Palestina Mohon Bantuan PBB Melawan Agresi Israel di bawah Dukungan AS.

 Palestina Mohon Bantuan PBB  Melawan Agresi Israel di bawah Dukungan AS.


ILUSTRASI pemudi Palestina.* /pixabay

IMPIANNEWS.COM (Palestina).

Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini semakin gencar menormalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab yang mendukung kemerdekaan Palestina.

Aksi 'berani' Presiden AS Donald Trump itu membuat Palestina semakin terjepit dan Israel semakin leluasa bercokol di Timur Tengah.

Palestina pun memohon bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mulai kehilangan kawan dalam melawan agresi Israel di bawah dukungan AS.

Sebagaimana dikabarkan Pikiran-Rakyat.com, dilansir impiannews.com, hingga kini ada dua negara Arab dan satu negara mayoritas Muslim di Eropa yang sudah menormalisasi hubungan dengan Israel.

Bahrain dan Uni Emirat Arab menandatangani 'perdamaian' dengan Negara Yahudi itu di Gedung Putih pada Selasa 15 September 2020 lalu.

Kosovo, tetangga Bosnia-Herzegovina, berdamai dengan Serbia sekaligus Israel di tempat yang sama pada Jumat 4 September 2020 silam.

Palestina yang tak berdaya akhirnya memutuskan keluar dari Liga Arab sebagai aksi protes terhadap lemahnya solidaritas negara-negara Timur Tengah.

Hal ini tak membuat banyak perubahan. Negara-negara mayoritas Muslim kebanyakan masih bergeming.

Mau tidak mau Presiden Palestina Mahmoud Abbas membawa persoalan ini ke hadapan anggota PBB.

Dalam salah satu rangkaian Sidang Majelis Umum ke-75 PBB pada Jumat 25 September 2020, Mahmoud mengungkapkan permintaannya.

Ia memohon agar Sekjen PBB Antonio Guterres mengadakan 'perdamaian nyata sesuai hukum internasional' untuk mengakhiri pendudukan Israel.

"Saya memohon kepada Sekretaris Jenderal PBB bersama Kwartet Timur Tengah dan Dewan Keamanan untuk mulai menyusun konferensi yang diikuti semua pihak mulai tahun depan dengan tujuan memproses perdamaian nyata sesuai hukum dan legitimasi internasional," ujar Mahmoud dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Middle East Monitor.

Menurutnya, konferensi ini harus bertujuan mengakhiri semua pendudukan dan membantu warga Palestina mendapatkan hak kemerdekaannya.

Tak terkecuali, kata Mahmoud Abbas, Yerusalem timur yang seharusnya menjadi ibu kota sesuai perjanjian batas tahun 1967.

"Kami (Otoritas Palestina) selalu menginginkan perdamaian yang komprehensif dan abadi," tegasnya.

"Dan kami menerima prakarsa yang diberikan kepada kami dan saya secara pribadi telah membaktikan hidup saya untuk mencapai perdamaian terutama sejak 1988 lewat Konferensi Madrid, Perjanjian Oslo 1993 dan hari ini," imbuh Mahmoud.

"Kami juga menerima dan menaati Prakarsa Perdamaian Arab," sambungnya.

Menurut Mahmoud, Israel telah jelas-jelas melanggar semua perjanjian dan solusi dua negara lewat aksi kekerasan.

Negara Yahudi itu sudah terlalu banyak membunuh, menangkapi, menghancurkan rumah dan menekan ekonomi warga Palestina.

"Satu-satunya jalan untuk mengabadikan perdamaian di kawasan adalah dengan mengakhiri pendudukan dan mendirikan Negara Palestina Merdeka sesuai batas 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya," pungkas Mahmoud.***


Posting Komentar

0 Komentar