sana. Menurut prinsip perempuan tersebut, kehidupan layak dapat diperoleh di kota besar seperti Jakarta.

Jayanegara atau yang biasa dipanggil Jay ini dihadapkan dengan kenyataan yang pahit Yakni ibunya kabur dari rumah, lalu bapaknya main dengan perempuan lain. Jay sangat rindu dengan kehidupannya yang lama. Di stasiun kereta, Ia berniat pergi ke Jakarta untuk menemui Maera.

Di Jakarta, semua cerita dimulai. Hanya dengan membuat sebuah e-mail, Ia jadi bisa berhubungan dengan dunia baru yang penuh dengan hiruk-pikuk dunia maya. Jay sendiri membuat sebuah identitas baru, dimana Ia menamai dirinya dengan nama Matajaya dan Ia berharap bisa dielu-elukan oleh penduduk di dunia barunya. Kemudian di dunia yang baru, Jay terbawa oleh sifat kemunafikan dan pembohong dengan bercerita mengenai kisah yang sebenarnya Ia karang sendiri.

Konflik yang Relevan dengan Dunia Saat Ini

Konflik yang hadir di dalam novel Kerumunan Terakhir memang benar-benar sangat relevan dengan dunia saat ini yang penuh dengan hingar-bingar dan juga kemunafikan dunia media sosial. Cerita dan juga kontemplasi yang penulis hadirkan di dunia baru, benar-benar sukses menyentuh hati dan dapat dikatakan menohok batin para pembacanya.

Di dalam hati, setiap membaca deretan kalimat yang ada di novel ini, pembaca akan larut dan cenderung setuju dengan apa yang ada di dalam novel ini. Tapi hal itu juga bisa membuat para pembaca menjadi lebih takut dengan dunia baru yang sekarang ini sudah marak ditinggali berbagai orang dengan kemunafikannya masing-masing.

Novel yang satu ini dapat dikategorikan sebagai novel 18+. Dengan adanya realita yang pahit, novel yang satu ini sukses menggambarkan ketakutan, kepanikan, kemunafikan, kesedihan, kemarahan, kekesalan, dan lain sebagainya. Kritik sosial yang ada di dalam novel ini sangat kental diutarakan oleh penulis.

Bagaimana bisa koruptor menyuap jaksa, bagaimana para pelanggar dunia baru sedang dicari-cari polisi karena sudah mencemarkan nama baik, dan bagaimana orang dengan sangat bebas mengekspresikan dirinya di dunia yang baru dengan pola pikir bahwa kita harus meninggalkan dunia lama yang sangat kolot.

Hubungan yang Sling Berkesinambungan antara Sastra dan Psikologi

Terdapat hubungan yang saling berkesinambungan antara sastra dan psikologi, namun hal-hal yang berkaitan di dalamnya berhubungan secara tidak langsung. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional karena sama-sama untuk mempelajari keadaan jiwa orang lain, bedanya dalam psikologi gejala tersebut nyata, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif (Endraswara, 2011:97). Pengarang kerap kali memunculkan tokoh yang memiliki kejiwaan dari proyeksi pelaku yang ada dalam lingkungan masyarakat. Karya sastra dengan jenis novel akan mencakup lebih rinci dalam penggambaran tokoh dengan memasukkan ide-ide pengarang ke dalamnya secara tidak langsung. Endraswara (2013:96) menyatakan psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karya dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tak akan lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan, sebagaimana sosiologi refleksi, psikologi sastra pun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup di sekitar pengarang, akan terproyeksi secara imajiner ke dalam teks sastra.

Novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori Psikoanalisis Jacques Lacan. Teori psikoanalisis kali pertama dikemukakan oleh Sigmun Freud pada tahun 1980-an. Ia berpendapat bahwa pengalaman semasa kecil memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam perkembangan kepribadian manusia. Setelah Sigmun Freud mencoba meneliti tentang psikoanalisis, banyak ahli psikologi lain yang juga mulai mengikuti jejak Sigmun Freud salah satunya adalah Jacques Lacan. Teori psikoanalisis Jacques Lacan menjelaskan tentang psikologi kepribadian seseorang melalui 3 konsep, antara lain: (1) Yang Nyata, (2) Yang Imajiner, dan (3) Yang Simbolik. Konsep Yang Nyata menjelaskan bahwa bayi akan mengalami banyak kebutuhan dan akan terpenuhi dengan adanya kedua orangtua, sedangkan konsep Yang Imajiner menjelaskan bahwa bayi mulai mengalami tahap cermin yaitu ketika bayi mulai merasa banyak permintaan yang tidak terpenuhi, sehingga merasa keterpisahan dengan sang ibu dan bayi mulai mengidentifikasi dirinya sendiri. Selanjutnya, konsep Yang Simbolik, yaitu pada tahap anak mengalami kastrasi dengan sang ibu, sehingga timbulah hasrat yang muncul dari diri bayi.

 Konsep tersebut berkaitan dengan kepribadian tokoh utama dalam novel Kerumunan Terakhir yaitu Jayanegara yang diceritakan sedang berusaha untuk menemukan identitas dalam dirinya. Jayanegara dipengaruhi dengan citra-citra liyan untuk menemukan jati diri nya dan bahasa digunakan dalam penyampaian hasrat tersebut. Jayanegara kerap merasa belum menemukan identitas diri atau jati dirinya selama berada di bawah kekuasaan ayahnya. Berbagai macam tindakan Jayanegara muncul karena pengaruh sikap ayahnya yang berani mengusir ibunya dari rumah dan berganti-ganti membawa wanita asing ke rumahnya. Ketika ia menyadari bahwa ayahnya telah keterlaluan, tebersit dalam dirinya untuk menunjukkan kepada ayahnya bahwa dirinya mampu hidup sendiri tanpa kasih sayang dari ayahnya. Hal tersebut dilakukan oleh Jayanegara untuk mencapai identitas dirinya yang selama ini belum merasa dimilikinya. Menurut Lacan, manusia selalu berada dalam kekurangan (lack), merasa ada yang hilang sehingga memunculkan sebuah hasrat (desire) dan usaha yang terus menerus untuk menutupi kekurangan tersebut, menemukan kembali apa yang hilang, membuat manusia kembali lengkap, sempurna, utuh, menemukan identitasnya, menjadi dirinya kembali (Faruk, 2012:96). Tokoh Jayanegara dalam novel Kerumunan Terakhir memiliki tiga konsep yang cukup berkesinambungan jika dikaitkan dengan konsep psikoanalisis Jacques Lacan, sehingga dapat ditemukan banyak bukti data yang berkaitan dengan kedua nya. Tokoh Jayanegara memiliki ruang untuk menunjukkan berbagai fase atau tahapan dalam hidupnya, yaitu fase nyata, fase imajiner, dan fase simbolik. Hal ini diperkuat dengan cerita hidup tokoh Jayanegara yang diceritakan sejak ia kecil, remaja, hingga dewasa). Pada fase nyata, tokoh Jayanegara mengalami banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi oleh kedua orangtuanya sehingga diasuh oleh si Mbah. Pada fase imajiner, tokoh Jayanegara mulai memiliki keinginan-keinginan yang tak sejalan dengan ayahnya sehingga hal itu berdampak pada Jayanegara yang pergi dari rumah dan tinggal di Jakarta. Untuk selanjutnya, pada fase simbolik, Jayanegara mulai menampakkan hasrat atas kebencian pada ayahnya guna menutupi kekurangan yang ada pada dirinya melalui nama baru yang dibuatnya di dunia maya, Matajaya. Berdasarkan uraian di atas, mekanisme pembentukan subjek pada Jayanegara menjadi fokus dalam penelitian ini. Hal itu diambil karena alur konflik yang disajikan cenderung sering membahas konflik yang ada pada diri Jayanegara. Dengan ketiga konsep yang telah didapat, maka peneliti akan mendeskripsikan konsep Yang Nyata, Yang Imajiner, dan Yang Simbolik yang terjadi pada Jayanegara di tengah konflik yang membelenggunya. Fokus penelitian bertumpu pada novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari untuk mencari berbagai bukti-bukti.

Fase Yang Nyata Pada Tokoh Jayanegara dalam Novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari

Yang Nyata atau fase kebutuhan, berlangsung dari lahir hingga masa usia antara 6 dan 18 bulan, ketika gumpalan bayi mulai bisa membedakan antara tubuhnya dan segala sesuatu yang lainnya di dunia. (Bracher, 2009:xvi). Pada fase pra-odipal, Lacan mengatakan pada fase ini bayi belum bisa untuk mengenali dirinya sendiri dan batasan-batasan pada egonya. Bayi akan beranggapan bahwa dirinya menyatu dengan diri ibunya maupun pada diri yang lain.

Dilahirkan dari keluarga yang broken home membuat diri Jayanegara telah merasa berkekurangan sejak kecil. Ayahnya yang berprofesi sebagai dosen sehingga harus sibuk dengan dunia perkuliahan. Tidak hanya itu, ayahnya juga kerap pergi ke luar kota maupun luar negeri, baik itu urusan pendidikan atau hiburan semata. Tak kalah sibuknya, Ibu Jayanegara yang berprofesi sebagai guru juga sering kali meninggalkan Jayanegara semasa kecil dari pagi hingga sore hari. Namun jika dibandingkan dengan ayahnya, Ibu Jayanegara lebih sering memperhatikan perkembangan Jayanegara. Hal tersebut yang membuat Jayanegara menjadi lebh dekat dengan ibunya dan mengalami tahap Oedipus Complex. 

Pada fase yang nyata ini bayi dan ibu merupakan kesatuan. Menurut Lacan, Yang Nyata adalah tempat (suatu tempat psikis, bukan tempat fisikal) dimana terdapat penyatuan asal ini. Karena itu, tak ada ketiadaan (absence), kehilangan, atau kekurangan; Yang Nyata adalah seluruh kepenuhan dan kelengkapan dimana tak ada kebutuhan yang tidak dapat dipuaskan. (Bracher, 2009:xv). Hal tersebut sejalan dengan cerita pada novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari, menceritakan tokoh Jayanegara yang menganggap diri Ibunya sebagai semesta pertamanya, ia menganggap dirinya menjadi satu dengan sosok Ibunya. Hal tersebut lantaran Jayanegara mengalami Oedipus Complex, dimana bayi merasa cenderung lebih menyukai sang ibu daripada ayah. Hal tersebut dapat dibaca pada kutipan berikut: 

Ibuku adalah semesta pertamaku. Ia orang pertama yang mengajariku berpura-pura. Ia membetulkan kata-kata yang aku ucapkan dan memintaku untuk menggantinya dengan kata-kata lain yang lebih pantas (Madasari, 2016:18).

Oedipus Complex yang dialami Jayanegara muncul karena keberadaan sang ibu memang lebih dominan dibanding ayah yang berprofesi sebagai dosen universitas bergengsi di Indonesia, sehingga menyebabkan ayahnya jarang berinteraksi dengan Jayanegara. Intensitas keberadaan sosok ibu dengan Jayanegara membuatnya patuh akan setiap perintah akan ibunya. Hal ini berkaitan pendapat Lacan yang menyatakan pada fase yang nyata ini bayi akan merasa menyatu dengan objek a. Selain itu banyak kebutuhan dari Jayanegara semasa kecil yang dipenuhi oleh ibunya ketimbang ayahnya, baik itu fisik maupun psikis. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut: 

Saat ada tamu datang, Ibu memanggilku memintaku bersalaman dan menjawab semua pertanyaan orang itu kepadaku. Kalau aku bandel dan tak mau menjawab apa yang ditanyakan, Ibu menasihatiku sepanjang malam (Madasari, 2016:19). 

Bahkan ketika Jayanegara beranjak dewasa pun, ia masih terus mengingat pesan maupun ajaran yang diajarkan sang ibu padanya. Berkaitan dengan pendapat Lacan bahwa, subjek Lacanian adalah subjek yang terbelah (split), kekurangan, dan tidak utuh. Sehingga dalam konsep tersebut, Lacan melihat ada determinasi antara Yang Nyata dan Yang Simbolik. Dalam hal ini dijelaskan bahwa meskipun tokoh Jayanegara telah beranjak dewasa, namun hal-hal yang didapatkan selama masih kecil bersama ibunya akan selalu terbawa hingga ia dewasa. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut: 

Aku tertegun membaca SMS itu. Sudah lama sekali aku tak pernah mendengar nasihat seperti ini. Ibu yang dari kecil selalu mengajariku berdoa, memaksaku salat, mengejar-ngejar aku agar mau berangkat mengaji. Tapi seiring waktu , setelah aku sudah semakin besar dan tak bisa lagi dipaksa-paksa dan seiring dengan semakin banyaknya luka di hidup Ibu, Ibu tak pernah lagi menyuruhku berdoa, salat, apalagi mengaji. Padahal hanya itu cara Ibu untuk bisa mengontrol anak-anaknya (Madasari, 2016:21).

Citra sang Ibu merupakan seorang guru yang sabar, berpegang teguh pada norma-norma agama, dan patuh pada suami. Secara tidak langsung Jayanegara juga hidup dalam lingkungan bawaan ibunya yang secara tidak langsung membuat subjek untuk melakukan segala bentuk citra Ibu yang patuh kepada suaminya. Subjek patuh kepada apapun perintah ayahnya sebab subjek telah dihasrati oleh citraan ibu melalui norma-norma agama yang diajarkan saat subjek masih kecil. Berbeda dengan sikap ayahnya yang selalu sibuk dengan urusan perkuliahan.

Fase Yang Imajiner pada Tokoh Jayanegara Dalam Novel Kerumunan Terakhir Karya Okky Madasari

Pada fase imajiner atau yang biasa dikenal tahap cermin yaitu suatu fase dimana bayi merasa berkekurangan dan tak semua kebutuhannya terpenuhi secara utuh. Hal tersebut menyebabkan subjek memiliki banyak keinginan serta kebutuhan dari liyan yang lain. Pada fase ini terdapat 3 hal penting yang terjadi di dalamnya. Yang pertama yaitu ketika bayi menyadari keterpisahan dengan sosok ibu. Hal ini tentu membuat bayi merasa berkekurangan, kehilangan, dan ingin menyatu kembali dengan ibu. Kedua, karena banyak dari kebutuhannya yang mulai tidak terpenuhi maka sang bayi harus memintanya. Namun pada fase ini bayi hanya bisa menangis karena bayi belum memiliki bahasa. Yang ketiga, yaitu mulai terjadinya proses identifikasi diri pada bayi.

Lacan berpendapat bahwa tidak ada subjek kecuali dalam representasi dan bahwa tidak ada representasi yang dapat merangkum diri kita secara utuh dan saya juga tidak dapat melepaskan diri dari semua definisi yang ada. Saya adalah proses pencarian menuju diri yang sejati. Cara kita menampilkan diri selalu menjadi subjek penafsiran orang lain. Di sisi lain, semua upaya totalitas orang lain, untuk memahami orang lain secara utuh, pasti akan mengalami kegagalan--tidak ada penggambaran yang adil bagi orang lain (Sarup, 2011:13). Hal tersebut menunjukkan bahwa cara liyan memandang diri subjek berpengaruh pada bagaimana subjek memandang dirinya. Hal ini dimulai pada fase imajiner yaitu tahap cermin, dimana pada tahap tersebut bayi mengalami kesalahmengertian terhadap dirinya sendiri. citra yang dilihat bayi di cermin diakui sebagai subjek mempersepsi citra cermin sebagai aku.

Dilahirkan dalam keluarga yang berpendidikan sehingga harus mematuhi norma-norma yang ada dalam keluarga merupakan proses awal terbentuknya diri Jayanegara. Sejak kecil, subjek selalu mengidentifikasi dirinya lewat citra sang ibu yang patuh terhadap normanorma. Sehingga subjek memiliki hasrat yang terbentuk dari liyan dalam proses mencari sebuah pengakuan untuk dirinya.

Subjek mengira citra yang ada pada cermin adalah citra yang menyatu dengan dirinya. Citra tersebut merupakan yang dipantulkan dan di resepsi oleh subjek. Ketika subjek beranjak dewasa, kebutuhan yang dibutuhkan oleh subjek pun terus bertambah dan tak bisa jika hanya dipenuhi oleh sosok ibu saja. Rasa berkekurangan (lack) pada diri Jayanegara mulai mencapai kompleks, pada saat sang ibu meninggalkan rumah akibat kelakuan bejat ayahnya. Terlebih sebelum ibunya mengetahui perselingkuhan yang dilakukan sang suami, Jayanegara telah terlebih dahulu mengetahuinya. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut:

Aku juga tak pernah tahu pasti perempuan mana yang baru dipergoki Ibu hingga membuatnya marah. Terlalu banyak perempuan dalam kehidupan gelap Bapak. Terlalu sering ia menyakiti Ibu. Di sela-sela ketidakpedulianku, kadang tebersit pertanyaan dalam benakku: Seperti inikah orang yang dari luar terlihat begitu terpelajar dan terhormat itu? (Madasari, 2016:28).

Ibu Jayanegara merasa sudah cukup sabar selama ini menghadapi sikap suaminya dan telah memaafkannya berulang kali. Sampai pada puncaknya, ia tidak bisa lagi menerima Profesor Sukendar sebagai suaminya lagi. Ia pergi meninggalkan ketiga anaknya, tepat setelah melihat foto-foto telanjang suaminya dengan wanita yang berbeda-beda. Jayanegara telah mati rasa atas apa yang terjadi pada saat itu. Semua diam pada saat kepergian Ibu Jayanegara, baik Jayanegara maupun Sukendar tidak ada yang mencegahnya untuk pergi. Hal tersebut dapat diihat pada kutipan berikut ini:

Ada ngilu yang berlapis-lapis. Ada beban berat dalam tiap tarikan napas yang sialnya tak sedikitpun bisa kubagi dengan orang lain. Karena semua orang hanya boleh tahu: aku tidak apa-apa. Hari itu, tiga adik perempuanku hanya diam di tempat duduknya masing-masing, sementara aku mondar-mandir menghabiskan rokok di teras rumah. Tak ada yang berusaha mencegah Ibu, tak ada yang menangis, tak ada kata-kata perpisahan yang mengharukan. Kami semua ingin berlaku sewajarnya dan menunjukkan aku tidak apa-apa. Ibu pun melangkahkan kaki dengan dingin (Madasari, 2016:17).

Tak lama setelah kepergian Ibu Jayanegara, Profesor Sukendar sudah menikahi seorang janda desa sebelah yang berprofesi sebagai bidan. Ada sesuatu yang bergemuruh di dalam hati Jayanegara, di satu sisi ia senang bisa mendapatkan keluarga secara utuh kembali. Namun disisi lain, ia juga terus berpikir bagaimana bapaknya bisa meninggalkan ibunya secepat itu. Sedangkan sampai saat itu tidak ada yang tahu bagaimana nasib ibunya setelah pergi, dimana ibunya tinggal dan mengapa ibunya memutuskan pergi begitu saja. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini: 

Satu bulan setelah kepergian Ibu, kami berdiri berjajar menyalami tamu. Di pelaminan, Bapak terlihat muda dan bahagia, Wanita yang dikenalkan pada kami hanya seminggu setelah Ibu pergi berdiri di sampingnya. Inilah bagian terburuk dari sebuah sandiwara. Kami terus tersenyum, berpura-pura bahagia dan menerima, bahkan sekadar menunjukkan ketidaksukaan pun tidak kami lakukan (Madasari, 2016:29).

Sikap bapaknya yang suka bergonta-ganti perempuan membuat Jayanegara semakin membenci dan menyimpan rasa dendam. Selain ia harus menyimpan dendamnya seorang diri, ia juga harus kehilangan sosok ibu yang selama ini menemaninya. Hidup Jayanegara semakin berantakan sepeninggal sang ibu, mulai dari malas kuliah hingga rasa dendam yang terus menjadi-jadi kepada sang bapak. Profesor Sukendar, ayah Jayanegara dikenal sebagai dosen di salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Namanya tidak hanya dikenal di dunia pendidikan saja, namun beliau juga kerap dimintai pendapat mengenai permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi di Indonesia. Kharisma yang dibangun oleh bapaknya mampu membuat banyak orang percaya atas apapun yang dikatakannya. Terlepas dari segala sikap buruk dan jabatan yang disandangnya, Profesor Sukendar masih merupakan ayah yang menyayangi anaknya dan peduli atas segala kebutuhan ketiga anaknya.

Hal ini lah yang dialami sosok Jayanegara sebagai objek yang berkekurangan. Sebagai anak pertama yang telah menginjak dewasa, tentu dengan seiring berjalannya waktu membuat ia semakin paham bahwa perilaku bapaknya yang selama ini dilakukan merupakan suatu kebejatan. Terlebih sepeninggal ibunya, Jayanegara seperti tidak punya tonggak hidup yang harus mengarahkannya kemana hidupnya harus dibawa. Pemandangan setiap hari yang harus dilihat oleh Jayanegara hanyalah ayahnya yang bekerja mati-matian demi menghidupi ketiga anaknya. Serta pulang dengan membawa wanita penghiburnya di kala penat yang herannya selalu berganti-ganti. Bahkan ayah Jayanegara tidak pernah sungkan-sungkan untuk masuk ke kamar berdua bersama wanita pengihburnya di depan mata anak-anaknya yang sedang di rumah. Hal tersebut membuat jayanegara semakin geram dan berkeinginan untuk segera menghabisi bapaknya yang bejat itu. Hal tersebut terdapat pada bukti data berikut ini: 

Aku tumbuh bersama Bapak yang menghabiskan hidupnya untuk sekolah sampai tinggi dan kerja dengan mengajar. Lalu aku melihat sendiri bagaimana kebejatan demi kebejatan dilakukannya (Madasari, 2016:142).

Selain itu, dampak dari sepeninggal ibunya membuat Jayanegara menjadi sosok yang berkekurangan dan semakin menjadi tak terkendali. Rasa sedih dan kehilangan yang teramat dalam membuatnya menjadi sosok yang keras. Ia menjadi sosok yang berbeda dari Jayanegara kecil yang masih dipenuhi aturan norma-norma yang diajarkan oleh ibunya. Bahkan kesederhanaan yang diajarkan oleh Mbah Suroloyo pun telah ia lupakan. Berikut adalah contoh kutipannya: 

Di diriku, rasa sedih dan kehilangan itu menggumpal dan mengeras. Dari dalam membentukku menjadi manusia baru yang tak lagi sama dengan saat masih bersama Ibu. Aku menjadi kuda liar yang brutal menabrak apa saja. Tapi aku juga seonggok tubuh usang yang sudah tak lagi bergairah melakukan segala hal. Dan sesungguhnya aku adalah jelmaan bayi yang terus berulah untuk mendapatkan perhatian (Madasari, 2016:18).

Bentuk-bentuk kekurangan (lack) pada diri Jayanegara kebanyakan timbul dari rasa dendam terhadap bapaknya. Jayanegara selalu berusaha untuk menjalani hidup dengan tidak bergantung kepada bapaknya, namun segala hal yang telah dilakukannya sia-sia. Bahkan membuat jayanegara terlihat semakin kalah dihadapan bapaknya. Bentuk kekurangan pada diri Jayanegara juga dipengaruhi oleh hilangnya sosok ibu dari kehidupannya. Ia merasa banyak yang hilang semenjak kepergian ibunya, amka dari situlah semakin timbul banyak rasa berkekurangan pada diri Jayanegara.

Fase Yang Simbolik Pada Tokoh Jayanegara Dalam Novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari

Konsep yang ketiga dari psikoanalisis Jacques Lacan yaitu tatanan simbolik. Pada fase inilah anak harus mengalami kastrasi yaitu tahap disaat anak harus berpisah dengan ibunya. Ibu dipandang sebagai liyan sebab ibu tak lagi dilihat sebagai satu kesatuan pada diri sang anak. Kemunculan sang ayah semakin memperburuk keadaan yaitu dengan menyebabkan anak kehilangan objek hasratnya, yaitu ibu.

Manusia yang telah memasuki fase yang simbolik akan terjebak dengan permainan bahasa. Semua keinginannya yang ingin terpenuhi harus disampaikan melalui bahasa. Sekali manusia memasuki fase ini maka semua kebutuhan organisnya berjalan melalui jaringan makna dan di transformasikan dalam cara tertentu yang tidak pernah terpuaskan. Lacan juga menegaskan bahwa subjek secara lingusitik tidak hanya dipaksa pada tahap prasadar tetapi juga pada tahap tidak sadar.

Hasrat yang ada pada diri Jayanegara timbul atas permintaan yang tidak terpenuhi atas bapaknya. Karena kebejatan bapaknya terhadap ibu, adik-adik, dan dirinya menyebabkan keinginan untuk menghabisi bapaknya tersebut. Tidak peduli menggunakan cara apapun, Jayanegara akan menempuh yang terpenting adalah misi utamanya berhasil. Misi utama dari Jayanegara adalah menghancurkan nama baik bapaknya dan membongkar semua aib yang telah disimpannya rapat-rapat selama ini. Namun bukan hal mudah bagi Jayanegara untuk melakukan misi tersebut karena Profesor Sukendar juga merupakan sosok yang cukup mempunyai nama di negeri ini. Untuk menjalankan misinya, Jayanegara harus memulai di lingkungan yang baru dan dengan identitas yang baru. Karena jika dilakukan dilakukan pada lingkungan yang lama dan menggunakan identitas yang lama, maka misi yang dijalankannya akan mudah saja digagalkan oleh bapaknya. Di lain sisi, Jayanegara juga tidak mau hidup dibawah naungan bapaknya yang bejat itu.

Di dunia barunya, Jayanegara memiliki identitas baru dan nama baru yaitu Matajaya. Matajaya dikenal sebagai sosok pemberani yang berani menentang ayahnya karena berselingkuh. Matajaya sangat terkenal di dunia barunya sebagai pahlawan sangat berbeda jika dibandingkan dengan sosok Jayanegara. Hal tersebut didukung pada kutipan data berikut ini:

Aku memulai hidup baruku dengan nama baru: Matajaya. Sebagai Matajaya, aku bisa bebas bercerita tentang apa saja dan melakukan apa saja. Termasuk membalas dendamku pada Bapak (Madasari, 2016:13).

Setelah mengetahui berbagai kebejatan yang dilakukan oleh Profesor Sukendar, Jayanegara tidak tinggal diam. Ia terus mencari cara bagaimana agar aib yang selama ini ditutupi oleh Profesor Sukendar segera diketahui oleh semua orang, terutama ibu Jayanegara. Hal pertama yang dilakukan yaitu dengan mengajari sang ibu bagaimana cara membuka gawai dan membuka foto-foto yang ada di dalamnya. Jayanegara sengaja meminta gawai kepada bapaknya untuk bisa membongkar semua kebejatannya, sedangkan ibu Jayanegara dibiarkan tidak tahu cara menggunakan barang tersebut. Hal tersebut dilakukan Jayanegara secara diam-diam untu melancarkan misinya. Berikut merupakan kutipan data yang merujuk ke gagasan di atas: 

Aku memiliki HP, enam bulan setelah Bapak memilikinya. Seperti anak yang baru punya mainan baru, sepanjang hari aku pun memainkannya. Suatu sore sebelum Bapak pulang, Ibu memintaku mengajarinya. Aku tahu, Ibu minta diajari bukan karena dia mau memiliki. Ibu pasti punya niat untuk membuka HP Bapak. Aku pun mengajarinya dengan penuh semangat. Inilah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk membalas sakit hati Ibu tanpa harus terang-terangan menyalahkan Bapak (Madasari, 2016:28).

Hasrat muncul tidak hanya karena seseorang memasuki fase the symbolic yang dipengaruhi oleh makna dan hilangnya the real tetapi juga dimulai ketika dorongan terpisah dari subjek dan mengalami kondisi yang berkekurangan. Hasrat berasal dari persepsi subjek tentang perbedaannya dari objek yang ia identifikasikan sebelumnya di fase imajiner atau yang disebut fantasi. 

Masa lalu yang kelam membuat subjek akan selalu berusaha menutupi rasa berkekurangan yang di dapatnya pada masa itu. Rasa trauma dan benci yang cukup lama mengendap berubah menjadi hasrat untuk membalaskan dendamnya tersebut. Hasrat yang ada pada diri Jayanegara yaitu hasrat untuk menghancurkan nama baik bapaknya. Hal tersebut tentunya berkesinambungan dengan sikap bejat pada bapaknya sehingga membentuk diri Jayanegara yang baru. Dan melalui sosok Matajaya lah, Jayanegara menyampaikan segala hasrat atas bapaknya. 

Dengan keahlian yang dimilikinya, seorang Matajaya mendadak menjadi sosok yang ceritanya banyak dinantikan layaknya Akardewa. Cerita yang diusungnya tentu mengenai kebusukan ayahnya yang seorang profesor tersebut. Jayanegara merasa puas bisa menceritakan segala kebejatan bapaknya meskipun terdapat sedikit kebohongan. Hal tersebut didukung pada kutipan berikut ini: 

Aku ikut bersuara karena inilah saat yang tepat untuk mulai membalas semua yang telah Bapak Saat aku mengatakan itu, aku bisa merasakan seluruh telinga sedang diarahkan padaku (Madasari, 2016:107).

Permasalahan subjek dalam mempertahankan cinta harus berimbang dengan sikap yang dilakukan guna mendapatkan kepuasan atas dirinya. Segala hal yang menentangnya untuk mendapatkan cinta yang subjek inginkan akan ditentang oleh subjek. Tak terkecuali pertentangan yang dilakukan Jayanegara dengan bapaknya untuk menarik perhatian Maera. Jayanegara yang telah lama mengetahui bahwa Profesor Sukendar telah mengincar kekasihnya sejak lama membuat ia terus bersikap was-was atas bapaknya. Timbulah hasrat atas cinta pada diri subjek untuk memiliki Maera seutuhnya. Subjek tidak ingin merasakan kekalahan lagi atas bapaknya, terlebih Maera adalah satu-satunya orang yang paling mengerti subjek saat itu. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut:

 Malam itu sepulang siaran, kubawa Maera ke daerah utara kota. Daerah pegunungan yang dingin dan sepi dengan kamar-kamar yang disewakan di sepanjang jalan. Tanganku dingin bukan karena cuaca, tubuhku tegang bukan karena terangsang. Kutengokkan kepalaku ke arah Maera. Ia terlihat berbeda. Tidak santai dan riang seperti biasanya (Madasari, 2016:48).

Permintaan atas cinta adalah permintaan atas penyatuan diri setelah mengalami dan menyadari keterpisahan diri atas ibu semasa bayi yang kemudian menciptakan konsep keliyanan. Kesadaran tentang keterpisahan ini atau kenyataan tentang keliyanan menimbulkan kecemasan dan perasaan akan kehilangan (loss).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari terdapat ketiga rangkaian konsep psikoanalisis Jacques Lacan, antara lain Yang Nyata (kebutuhan), Yang Imajiner (permintaan), dan Yang Simbolik (hasrat). Rangkaian mekanisme pembentukan subjek tersebut mengarah pada tokoh utama pada novel tersebut yaitu Jayanegara. Dalam cerita tokoh Jayanegara diceritakan sejak kecil hingga beranjak dewasa, sehingga subjek telah melewati ketiga konsep psikoanalisis Jacques Lacan.

Posting Komentar

0 Komentar