Sarwo Edhie, Lebih 3 Juta Orang Jadi Korban Peumpasan PKI

Sarwo Edhie, Lebih 3 Juta Orang Jadi Korban Peumpasan PKI


Letjen Sarwo Edhy /

IMPIANNEWS.COM (Jakarta).

Sarwo Edhie Wibowo, mertua Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono terkenal dengan perannya dalam G30S PKI.

Sebagai Panglima RPKAD yang kini bernama Kopassus, Sarwo Edhie Wibowo menjadi salah satu penumpas utama pemberontakan G30S PKI.

Namun, siapa sangka. Sarwo Edhie Wibowo pernah memberi selamat dan pelukan kepada putra Dipa Nusantara (DN) Aidit yang merupakan pemimpin PKI.

Berikut kami ulas 7 fakta terkait Sarwo Edhie Wibowo yang pernah menumpas pemberontakan G30S PKI.

1. Menolak Ajakan Komandan Cakrabirawa untuk Memberontak

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari RingtimesBali.com, Sarwo Edhie sempat dikunjungi Komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur untuk bergabung dengan gerakan G30S.

Kala itu, Monumen Nasional (Monas), Istana Kepresidenan, Radio Republik Indonesia (RRI), dan gedung telekomunikasi sudah dikuasai pemberontak bersamaan dengan penculikan enam jenderal.

Sarwo Edhie menolak, bahkan segera mengambil alih RRI Pusat serta Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah dari tangan pemberontak sesuai perintah Soeharto sebagai Panglima Kostrad.

2. Memimpin Pembunuhan Massal Pendukung PKI di Jawa Tengah

Usai Jakarta kembali diambil alih, Sarwo Edhie ditunjuk untuk menumpas seluruh simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Tengah.

Sepanjang Oktober-Desember 1965, jutaan orang dibunuh secara keji di Jawa, Bali, dan beberapa bagian Sumatra.

3. Mengakui Jumlah Korban yang Dibantai Gara-gara G30S PKI

Pada 1989, Sarwo Edhie sempat mengungkap jumlah korban pembantaian tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI), yakni sekitar 3 juta orang.

4. Sempat Melawan Soekarno sampai Kepung Istana

Setelah pemberontahan, Sarwo Edhie mendukung Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang ingin menurunkan Soekarno karena peristiwa G30S PKI.

Saat peristiwa supersemar 11 Maret 1966 pun Sarwo Edhie menjadi pemimpin pasukan yang mengepung Istana Merdeka.

5. Dipindahkan ke Sumatra, Lemahkan Pengaruh Soekarno

Pada 1967, Soeharto sudah menggantikan Soekarno menjadi Presiden RI kemudian memindahkan Sarwo Edhie menjadi Panglima Kodam II/Bukit Barisan.

Sarwo Edhie selanjutnya melemahkan pengaruh Soekarno dengan melarang Partai Nasional Indonesia (PNI) di seluruh Pulau Sumatra.

6. Bertemu dengan Ilham Aidit dan Berpelukan

Sebagaimana dikabarkan Pikiran-Rakyat.com, Sarwo Edhie bertemu dengan putra DN Aidit, Ilham Aidit dalam pelantikan Wanadri tahun 1981.

Ilham menjadi satu-satunya yang dipeluk kendati ia tak sadar siapa sebenarnya Sarwo Edhie itu.

Tiga tahun terlewati, Ilham kembali bertemu Sarwo Edhie dan kini keduanya berbicara empat mata dibalik sebuah tebing di Kawah Upas, Gunung Tangkuban Perahu.

Dalam pertemuan itu, Sarwo menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan saat G30S PKI 1965 hanya untuk melaksanakan tugas dan kewajiban.

Ia pun mengakui langkahnya dalam peristiwa tersebut salah, kemudian mengulurkan tangan perdamaian kepada Ilham. Keduanya berjabat tangan dan saling berpelukan kembali.

7. Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Sarwo Edhie sempat diusulkan menjadi salah satu pahlawan nasional, namun akhirnya gagal karena ditolak keras oleh anak keturunan korban tahanan politik (tapol) G30S PKI.***



Posting Komentar

0 Komentar