Deraan Atas Tangan Penuh dengan Harta pada Hikayat Raja Jumjumah


IMPIANNEWS.COM

Salah satu peninggalan budaya masa lampau yang diwariskan oleh nenek moyang adalah naskah lama. Naskah lama biasanya berisi mengenai sejarah, sastra, agama, ajaran moral, obat-obatan dan cara pengobatannya, serta sistem penanggalan, dan lain sebagainya. Naskah-naskah lama yang berupa buku umumnya mengandung cerita yang lengkap. Kelengkapan cerita inilah yang mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang isi naskah. Oleh karena itu, naskah lama menjadi media informasi yang sangat berharga apalagi pada saat ini. Dengan mempelajari naskah lama, maka kita akan mengetahui bagaimana pemikiran yang tercipta, perasaan, adat kebiasaan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku pada masa lampau. 

Dari banyaknya naskah lama Indonesia, yang ditulis dari berbagai bahasa dan daerah, naskah-naskah Melayu pun mendominasi pernaskahan di Indonesia. Naskah Melayu ditulis dalam bahasa Melayu dengan menggunakan huruf Arab Melayu atau disebut juga huruf jawi. Pada umumnya, kertas menjadi media penulisan naskah-naskah Melayu. Salah satu manfaat dari penelitian terhadap naskah Melayu adalah kita dapat memperoleh pelajaran moral yang berharga dan tentu sangat memungkinkan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Naskah Melayu biasanya berupa karya sastra, bahkan hampir setengah bagian naskah Melayu berisi karya sastra. Naskah Melayu lama yang berupa karya sastra dapat digolongkan berdasarkan tiga jenis penggolongan, salah satu di antara ketiganya adalah penggolongan berdasarkan pengaruh asing, yaitu hasil sastra yang mendapat pengaruh Islam. Hikayat Raja Jumjumah menjadi salah satu karya sastra Melayu lama yang mendapat pengaruh Islam dan dapat dijadikan acuan pembelajaran terutama dalam ranah pendidikan agama Islam.

Hikayat Raja Jumjumah

Hikayat yang termasuk dalam jenis prosa karya sastra Melayu lama berisi tentang cerita sejarah, kisah, riwayat, dan bahkan cerita fiksi. Hikayat biasanya berbahasa Melayu dan berguna sebagai hiburan sekaligus sebagai pembakar jiwa kepahlawanan dan guna mengabadikan segala kejadian dalam sebuah kisah atau riwayat.  

Hikayat Raja Jumjumah, kata Jumjumah dalam bahasa Belanda, yaitu _bekkelen_ atau _schedel_ , berarti ‘batok kepala’ atau ‘tengkorak’. Hikayat Raja Jumjumah adalah cerita tentang tengkorak yang dapat berbicara. Hikayat Raja Jumjumah digolongkan ke dalam karya sastra Melayu lama yang mendapat pengaruh Islam karena isinya banyak berkaitan dengan agama Islam terutama mengenai keutamaan salat di samping bentuk ibadah lainnya, sehingga siksaan akan diterima oleh orang yang tidak pernah salat semasa hidupnya, siksa kubur, maupun siksa neraka dirasakan oleh Raja Jumjumah. 

Bersedakah Namun Sia-Sia

“Lagi dengan murah hamba sekira-kira dalam sehari semalam laksana dinar dan dirham hamba memberikan sedekah kepada segala fakir dan miskin dan darwis, dan pada sehari-hari seribu kain dan seribu tengkuluk yang hamba beri akan segala alim dan muta’allim dan segala ulama dan hukama. Demikianlah perihal perbuatan hamba di dalam dunia senantiasa sedekah.”

Ibadah atau amalan yang harus dilakukan namun seharusnya disembunyikan adalah sedekah. Amalan sedekah memiliki padahal yang besar. Meskipun kita membagikan sebagian dari harta kita, namun melalui sedekah kita akan mendapat banyak manfaat. Salah satunya dengan sedekah harta kita akan bertambah. Lalu, dengan sedekah, maka pahala akan mengalir kepada kita karena doa-doa yang dipanjatkan oleh orang yang menerima sedekah dari kita dan dengan sedekat kita akan mendapatkan syafaat. 

Kemudian, apakah Hikayat Raja Jumjumah bercerita tentang Raja yang sangat dermawan dan penuh dengan kebahagian? Tidak. Raja Jumjumah memanglah orang yang dermawan. Ia senantiasa sedekah semasa hidupnya, bahkan ia juga memperbaiki masjid-masjid dan langgar yang ada di benua Mesir dan Syam sebagai daerah kekuasaannya semasa menjadi Raja. Namun, Raja Jumjumah adalah orang yang sangat dimurkai oleh Allah Swt. karena ia tidak pernah menyembah Allah, tidak pernah wudu dan salat semasa hidupnya. 

“Demikianlah perihal perbuatan hamba di dalam dunia, tetapi Allah Ta’ala Tuhan Seru Sekalian Alam jua yang tiada disembah oleh hamba, sebab daripada harta benda hamba banyak dan lagi hamba tiadalah kenal Ia jua yang menjadikan sekalian alam, itulah lupa hamba kepada-Nya, sungguh Dia-lah yang memberi kebesaran hamba dan kekayaan hamba ya Nabi Isa ruhu’ l-Lah”

Raja Jumjumah lalai terhadap kekayaan dan kekuasaan yang telah Allah berikan kepadanya. Ia menggunakan harta, kekayaannya dengan baik, namun ia tidak pandai bersyukur dan tidak memikirkan bahwa semuanya akan binasa, lalu kembali kepada-Nya.

Siksaan Bagi Orang yang Durhaka Lagi Celaka

“Hatta, seketika lagi maka datanglah malakulmaut kepada hamba dengan terlalu azimah bunyinya dan hebat lakunya datang ia menghampiri hamba, dan berjejak kakinya pada tujuh lapis bumi dan kepalanya sampai pada tujuh lapis langit dan sebelah sayapnya yang dari kanan daripada rakhmat, dan sebelah sayapnya yang dari kiri daripada azab.”

Raja Jumjumah menceritakan segala yang ia alami kepada Nabi Isa. Tidak lupa pula ia menceritakan betapa mengerikannya rasa sakit yang ia terima ketika sakratul maut. Tanpa dapat berbuat apa-apa Raja Jumjumah hanya menerima segala siksaan sakratul maut ini. Lidahnya tidak kuasa mengucapkan kalimat syahadat. Begitu dahsyat siksaan yang menimpa Raja Jumjumah saat itu. Kakinya dipegang oleh Malaikat agar tidak dapat bergerak. Mencucurkan temabaga yang hancur ke dada Raja Jumjumah, hingga ia merasakan sakit, menderita, dan panasnya cucuran tembaga itu. Lehernya dibelenggu dan dirantai, serta api dimasukkan oleh malaikat ke mulut Raja Jumjumah. Betapa mengerikannya siksaan malaikat kepada orang yang durhaka lagi celaka itu. 

“Setelah sudah, ia berkata-kata kepada bumi itu, maka hamba pun dijepitlah oleh bumi, maka habislah luluh lantak tubuh hamba, serta daging hamba pun hancurlah cerai berai, dan sendi tulang hamba pun habislah remuk, maka berkata bumi itu kepada hamba, “Hai orang yang durhaka celaka, tetkala engkau di atas belakangku segala mana kehendakmu kau berbuat di atasku akan durhaka seperti zina dan lain-lainnya apa yang dilarangkan Allah Subhanahu Wata’ala dan membawa segala busuk dan hanyir, maka sangat sakit aku menanggung engkau, sekarang rasai olehmu sekarang ini aku pijatkan mengeluarkan rezeki yang di dalam perutku.”

Bukan hanya siksaan ketika mengahadapi sakratul maut, Raja Jumjumah juga mendapatkan siksaan kubur yang sangat dahsyat. Tubuhnya yang dulu perkasa, elok, sangat dibangga-banggakan hingga dapat menjadi seorang raja, kini tidak berarti apa-apa. Di dalam kubur, tubuhnya remuk, luluh lantak, bercerai berai tidak karuan. Segala rezeki yang pernah di rasakan dan masuk ke dalam perut Raja Jumjumah pun dijadikan sasaran siksaan agar dapat dikeluarkan dari badan Raja Jumjumah. 

 “Setelah itu, maka hamba pun dibawanyalah oleh malaikat itu berjalan ke neraka. Dan apabila hamba datang ke pintu neraka itu, maka diberikanlah hamba kepada Malaikat Zabaniyah. Dan kata malaikat yang membawa hamba itu, “Hai Malaikat Al-Zabaniyah, masukkanlah orang yang durhaka celaka ini ke dalam neraka dan kenakan siksa yang amat sangat akan siksanya itu”. Dan setelah itu, maka hamba pun dimasukkan ke dalam neraka dan dikenakan siksa yang amat sangat siksanya itu, terlalu amat banyak berbagai-bagai siksa dan azab Allah [Ta’ala] hamba lihat dan hamba rasai, maka hamba pun terlalu sangat menangis dan mengerang melihat dan merasai perihal siksa neraka yang demikian itu.”

Siksaan terakhir yang didapat oleh Raja Jumjumah adalah siksa neraka. Bahkan di dalam Hikayatnya, Raja Jumjumah mengatakan kepada Nabi Isa bahwa ia hanya bisa menangis, mengerang dan merasakan siksa neraka itu. Raja Jumjumah sudah diazab dan mendapat kemurkaan atas apa yang ia lakukan semasa hidup di dunia. Ia menjadi Raja dermawan dan sangat disayangi oleh anak dan istri, keluarga, dayang-dayang, serta rakyatnya tidak menjamin ia akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Tidak ada yang dapat menolongnya, kecuali satu hal, yaitu manfaat atau faedah yang didapatkannya dari amalan bersedekah. Segala makanan yang nikmat-nikmat, pakaian yang bagus-bagus, emas dan permata yang pernah dipakai, ternyata menjadi jalan siksa dan azab Allah swt. kepada Raja Jumjumah.

Hikmah Dari Hikayat Raja Jumjumah

Setelah penjabaran yang panjang tersebut, dapat kita tarik kesimpulan akan hikmah-hikmah yang berguna. Pertama, Hikayat Raja Jumjumah mengajarkan kepada kita, bahwa hidup di dunia bukan hanya perihal kesenangan semata. Bukan hanya melakukan amalan-amalan semata, namun utamanya manusia diciptakan untuk beribah kepada Sang Pencipta. Hal krusial yang tidak dapat ditinggalkan dan digantikan dengan amalan lainnya adalah salat. Salat adalah tiang agama. Salat menjadi amalan atau ibadah utama yang harus dikerjakan. Meninggalkan salat secara sadar dan sengaja akan menjadikan kita sebagai orang yang durhaka lagi celaka. Bahkan memungkinkan pula kisah yang diceritakan oleh Raja Jumjumah kepada Nabi Isa atas siksaan yang ia terima, dapat kita rasakan juga nantinya jika memang kita dengan sengaja tidak mengerjakan ibadah utama ini, yaitu salat. 

Kemudian, selain itu, dalam Hikayat Raja Jumjumah juga mengajarkan kita agar senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Bersedekah, dan memberikan kebahagiaan kepada sesama. Namun, tidak dapat pula kita lalai dalam ibadah atau amalan utama agama yang kita anut. Terakhir, hikmah yang dapat kita petik dari Hikayat Raja Jumjumah adalah kekayaan yang kita punya saat ini akan tetap dipertanggungjawabkan nantinya di akhirat. Segala bentuk barang, makanan, atau apapun yang kita beli dari harta yang kita punya akan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, gunakanlah harta dan kekayaan yang kita punya dengan sebaik-baiknya. Belilah barang atau sesuatu yang memang kita perlukan, jangan membeli barang atau sesuatu hanya karena ingin dilihat oleh manusia lain. Ingatlah bahwa dunia ini hanya sementara, kita sebagai manusia nantinya akan pulang kepada Sang Pencipta. 

*Hanifahtul Hidayah, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang*

Posting Komentar

0 Komentar