Hari Santri Sekadar Romantisme Sejarah, Santri pun Salah Arah

Oleh: Tami Lestari, S.Pd
(Pemerhati Generasi)

IMPIANNEWS.COM

Sosok santri adalah sosok berjasa bagi bangsa Indonesia. Santri merupakan simbol perlawanan umat muslim kepada Belanda yang menjajah Indonesia. Santri mewujudkan Resolusi Jihad melawan penjajah dengan modal keimanan dan balasan bagi orang yang mati syahid. 

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) selalu diperingati setiap 22 Oktober dengan mengambil momentum lahirnya Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945.

Dikutip dari laman republika.co.id., spirit Resolusi Jihad tersebut untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan RI yang masih seumur jagung, pasca proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Kolonial Belanda waktu itu masih belum bisa rela atas kemerdekaan RI. 

Perlawanan rakyat Indonesia terhadap upaya penjajahan kembali oleh kolonial Belanda terus membara berkat Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945. Itulah yang membuat semangat membara rakyat Indonesia untuk menentang upaya penjajahan kembali oleh kolonial Belanda dan sekutunya. Hingga pecah peristiwa 10 November 1945 yang meluluhlantakkan pasukan sekutu walau Surabaya bersimbah darah dan berpuing rata tanah.

"Spirit peringatan Hari Santri tersebut mengingatkan bahwa pengabdian santri dan kiai untuk negeri ini adalah lahir batin hingga titik darah penghabisan. Tidak akan ada NKRI tercinta tanpa adanya kegigihan dan keikhlasan kiai dan santri," ujar Kiai Arif.

Perayaan hari santri pun diadakan di berbagai daerah, berbagai kalangan. Mulai dari anak TK hingga sekelas pejabat pun ikut memeriahkan perayaan santri dengan cara menggunakan pakaian khas santri, yaitu bergamis bagi muslimah dan bersarung bagi muslim. 

Namun, sejatinya perayaan hari santri ini merupakan bentuk penghargaan terhadap adanya seruan jihad melawan penjajah. Ironisnya, saat ini peringatan hari santri justru bertentangan dengan karakter santri yang menjadi sebab penetapan hari santri. Bahkan saat ini, para santri dibiarkan diam dengan kondisi negeri ini yang masih terjajah. 

Penjajahan yang dialami hari ini bukanlah penjajahan yang mengharuskan kita melawan secara fisik, dengan kemampuan bertarung juga menggunakan senjata. Penjajahan gaya baru ini merupakan penjajahan secara sistem dan pemikiran. Contohnya negara membuat UU dan kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang yakni pemilik modal atau para kapitalis dan hanya menyengsarakan rakyat terutama orang yang beragama Islam. Ini merupakan salah satu fakta bagaimana sistem kapitalis-sekuler diterapkan.

Dari fakta tersebut, seharusnya agenda utama para santri yaitu mengusir penjajahan dari negeri kaum muslim dengan semangat jihad yang diajarkan Rasulullah. Dan negara mendukung para santri untuk  menjadi pelaku perubahan di tengah penajajahan yang masih bercokol. 

Namun alih-alih mengarahkan potensi para santri pada kebangkitan Islam, negara justru membajak potensi para santri demi kepentingan ekonmoi para pemilik modal. Bahkan pembelajaran santri saat ini bermuatan kurikulum moderasi beragama yang menerapkan nilai-nilai kebebasan. 

Bagaimana santri bisa memberikan kontribusi pada kebangkitan Islam, jika para santri itu sendiri dijauhkan dari tsaqafah Islam?

Seharusnya para santri dibina dengan benar melalui pemikiran Islam secara kafah, yang menumbuhkan pemikiran cemerlang. Karena dari santrilah cikal bakal calon ulama akan lahir. Tentunya harus mendapat perhatian agar paham permasalahan umat. Santri adalah harapan lahirnya gelombang perubahan untuk menentang segala bentuk penjajahan yang diciptakan oleh sistem kapitalis sekuler. 

Sejatinya pemuda yang memiliki mabda Islam hanya akan mampu dicetak oleh lembaga dakwah yang berideologi Islam itu sendiri. Sebagaimana lembaga dakwah yang dibina oleh Rasulullah saw., beliau berhasil mencetak pemuda-pemuda yang kokoh keimanannya, amalnya tinggi dan siap berjuang melawan segala penjajahan, demi kemuliaan Islam. 

Oleh karena itu, arah pembinaan dan pengajaran di pesantren harus tetap dikawal. Agar terap lurus dan tidak dibajak potensinya oleh kepentingan ideologi kapitalis sekuler. Tugas umat Islam ini juga bertambah. Tak lupa pula mengoreksi penguasa dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Wallahu a'lam bishshawab

Posting Komentar

0 Komentar