Kasus Bunuh Diri Pada Anak Tidak Bisa Dibiarkan, Butuh Support Sistem Terbaik Diterapkan

Oleh; Risma Ummu Medinah
(Ibu Rumah Tangga Pemerhati Generasi)

 IMPIANNEWS.COM

“Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu” (  Ali bin Abi Thalib )”.

------------------------------------------------------------

Mendidik anak di zaman sekarang  menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang tua. Era digital telah banyak memberikan sumbangsih besar terhadap rapuhnya mental generasi. Terutama generasi Z dan alpha  yang hidup pada tahun 2000an. 

Zaman sekarang gawai telah menjadi kawan dekat bagi anak anak setiap hari sehingga menjadi kecanduan . Entah alasannya anak dibebaskan tanpa ada aturan atau anak tidak ada perhatian karena orangtua sibuk seharian.

Anak tidak siap menghadapi kenyataan karena selalu dilenakan oleh kesenangan , mudah tantrum dan sakit hati, sehingga menjadi generasi stroberi berpenampilan cantik  tapi sesungguhnya lembek didalamnya.

Seperti kasus bunuh diri yang terjadi di Pekalongan yang dilakukan oleh anak usia 10 tahun kelas 5 SD  menjadi bukti rapuhnya mental anak hari ini. Nahas anak ini ditemukan gantung diri di kamarnya hanya karena ditegur untuk berhenti bermain hp oleh ibunya (www.detikcomjateng, 23 Nov 2023 )

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi kita betapa miris  dengan atmosfer kehidupan yang rusak saat ini. Dan ternyata kasus bunuh diri pada anak menjadi fenomena di masyarakat saat ini.

Menurut Dyah Puspitarini Komisioner Komisi Perlindungan Anak, di sepanjang tahun 2023 ada 10 kejadian anak yang bunuh diri  dan tentunya banyak kasus yang serupa yang belum terlaporkan meskipun  kebanyakan disebabkan perundungan, selain masalah pecintaan juga keluarga . (www.kompas.id, 28/9/2023).

--------

Sistem Rusak Yang Merusak

Setiap hari kita sering mendengar  kasus kriminal dan kejahatan. Ada apa ini ? Dunia  hari ini memang sudah tidak aman  bagi generasi. Bahkan kita disuguhi kerusakan yang berpengaruh pada jiwa anak. Lagi lagi tontonan di televisi dan media sosial  kerap menjadi santapan anak setiap hari , menjadikan informasi yang mempengaruhi nilai perbuatan anak.  

Anak anak adalah peniru ulung,sehingga ketika melihat tontonan kekerasan  hal itu jadi informasi di otaknya.Darimana anak tahu mengakhiri hidupnyadi  dengan cara gantung diri kalau bukan dari gawai lewat game game dan tontonan film.

Kepribadian anak digerus  oleh pemikiran barat seperti kebebasan bertingkah laku  ,berpendapat dan bergaul . Gaya hidup hedonis menjadi tuntutan untuk direalisasikan meski tak sepadan dengan keadan.Ditambah penguatan akidah dari keluarga tidak maksimal bahkan seadanya yang diterima di sekolah itupun hanya  dalam satu pekan. 

Bimbingan dan nilai nilai positif dari orang tua tidak cukup menahan derasnya sistem rusak yang mempengaruhi pola pikir dan pola sikap anak. Terlebih bagi orang tua yang kurang  bimbingan dan ilmu dalam mendidik  maka  anak menjadi korban rusaknya aturan. 

Pemisahan agama dari kehidupan ( sekulerisme ) adalah biang dari permasalahan ini. Asas ini pun menjad penopang sistem pendidikan yang hanya menargetkan anak didik dengan nilai angka yang memuaskan namun menjauhkan pemahaman agama sebagai tolak ukur benar salah, baik buruk, halal dan haramnya suatu perbuatan. Standar perbuatan mereka hanya kesenangan dan kepuasan ,eksistensi diri kerap menjadikan tujuan untuk  memperbanyak cuan.

Problem ini pantaslah tidak bisa dibiarkan dan pastinya butuh solusi mengakar agar tidak ada lagi korban. Tentunya harus ada yang diselesaikan dari semua pihak yang terkait yaitu lingkungan keluarga, masyarakat dan negara.  

Islam Support Sistem Terbaik

Syariat Islam hadir memberikan seperangkat aturan dalam kehidupan. Aturannya yang kaffah meliputi ranah individu dan keluarga, lingkungan masyarakat serta negara. 

Pertahanan keluarga adalah benteng pertama dengan menguatkan akidah dari sejak dini . Anak anak difahamkan hakikat penciptaan dan tujuan hidup serta diingatkan akan pemghisaban dari perbuatan yang dilakukan. Akidah yang tertancap kuat dalam diri anak menjadi dorongan untuk senantiasa terikat dengan syariat Islam. Dimanapun dan kapanpun serta dengan siapapun. Sehingga anak tidak berani melakukan kemaksiatan karena merasa ada pengawasan dari  Allah SWT (muroqobatullah).

Maka keimanan dan ketakwaan dalam lingkungan keluarga  adalah support sistem pertama yang menguatkan anak untuk siap terjun di kancah kehidupan. 

Begitupun pemenuhan potensi naluri dan kebutuhan jasmani akan dibimbing untuk  dipenuhi dengan tuntunan syariat Islam. Sehingga anak  hidup dalam suasana kondusif tumbuh menjadi pribadi yang mampu menyelesaikan masalah dirinya sesuai standar Islam.

Support sistem  terbaik kedua adalah lingkungan masyarakat yang mempunyai kepedulian akan perilaku menyimpang yang dilakukan anggota masyarakat. Amar ma'ruf nahi munkar adalah perkara yang diwajibkan maka dari dorongan ini tercipta kekondusifan lingkungan agar tidak merebak kejahatan. Kedua support sistem tersebut akan pincang tanpa adanya penerapan syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan.

Negara akan menerapkan sistem pendidikan berbasis aqidah Islam yang akan melahirkan  generasi berkepribadian Islam. Pengawasan dan pengontrolan media pun akan diterapkan oleh negara. Yang tentunya akan menfilter konten konten atau informasi yang berdampak pengrusakan generasi. Semuanya akan tercipta suasana keimanan karena ketiga pilar ditegakkan. 

Betapa rindu penerapan syariat Islam yang kaffah agar kembali lahir generasi generasi yang kuat pemahaman Islam dan  mampu menghadapi tantangan dunia. Semua itu akan bisa terealisasi ketika ada institusi Khilafah Islam. Sebuah sistem pemerintahan yang berasal dari Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur manusia.

Wallahualam bishowab.

Post a Comment

0 Comments