Mengenal Makna Dibalik Karya Puisi Terbaik Thomas Stearns Eliot: “Four Quartets”

Foto: iStock

Oleh: Nurul Wahida Rinjani
(Civitas Academica Universitas Andalas)

IMPIANNEWS.COM

Thomas Stearns Eliot atau dikenal dengan T.S Eliot adalah seorang modernis penyair yang dermawan dan kritikus sastra utama. Beliau lahir di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat pada 26 September 1888. Salah satu karya terbaik T.S Eliot adalah “Four Quartets” yang diterbitkan tahun 1943 dan menjadikan T.S Eliot sebagai peraih nobel bidang sastra tahun 1948 serta mendapat gelar kehormatan dari Raja George VI di Kerajaan Inggris Raya. Dibalik karya terbaik T.S Eliot terdapat makna yang bisa kita ketahui sebagai pecinta dunia sastra. Orang yang mencintai tentang sastra mereka akan mengerti bagaimana makna dibalik karya puisi terbaik “Four Quartets”, karya puisi T.S Eliot.

Sejak kecil, T.S Eliot sudah tertarik dan senang dengan dunia sastra, salah satunya dengan membuat puisi. Karya-karyanya menggambarkan bagaimana kehidupan di kota besar dengan berbagai masalah. Selalu membuat puisi, T.S Eliot akhirnya menciptakan karya puisi salah satunya adalah “Four Quartets”. Karya puisi terbaik ini diterbitkan selama periode enam tahun di New York. Ini dimulai dengan narator berjalan ke taman dan mencoba dalam memahami proses dalam kehidupan. Karya ini mengungkapkan wawasan Eliot dalam siklus kehidupan melalui tema dan gambar yang muncul diseluruh puisi.

Selain itu, puisi “Quartets” juga menceritakan tentang empat meditasi yang saling berkaitan dengan melihat hubungan manusia pada waktu, alam semesta, dan illahi. Tema meditasi tentang waktu dan keabadian ini adalah arti dari laporan mistik dan bagaimana kehidupan dalam perjalanan yang melihat bahwa waktu dan alam tidak kosong makna, sehingga suatu kepercayaan hanya pada otoritas.

Karya puisi ini memiliki latar belakang dalam melihat kehidupan di masa lalu dan masa kini secara pribadi dan historis, pembaruan spritual, serta alami dari berbagai pengalaman. Puisi ini terdiri dari empat puisi panjang yang masing-masingnya dibagi menjadi lima bagian yaitu “Burnt Norton” (1936), “East Coker” (1940), “The Dry Salvages” (1941), dan “Little Gading” (1942). Puisi ini juga terdapat unsur pada kehidupan seperti udara, tanah, air maupun api. 

Keempat puisi tersebut memiliki keunikan masing-masing. Pertama, “Burnt Norton” menggambarkan sinar matahari, gemerisik dedaunan dan taman mawar pada musim panas, kedua, “East Coker” menggambarkan ritual panen larut malam dan bicara akhir November serta musim gugur, ketiga, “The Dry Salvages” menggambarkan musim dingin di New England dan terakhir, “Little Gading” menggambarkan musim semi semiternal.

Puisi “Four Quartets” melakukan elaborasi dengan gaya yang berbeda dari jenaka paradoks dan keangkuhan yang sebelumnya ditiru dari metafisika. Awalnya karya puisi ini sulit dalam bentuknya dan termasuk sulit dalam pemikiran. Namun mereka menyajikan pembaca dengan wacana yang sebagian besar tidak dikenal pada zaman sekuler.

Puisi terbaik “Four Quartets” ini memberikan ekspresi yang paling matang, paling kompleks dan lengkap dari pengalaman yang mempercayai sebuah dogma. Puisi ini juga termasuk puisi religius. Maksud gambar-gambar yang terdapat dalam Puisi “Four Quartets” adalah untuk mengkomunikasikan pengalaman subjektif dalam keyakinan agama.

Dalam puisi “Four Quartets” itu T.S Eliot berkata bahwa untuk religius besar lainnya, penyair tidak membujuk agar kita percaya apapun, tetapi beliau mengatakan bagaimana rasanya mempercayai agamanya. Dari perkataan T.S Eliot tersebut, dapat kita ambil makna untuk kehidupan saat ini bahwa sebagai umat beragama hendaknya mempercayai agama sendiri, yang mana saat ini masih ada keraguan terhadap keyakinan sendiri yang menyebabkan terjadinya kekacauan modernisasi, pencarian kedamaian dan kegembiraan dalam arus waktu serta kekekalan terhadap Tuhan.

Berbagai penggemar karya “Four Quartets” mengatakan bahwa puisi ini sangat mereka sukai, menarik dan telah memberikan makna tentang kehidupan masa lalu dan masa kini serta juga untuk gerakan kebangkitan agama. Seorang siswi Katolik bernama Lisa Ampleman yang menyukai karya “Four Quartets” mengatakan bahwa ia biasanya lebih suka fiksi, tetapi ia dihantui oleh baris-baris pada puisi terakhir, “Dan akhir dari semua penjelajahan kita, Akan tiba di tempat kita memulai, Dan mengetahui tempat untuk pertama kalinya”. Bagi Ampleman, karya T.S Eliot ini merupakan pendekatan yang baik untuk menemukan pada usia berapa pun. Puisi-puisi “Quartets” itu berputar tanpa henti masuk dan keluar dari filosofi tentang waktu dan ingatan, mengulangi tema dan gambar.

Adapun seorang yang bernama Manuel Antao setelah membaca dan menganalisis puisi “Four Quartets” mengatakan bahwa ia selalu terkesan dengan pengaruh teks mistik abad pertengahan pada “Four Quartets”. Kemudian, adapun seorang siswa di Cambridge yang bernama Burton Hill yang telah membaca “Four Quartets” mengatakan bahwa “Four Quartets” adalah buku seumur hidupnya karena telah mengubah hidupnya dan selamanya ada dalam hidupnya. Ia kembali kesana terus-menerus, dan itu selalu baru.

Saat ini masih banyak yang menyukai puisi “Four Quartets” karya T.S Eliot tersebut. Sebab karya ini telah memberikan berbagai makna kepada orang yang benar-benar menyukainya. Apalagi di zaman milineal saat ini, sangat penting untuk kita terutama anak generasi muda sekarang agar bisa mengetahui makna dalam puisi “Four Quartets” yang berkaitan dengan sastra. Kita bisa mengetahui berbagai hal di dalamnya, salah satunya tentang agama.

“Four Quartets” juga mengekspresikan gambar, ide, keindahan, dan berbagai emosi pada kata-kata. Angie Anthanassiades dari Inggris mengatakan bahwa puisi mengeksplorasi kompleksitas kondisi manusia dan mendalam serta pemikiran. Seperti kebanyakan karya Eliot, mereka menggabungkan pribadi dengan universal dalam bahasa yang indah dan sangat menyentuh.

Bahkan adapun salah satu kritikus yang menyukai “Four Quartets” yang bernama Santwana Haldar dengan menegaskan bahwa “Four Quartets” telah dihargai secara universal sebagai mahkota pencapaian Eliot dalam puisi religius, yang menarik bagi semua termasuk mereka yang tidak menganut kepercayaan Kristen Ortodoks.

Inilah mengapa puisi “Four Quartets” dianggap puisi terbaik yang juga memiliki makna dari karya T.S Eliot. Selain itu, puisi ini adalah puisi kompleks transparansi yang besar, memiliki keahlian, orisinalitas dan jelas diwarnai oleh pikiran penyair bukan teolog maupun filsuf. T.S Eliot juga telah dianggap sebagai seorang pionir yang membentuk dunia puisi modern dimasa sekarang ini. 

Sebagai pembaca, kita telah mengetahui makna yang terdapat di dalam puisi terbaik “Four Quartets” yang telah dikatakan diatas. Walaupun sebenarnya puisi “Four Quartets” sulit untuk dipahami, namun sebagai pecinta sastra mereka akan memahami makna tersebut secara perlahan. Kita juga mengetahui mengapa puisi ini dinilai terbaik, sebab T.S Eliot adalah seorang penyair yang menekankan puisinya sebagai komunikasi terhadap manusia sendiri dan pertimbangan utamanya adalah hampir tidak pernah yang murni tematik.

Kemudian, dari karya ini dapat kita ambil berbagai makna dalam kehidupan bahwa kita sebagai manusia sangat berkaitan dengan waktu, alam semesta, bahkan illahi. Kita tidak akan pernah terlepas dari hal itu semua. Bahkan kita juga harus mempercayai agama sendiri tanpa ada keraguan atau tebujuk dalam agama lain sebagai aspek religius. 

Terakhir, hal yang terdiri dari empat elemen seperti udara, tanah, air maupun api dalam puisi ini telah memberi makna tentang kehidupan kepada pembaca. Semuanya ada mengandung arti dan tidak kosong makna. Bagaimana hakikat pengalaman, pembaruan spiritual, bahkan hubungan masa lalu dan masa kini pada kehidupan yang dibahas. Puisi ini juga menunjukkan bagaimana kecerdasan representatif pada zaman sekarang yang telah matang untuk mengerti menjadi seorang yang percaya pada kesusahan.

Posting Komentar

0 Komentar