Harga Beras Meroket Buah Pahit Sistem Kapitalisme

Oleh : D.Leni.Ernita

IMPIANNEWS.COM

Setahun terakhir ini harga beras terus mengalami kenaikan tinggi bahkan kenaikan harga beras di tahun 2023 nyaris 20% dibandingkan dengan harga sebelumnya.

Mahalnya harga beras sangat menyusahkan setiap orang karena beras adalah salah satu kebutuhan pokok rakyat.

Dari berita  TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU menemukan adanya kenaikan harga pada sejumlah bahan pokok seperti gula konsumsi, beras, dan cabai merah keriting. Hal itu diungkap Ketua KPPU M. Fanshurullah Asa saat sidak di Pasar Tradisional Cihapit Bandung dan Griya Pahlawan Bandung, Minggu, 11 Februari 2024. 

Fanshurullah menyebut, sidak ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya permainan harga dan penahanan pasokan oleh pelaku usaha tertentu, serta stabilitas komoditas di Jawa Barat jelang Bulan Ramadhan.

"Sejak akhir tahun lalu terdapat beberapa komoditas pangan yang terus mengalami kenaikan harga dan berada di atas HET yang ditetapkan pemerintah," kata Fanshurullah dalam keterangan resmi yang dikutip pada Minggu, 11 Februari 2024.

Dari sidak di Pasar Cihapit, KPPU menemukan kenaikan harga komoditas beras premium secara rata-rata sebesar 21,58% menjadi Rp 16.900/kg. Padahal HET beras premium sebesar Rp 13.900/kg sebagaimana telah ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). "Sedangkan beras medium mengalami kenaikan sebesar 28,44% dari HET sebesar Rp 10.900/kg menjadi Rp 14.000/kg. Cabai merah keriting terpantau mengalami kenaikan yang sangat signifikan jelang ramadan," kata Fanshurullah dalam keterangan resmi, Minggu (11/2).

Data dari panel harga badan pangan nasional hingga 15 Februari menunjukkan rata-rata harga beras perimium dari berbagai provinsi mencapai Rp.15.900/kg, dengan harga paling mahal di propinsi Papua pegunungan senilai Rp25.220/kg. Sedangkan beras medium rata rata harganya Rp13.950/kg, selain mahal beberapa hari ini masyarakat juga sulit mendapatkannya di pasar baik di retail modern maupun di pasar tradisional. (CNN Indonesia).

Beras adalah kebutuhan pokok. Masyarakat Indonesia, harga beras yang mahal tentu saja, akan menyusahkan setiap orang dan bikin waswas. Penghasilan keluarga akan banyak tersedot untuk belanja beras, sehingga menyebabkan pengurangan belanja kebutuhan yang lain ini sangat menyengsarakan rakyat khususnya para ibu rumah tangga yang harus mengatur uang belanja.

Sungguh ironis negeri ini, di tengah guyuran importasi beras yang sedemikian besar, harga beras tidak kunjung turun. jika dikalkulasi, jumlah beras yang diimpor jauh melampaui kehilangan beras akibat penurunan produksi tahun lalu. kalau dibandingkan dengan tinggkat konsumsi beras rakyat Indonesia yang diperkirakan 35,5 juta ton per tahun. Secara hitungan jumlah pasokan  dari produksi dan impor sudah mencukupi kebutuhan.

Seharusnya sebagai negara yang  menyandang gelar negeri agraris tentu tidak layak jika negeri kita, mengalami  kekurangan ketersediaan beras. 

Sebagai bahan makanan pokok utama di Indonesia Indonesia. Apalagi beberapa wilayah di Indonesia sudah ditetapkan sebagai penghasil utama atau lumbung beras di Indonesia. Tapi ternyata kondisi ini tidak membuat rakyat Indonesia kelebihan atau tercukupi kebutuhannya, terhadap bahan makanan pokok ini. 

Terbukti salah satunya dengan besarnya impor yang dilakukan penguasa kita. Seolah pasokan beras dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan rakyatnya. Padahal beberapa waktu kebelakang persediaan beras di  Bulog dinyatakan aman.  

Nah ini, berarti mengindikasikan adanya sebuah permainan yang terjadi di dalam negeri. Dan di negeri ini selain kita terkendala dengan masalah tata kelola pertanian juga memang terindikasi adanya pemain-pemain gelap dalam penyediaan, pendistribusian dan bisnis beras. Dimana kebijakan impor dan fleksibilitas harga yang diterapkan pemerintah berpeluang untuk dimanfaatkan para mafia untuk mendapatkan keuntungan yang besar dengan berbagai modus. Salah satunya dengan cara mereka memborong beras Bulog berharga murah dan menimbunnya, termasuk beras yang dijual saat operasi pasar lalu pada saat yang tepat mereka akan lempar ke pasar dan menjualnya dengan harga berkali lipat.

Memang, telah banyak program yang dijalankan pemerintah untuk mengatasi kekisruhan. Seputar kenaikan harga beras melalui penetapan harga operasi pasar, pendistribusian beras SPHP hingga pembagian bantuwan sosial berupa beras 10 kg  per keluarga, dibarengi program kontrol dan monitoring harga yang dikerjakan satgas pangan. Namun kenapa harga tidak juga kembali stabil dan terjangkau oleh mayoritas rakyat Indonesia saat ini.

Kenaikan harga beras juga tidak serta Merta dinikmati petani dan memberikan kesejahteraan. Sebagaimana dinyatakan sejumlah pejabat. Karena problem mendasar tidak sejahteranya petani berpangkal dari kemiskinan struktural yang diciptakan oleh Sistem kapitalisme liberal.sehingga para petani terimpit dari mulai kesulitan mendapat pupuk karena Harga pupuk yang sangat mahal dan meski sudah panen pun harga penjualan panen tidak menguntungkan petani. 

Pengolalaaan pangan dan pertanian oleh negara seharusnya mampu mewujudkan pemenuhan pangan bagi seluruh rakyat, termasuk didalamnya pengelolaan cadangan pangan negara. Sehingga mampu menjaga kestabilan harga, dan memberikan dampak kesejahteraan pada petani.

Lonjakan harga beras saat ini pertanda kegagalan politik pangan dan pertanian kapitalisme neoliberal yang dijalankan. Bagaimana mungkin kenaikan harga sudah terjadi lebih dari setahun,  tidak ada solusi tuntas untuk mengakhirinya.

Berbagai instrumen kebijakan yang dijalankan pemerintah gagal menyelesaikan persoalan karena  kebatilan landasan sistem yang dipakai. Bahkan potensi sumber daya pertanian dan pangan yang dimiliki Indonesia pun tidak mampu mewujudkan. Ketahanan dan kedaulatan pangan masyarakat.

Walhasil problem utamanya adalah politik penerapan sistem politik demokrasi kapitalisme sehingga melahirkan pemerintahan yang lemah, abai dan gagal mengurusi rakyat. Oleh karena itu, penguasa sejatinya bukanlah negara, tetapi korporasi.

Korporasi-korporasi raksasa yang bisa mengakses modal besar, sehingga bisa menguasai seluruh rantai usaha Pertanian. mulai dari produksi,distribusi,konsumsi bahkan termasuk importasi. Belum lagi ditahun pemilu ini banyak cawapres membagikan beras dengan geratis demi azas manfaat supaya rakyat memelihnya sungguh ironis sekali.

Dalam Sistem Islam memiliki paradigma yang sangat berbeda dengan sistem kapitalisme, dalam mengatur pangan.

Sehingga mampu mewujudkan pemenuhan  pangan bagi seluruh rakyanya. Karena dalam politik ekonomi Islam tujuannya adalah menjamin pemenuhan kebutuhan pokok bagi seluruh individu rakyat dan pelaksanaanya wajib berada di pundak negara.

Secara rinci pengaturan sistem Islam tegak pada 2 pilar yaitu politik dan ekonomi. ini sangat beda dengan. Sistem ekonomi kapitalisme neoliberal.

Dalam Islam tanggung jawab sepenuhnya dipundak negara yakni Khilafah.

Hal ini Rasullullah Saw bersabda: "Imam (Khalifah) raa'in (pengurus hajat hidup rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya." (HR Muslim dan Ahmad) 

Oleh karenanya terlarang menyerahkan penguasaan kepada korporasi untuk mengatur pangan. Dalam sistem ekonomi Islam mulai dari produksi, distribusi hingga konsumsi.

Terkait dengan aspek produksi Islam menjamin  tersedianya pasokan dengan produksi dalam negeri sedangkan konsumsi cadangan pangan negara Pertanian nya dijalankan dengan dua strategi yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Termasuk penerapan hukum pertahanan yang akan menjamin seluruh lahan-lahan pertanian. Sehingga mampu berproduksi secara optimal, dan kepemilikan juga mudah didapatkan. Sedangkan dalam aspek distribusi negara akan hadir mengawasi para penjual dan pembeli pembetukan harga yang wajar dan melarang dan mencegah terjadinya penimbunan melarang riba melarang praktik tengkulak, kartel dsb.

Dan disertai sanski hukum yang tegas sesuai Sanksi dalam hukum Islam.

Dengan sistem politik ekonomi Islam, maka ketahanan pangan akan terwujud.Karena khilafah benar-benar berperan sebagai penjamin dan penanggung jawab melalui penerapan aturan Islam. Semua praktik distorsi harga akan tereliminir karena pengawasan negara berjalan sehinga tidak terjadi lonjakan harga beras yang sangat tinggi seperti saat ini yang menimbulkan kesengsaraan bagi rakyatnya.  

Dengan sistem ekonomi Islam yang diterapkan  petani juga akan terangkat kondisi perekonomian karena negara hadir mengurusinya. Allah  SWT berfirman:


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 


Andai saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membuka untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka telah mendustakan (ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat itu (TQS al-A’raf [7]: 96).

Maka dari untuk menyelesaikan permasalahan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok didalam negeri khususnya beras hanya satu solusinya  yaitu kembali pada aturan Islam dan kita harus kembali menerapkannya. Lakukan berbagai upaya untuk mengembalikannya baik sekup individu, jamaah maupun negara. Mari kita  memperjuangkan penegakan hukum Allah kembali diterapkan di muka bumi ini. Maka InsyaAllah krisis beras dan krisis krisis lainnya tidak akan terjadi. Dan kalau pun terjadi misalnya karena ada bencana dan lain halnya negara sudah siap dan tanggap untuk mengatasinya hingga tidak akan terjadi secara berulang. Hidup berkah hanya akan kita dapati dalam sistem Islam. Mari kita kembali kepada sistem ini yang akan membawa kita pada kebahagiaan dan keberkahan hidup di dunia dan di akhirat.

 Wallahu 'allam

Post a Comment

0 Comments