Korut: Perang Nuklir Pilihan Tepat bagi AS

 


Korut: Perang Nuklir Pilihan Tepat bagi AS

Kehabisan cara melunakkan Korea Utara dengan proyek nuklirnya, Amerika menyebut, satu-satunya jalan menundukkan negara itu adalah dengan invasi darat.

Pernyataan ini terlontar dari Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Laksamana Muda Michael Dumont, “Satu-satunya cara untuk ‘menemukan dan menghancurkan secara pasti semua komponen program senjata nuklir Korea Utara’ adalah melalui invasi darat.”

Potensi korban yang muncul akibat invasi ini, lanjut Dumont, amat tergantung pada intensitas serangan balik Korut terhadap ibu kota Korea Selatan, Seoul, yang berjarak 35 kilometer dari perbatasan. Faktor lainnya adalah seberapa jauh peringatan siaga yang didapat AS dan sekutu-sekutunya, tulis BBC.

Menurut Dumont, bantuan serangan dari tembakan artileri dan gempuran udara ke Korut amat mungkin membantu mengurangi jumlah korban.

Risiko yang dihadapi AS dan sekutu-sekutunya adalah kemungkinan digunakannya senjata biologi dan senjata kimia oleh Korut. Meski ada konvensi internasional yang melarang penggunaan senjata tersebut, Korut tidak pernah menandatanganinya.

“Kemungkinan mereka (Korut) menyimpan cadangan (senjata kimia),” sebut Dumont dalam suratnya.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (24/5/2018) mengatakan militer AS “siap jika diperlukan” setelah dia membatalkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong Un. Pernyataan itu pun semakin meningkatkan ketegangan retorika antara Washington dan Pyongyang.

Sang presiden menyebut pembatalan pertemuan itu sebagai “kemunduran terbesar untuk dunia”. Dengan bersesumbar tentang militer Amerika “yang sangat kuat” dan kekuatan sekutu AS, Trump memperingatkan Kim untuk tidak bertindak “bodoh atau ceroboh”.

Sebelas dua belas, Amerika-1 mengamini, jika Korut tetap keras kepala, maka ia tak ragu untuk mengerahkan militernya habis-habisan.

“Saya sudah berbicara dengan Korsel dan Jepang, dan mereka tidak hanya siap jika tindakan bodoh atau ceroboh diambil oleh Korea Utara. Mereka mau menanggung sebagian besar biaya dari beban keuangan, segala biaya terkait operasi Amerika Serikat, jika situasi malang terjadi pada kami,” katanya ketika menandatangani rancangan undang-undang (RUU) yang mengembalikan regulasi bank, dilansir dari CNBC.

Pembatalan pertemuan itu mengurangi harapan pemerintahan Trump untuk segera mencapai kesepakatan perdamaian agar Pyongyang menyerah dari program nuklir dan misil. Pembatalan itu juga membuat sekutu dan anggota dewan AS susah payah menentukan cara terbaik untuk melanjutkan pertemuan, dan memahami bagaimana Trump ingin pembicaraan berlanjut.

Sebelumnya, suami Melania itu mengklaim telah berbicara dengan Menteri Pertahanan AS saat itu James Mattis tentang kesiapan militer. Dana White, Juru Bicara Kepala Pentagon menjelaskan, pemerintahan Trump akan tetap memberlakukan tekanan perekonomian, serta menambahkan “kami siap untuk bertempur malam ini, itu selalu berlaku”.

“Jalan ke depan ada di tangan Korea Utara,” tambah White pada CNBC.

Dalam sebuah surat untuk Kim, Trump menuduh pemimpin diktator itu menunjukkan “kemarahan yang luar biasa dan kebencian yang diungkapkan secara terbuka” menjelang pertemuan. Kemudian, dia kembali menggunakan retorika pedas (yang selama ini dihindari) ke Korut.

“Anda berbicara tentang kemampuan nuklir Anda, tetapi milik kami lebih masif dan kuat, sehingga saya berdoa kepada Tuhan supaya nuklir itu jangan sampai digunakan,” tulis sang presiden.

Retorika Trump ini menurut CNBC mirip dengan sikap agresifnya beberapa waktu lalu, ketika dia mengancam akan membawa “api dan amarah” ke Korut dan menyebut Kim “Pria Roket Kecil”.

Meskipun begitu, Trump tetap mengharapkan resolusi perdamaian atau bahkan penjadwalan ulang pertemuan tingkat tinggi dengan Kim, sambil AS tetap memberi tekanan ekonomi ke Pyongyang. Dia berkata “semua orang jangan cemas” dan “kami harus melakukan ini dengan benar”.

“Jika dan ketika Kim Jong Un memilih berpartisipasi dalam dialog dan aksi yang membangun, saya menantikannya. Untuk saat ini, sanksi terkuat kami, sejauh ini sanksi terkuat yang pernah diterapkan, dan tekanan maksimal akan tetap berjalan seperti biasa,” tegas Trump.

Penulis: Anastacia Patricia

Editor: Aziza Larasati

Keterangan foto utama: Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu di Vietnam pada 27 dan 28 Februari 2019. (Foto: AFP)

Korut Keras Kepala, Perang Nuklir Pilihan Tepat bagi AS

Posting Komentar

0 Komentar