Buah Kapitalis Mencetak Anak Egois dan Durhaka


Oleh Nur Fitriyah Asri
Penulis Opini Bela Islam Akademi Menulis Kreatif

"Orang tuamu Tiket Surgamu." Rasulullah saw. bersabda, "Kedua orang tua itu pintu surga yang paling tengah. Kalau kalian mau memasukinya, jagalah orang tua kalian. Kalau kalian enggan memasukinya, silakan menyia-nyiakan mereka." (HR. At-Turmudzi)

Mengacu pada hadis di atas, sebagai seorang anak seharusnya menyadari akan kewajibannya berbakti kepada orang tuanya. Terlebih lagi jika kondisi orang tua sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan. Namun, saat ini banyak kejadian seorang anak mengabaikan peran mulia tersebut karena merasa terbebani. Sayangnya, tanpa mereka sadari sungguh telah menabrak hukum syarak.

Merinding melihat fenomena yang mengoyak hati nurani. Banyak kejadian di luar nalar sehat, betapa tidak! Seorang anak tega membunuh ibunya karena warisan, ada anak yang membuang ayahnya hingga meninggal. Kisah viral seorang ibu bernama Aisyah (87 tahun) diminta anaknya beli barang lalu ditinggal, sang putri tak kunjung datang menjemput, tidak tahunya sengaja membuang ibunya. Bahkan, dalam sistem kapitalis sekuler banyak yang ibunya dijadikan pembantu diperlakukan sebagai budak (tidak dibayar).

Belum lama ini ada kejadian yang memilukan sekaligus membuat marah netizen. Viral, surat pernyataan tiga orang anak menyerahkan ibunya bernama Trimah ke panti jompo. Pada tanggal (31/10/2021), Trimah (65 tahun) warga Magelang, Jawa Tengah, diserahkan ke Panti Jompo Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang Jawa Timur, dengan alasan sibuk dan tidak mampu membiayai. (Viva.co.id, 31/10/2021)

Nenek Trimah mengaku mempunyai tiga anak, dua anak perempuan dan satu laki-laki. Suami anaknya sebagai tukang ojek dan satunya sopir. Sedangkan anak laki-lakinya bekerja sebagai sopir di Jakarta dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19.

Akar Masalahnya Kapitalis Sekuler

Semua kejadian tersebut di atas berlatar belakang ekonomi, akibat diterapkannya kapitalis sekuler, yakni sistem yang mendewakan materi dan menafikan agama. Ekonomi hanya dikuasai oleh pemilik modal (kapital) yakni konglomerat, korporat (perusahaan) baik swasta, asing maupun aseng.

Inilah penyebabnya, sehingga tidak ada keadilan ekonomi.

Dalam sistem kapitalis berlaku hukum rimba siapa yang kuat dia yang menang.

Akibatnya, terjadi kesenjangan ekonomi yang kaya bertambah kaya dan yang miskin semakin miskin. Siapapun tidak memungkiri bahwa materi atau uang merupakan faktor utama yang diburu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, bagi ekonomi lemah untuk memenuhi kebutuhan hidup saja sulitnya setengah mati.

Adapun kekayaan alam yang seharusnya dikelola oleh negara untuk menjamin kesejahteraan rakyat, malah justru diprivatisasi. Akibatnya melahirkan kemiskinan sistemik. Sudah begitu, negara lepas tanggung jawab tidak mengayomi dan menjamin kebutuhan rakyatnya. Rakyat dipaksa untuk berusaha dan bertahan hidup sendiri. Tentu saja hal ini membuat beban hidup menjadi berat. Ini disebabkan karena biaya hidup yang sangat tinggi, harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.

Di sisi lain daya beli masyarakat rendah dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan, bahkan banyaknya PHK. Sementara kebutuhan asasi publik seperti pendidikan dan kesehatan berbayar sangat mahal. Hingga ada filosofi orang miskin tidak boleh pintar dan orang miskin tidak boleh sakit. Belum lagi beban pajak dan kebutuhan yang lainnya.

Sulitnya tekanan hidup dan himpitan kemiskinan inilah yang melahirkan karakter egois pada seseorang yaitu mementingkan diri sendiri. Hal ini wajar, karena semua dihitung dengan kalkulator akal manusia yang terbatas, sayangnya minus agama sehingga yang ada hanya rasa khawatir tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi harus berbagi pada orang tua atau orang lain. Hilanglah rasa empati, dampaknya terbentuk karakter individualis dan egois.

Sementara itu, negara berasaskan sekularisme yakni paham yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan rakyat lemah dalam pemahaman nilai agama. Wajar, jika seorang anak kehilangan rasa hormat kepada kedua orang tuanya. Bahkan, menjadi anak durhaka pun bukan menjadi hal yang ditakuti. Sebab, imannya sudah terkikis oleh paham sekularisme yang menafikan agama. Tolok ukur perbuatannya bukan halal dan haram, melainkan berdasarkan materi dan asas manfaat. Alhasil, sistem kapitalis hanya memproduksi kemiskinan massal dan mencetak anak egois serta durhaka. Karena tiadanya pemahaman tentang memuliakan orang tua dan kerasnya tekanan hidup. Sistem yang rusak dan merusak saatnya dibuang dan diganti dengan sistem Islam yaitu khilafah.

Khilafah Solusinya

Sangat berbeda jika diatur dengan sistem Islam (khilafah) yakni sistem shahih yang berasal dari Zat Yang Maha Adil pasti akan memberikan keadilan. Dalam khilafah dapat dipastikan bahwa semua hukum syarak diterapkan, termasuk kewajiban berbakti kepada orang tua. Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh tethina." Ada yang bertanya, "Siapa ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Sungguh hina seseorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga." (HR. Muslim)

Islam telah menunjukkan jalan yang haq dalam menggapai rida Allah Swt. yaitu birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Dalam Islam merupakan amalan yang sangat penting setelah perintah mentauhidkan Allah, kemudian perintah berbakti kepada orang tuanya.

Islam telah mengatur dan mewajibkan kepada anak laki-laki baligh dan mampu bekerja untuk mengurus kedua orang tuanya dengan layak. Sebab, orang tua yang lanjut usia tidak diwajibkan mencari nafkah. Oleh sebab itu, negara menjamin ketersediaan lapangan kerja bagi pencari nafkah. 

Salah satu cara khalifah menyediakan lapangan pekerjaan adalah dengan mengelola semua kekayaan alam yang ada. Dalam hal ini syariat melarang pengelolaannya diserahkan swasta apalagi pada asing dan aseng, hukumnya haram.

Dengan demikian, pengelolaan alam akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya yang jumlahnya banyak untuk para ahli dan pencari kerja. Alhasil, para pencari nafkah akan bisa bekerja, sehingga kebutuhan pangan, sandang, papan dapat terpenuhi. Demikian juga orang-orang yang di bawah tanggung jawabnya.

Adapun kebutuhan asasi publik seperti kesehatan, pendidikan, keamanan menjadi tanggung jawab negara secara mutlak. Oleh sebab itu, semua warga negara baik muslim maupun nonmuslim, kaya atau miskin berhak mendapatkan pelayanan yang sama dengan biaya terjangkau bahkan gratis. Oleh karena itu, tidak sulit memenuhi kebutuhan para lansia dalam khilafah. 

Dalam khilafah tidak ada panti jompo. Sebab, mewajibkan pendidikan Islam mendidik generasi untuk birrul walidain dan memuliakan orang tua. Semua itu perintah syarak mewajibkan berbuat baik kepada orang tua.  Islam melarang bersuara keras 'ah', apalagi sampai menitipkan di Panti Jompo, bahkan membuangnya. Sebagaimana firman Allah Swt.:

اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا


"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. al-Isra' [17]: 23)

Begitulah keagungan dan kemuliaan khilafah. Bagaimana negara menunjukkan tanggung jawabnya kepada rakyat dan cara meriayah terhadap orang tua. Semua itu hanya ada dalam sistem Islam, yakni khilafah yang sebentar lagi akan tegak kembali

Wallahu a'lam bish shawab

Posting Komentar

0 Komentar