Pola Hidup Konsumtif dan Problem Kapitalistik Sampah

Ilustrasi Tumpukan Sampah

Oleh: Dewi Royani, MH

IMPIANNEWS.COM

Dibalik kemeriahan hari raya Idul Fitri tahun ini, lonjakan volume sampah menjadi persoalan baru setelah kemacetan. Lonjakan volume sampah cukup terasa signifikan saat libur lebaran hampir merata diseluruh wilayah di Indonesia. Seperti yang terjadi di Kota Bandung. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Dudy Prayudi, mengatakan tonase dihari biasa sekitar 1200 ton, kita prediksi peningkatan ke 1250-1260 ton per hari di hari lebaran (republika.co.id, 02/05/2022).

Persoalan sampah ini tentunya membutuhkan perhatian dan solusi tuntas. Terlebih Indonesia merupakan kontributor sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok dengan estimasi 0,48–1,29 juta metrik ton per tahun. Menurut Lebreton dalam River Plastic Emissions to The World’s Oceans (2015), masalah sampah di Indonesia umumnya disebabkan oleh aktivitas antropogenik dari darat yang kemudian masuk ke laut melalui sungai-sungai yang ada. (tribunnews.com,26/11/2021).

Data yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui bahwa pada 2020 total produksi sampah nasional telah mencapai 67,8 juta ton. Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Atau setiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari. (indonesia.go.id,21/02/2021).

Apabila ditelisik faktor utama sampah berasal dari perilaku masyarakat yang semakin konsumtif. Menurut Ancok dalam Nuansa Psikologi Pembangunan (1995), perilaku konsumtif adalah perilaku yang tidak dapat menahan keinginannya untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan tanpa melihat fungsi utama dari barang tersebut.

Berdasarkan definisi tersebut prilaku konsumtif dapat diartikan bila orang tersebut membeli sesuatu di luar kebutuhan (trend) tetapi sudah kepada faktor keinginan (want). 

Penyebab pola hidup konsumtif dimasyarakat tidak dapat dilepaskan dari pandangan hidup dan orientasi kehidupan. 

Dimasyarakat yang diatur oleh ideologi  kapitalisme seperti saat ini, materi dan kepuasan materi adalah menjadi orientasi utama dalam hidup. Ideologi barat ini menjadikan kepuasaan individual sebagai tolok ukur kebahagiaan sehingga muncullah gaya hidup konsumtif. 

Orang yang memiliki gaya hidup konsumtif tak terbersit harta yang dimiliki dan  dikonsumsi akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Karena yang dikejar adalah kepuasaan semata,mereka tak segan untuk membeli barang agar mereka bisa tampil beda, bisa memamerkan dirinya sesuai mode terkini. Dan tentunya barang yang dibeli ini minimal terbungkus dengan kantong plastik Dampak langsungnya adalah volume sampah meningkat. Perilaku tersebut disebabkan karena Ideologi kapitalisme lahir dari aqidah sekulerisme yakni memisahkan agama dari kehidupan. 

Oleh karena itu, apabila solusi sampah hanya berputar di antisipasi dampak tanpa mengatasi akar masalah yaitu merubah mindset konsumtif masyarakat maka solusi tersebut hanya tambal sulam. Fakta pun menunjukkan berbagai solusi telah ditawarkan mulai dari bank sampah, gerakan pungut sampah, kampanye pengurangan kantong kresek, zero waste lifestyle dan lain sebagainya. Namun sampai saat ini belum ada yang benar-benar efektif menangani masalah sampah. Untuk itu pola hidup konsumtif masyarakat harus dirubah dengan pola konsumsi yang tepat dan benar. 

Konsep pola konsumsi yang tepat dan benar itu ada dalam Islam. Islam mendorong produktifitas dan tidak melarang aktivitas konsumsi. Namun Islam mendorong gaya hidup bersahaja. Mengkonsumsi sesuai kebutuhan dan melarang menumpuk barang tanpa memanfaatkannya. Hal tersebut dilakukan bukan karena asas manfaat melainkan karena dorongan keimanan.

Allah Swt berfirman :

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” ( QS. Al-Isra:26).

Islam pun mengajarkan agar setiap individu memiliki kesadaran bahwa setiap harta yang digunakan akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat. Dari sisi masyarakat dan negara tidak akan menyuburkan pola konsumtif seperti masyarakat kapitalis. 

Tolok ukur kebahagiaan bukan dengan membeli barang apapun melainkan dapat bersedekah dengan dorongan mendapatkan rido dari Allah Swt.

Industri periklanan dan media akan diatur oleh negara supaya tidak menampilkan hal-hal yang mendorong masyarakat untuk berperilaku konsumtif. Masyarakat akan didorong untuk mengkonsumsi sesuai kebutuhan. Masyarakat akan diedukasi untuk memiliki kesadaran memilah sampah sesuai jenisnya. Negara akan mengatur desa dan kota agar sampah yang dihasilkan dalam jumlah yang normal dan dapat dikumpulkan di tempat khusus. Selanjutnya sampah akan dikelola oleh negara dengan menggunakan teknologi canggih  supaya tidak mencemari lingkungan. 

Inilah solusi yang ditawarkan islam. Namun individu, masyarakat dan negara yang demikian tidak akan terwujud kecuali dalam sistem Islam yang menerapkan Islam kaffah yaitu daulah khilafah.

Posting Komentar

0 Komentar