Bullying Masih (Terus) Terjadi, Ada Apa Pendidikan di Negeri Ini?

Oleh: Khusnul Khotimah, SP.
(Pendidik Generasi dan Pemerhati Umat)

IMPIANNEWS.COM

Sungguh Memprihatinkan !. Ketika kita mengikuti berita bullying, ternyata sampai saat ini masih terus terjadi. Peristiwa demi peristiwa terus bermunculan dari berbagai daerah dan berbagai jenjang pendidikan dari tingkat SD sampai dengan SMA/SMK. Bullying ini semakin beragam jenisnya, tidak hanya secara verbal tetapi juga fisik yang menghantarkan kepada luka fisik sampai kematian.

Seorang siswa kelas VI SD berinisial F (12) di Bekasi menjadi korban bullying setelah diduga di-sliding teman sekolah hingga berujung kakinya diamputasi. Setelah diamputasi beberapa hari kemudian  F meninggal dunia.( Detik com 9-12-2023). Sebelumnya juga diberitakan, seorang siswa SD di Kota Sukabumi diduga menjadi korban perundungan (bullying) teman sekolahnya. Akibatnya, tangan kanan korban patah dan harus menjalani operasi di rumah sakit. Peristiwa ini terjadi pada Februari 2023 di lingkungan sekolah korban. Sampai bulan Desember ini, kasusnya belum juga ada penyelesaian.(Kompas.com.9-12-2023)

Peristiwa lain yang baru terjadi juga, seorang siswa SMA kelas 1 bernama MH (14), pelajar di MAN 1 Medan juga menjadi korban dugaan penyiksaan oleh teman satu sekolah dan kakak kelas yang sudah alumni. Ia dipukuli, disuruh memakan sendal berlumpur, makan daun mangga dan dipaksa meminum air yang sudah diludahi sekitar 20 orang. Bukan cuma itu, punggung telapak tangannya juga disundut menggunakan kunci yang dibakar terlebih dahulu menggunakan korek api.Setelah dibakar, kunci sepeda motor panas tadi ditempelkan ke tangan dan dibentuk huruf PA hingga melepuh.(Tribunnews, 9-12-2023)

Kejadian-kejadian tadi sudah sangat keterlaluan dan tidak selayaknya dilakukan oleh para pelajar. Ini menunjukkan bahwa saat ini dunia pendidikan sedang berada pada kondisi yang tidak baik-baik saja. Kasus bullying sudah mengarah pada tindak kriminalitas. Kondisi ini tentunya membutuhkan upaya yang serius dari berbagai elemen masyarakat, baik skala keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat juga peran negara.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), mayoritas siswa yang mengalami perundungan, atau yang sering disebut sebagai bullying, di Indonesia adalah laki-laki. Persentase kasus bullying di kategori siswa kelas 5 SD pada siswa laki-laki mencapai 31,6 persen, sementara siswa perempuan mencapai 21,64 persen dan secara nasional sebesar 26,8 persen.Persentase kasus bullying di kategori siswa kelas 8 SMP pada siswa laki-laki mencapai 32,22 persen, yang merupakan angka tertinggi di antara semua kategori kelas dan jenis kelamin. Sementara siswa perempuan mencapai 19,97 persen, dan secara nasional mencapai 26,32 persen.

Akar Masalah Bullying

Bullying memang suatu yang sudah ada sejak jaman dahulu, hanya saja kasusnya tidak seperti sekarang yang sudah mengarah pada tindakan keji dan kriminal. Bullying yang terjadi dikalangan pelajar ini tentu tidak lepas dari kondisi individu, keluarga, masyarakat dan negara  Faktor individu dan keluarga berperan penting dalam pembentukan karakteristik seseorang. Jika dalam dirinya dan keluarganya ada masalah secara psikologis, maka potensinya sangat besar untuk mempengaruhi perilakunya. 

Sebagai contoh, jika anak terbiasa  hidup dilingkungan keluarga yang banyak terjadi tindakan kekerasan maka kemungkinan besar akan membentuk pribadi anak yang keras. Ditambah lagi tayangan di media sosial dan aplikasi game yang juga banyak mengandung unsur kekerasan tentu juga mempengaruhi pribadi anak.

Faktor lingkungan masyarakat /sekolah juga berpengaruh pada diri anak. Usia remaja identik dengan masa pencarian jati diri. Biasanya anak remaja mencari grup/geng pertemanan yang dirasa cocok dengannya. Hanya saja grup/geng ini tidak semuanya mempunyai kegiatan positif. Ada beberapa yang kadang melakukan aktivitas yang tidak baik seperti geng motor atau geng-geng lain yang  aktivitasnya hanya sekedar unjuk nyali saja. Ini seringkali membuat onar dan berselisih dengan geng- geng lain, seperti  banyak terjadi balapan liar, tawuran, dll.

Disisi lain, dunia pendidikan juga kurang serius dalam menangani generasi . Bergantinya kurikulum setiap pergantian kekuasaan terbukti tidak mampu menghasilkan generasi yang tangguh dan berakhlak mulia. Pendidikan hanya diarahkan pada pencapaian akademik siswa tanpa memperhatikan sisi mental dan kepribadian siswa. Dan pada akhirnya dunia pendidikan seolah-olah hanya mencetak lulusan yang siap kerja saja.

Peran negara yang seharusnya mampu mengarahkan generasi ke arah yang lebih baik melalui kebijakan di dunia pendidikan nyatanya juga tidak terjadi. Posisi negara hanya memastikan ada kurikulum sekolah tanpa memperhatikan apakah kurikulum tersebut sudah cukup untuk membentuk karakter siswa yang baik yang beradab. Dengan kurikulum merdeka saat ini pun justru terlihat adanya kebijakan yang mengesampingkan peran agama dan nilai-nilai moral di dunia pendidikan. 

Dengan demikian wajar jika mental siswa tidak terbina kearah kebaikan. Sekolah hanya dijalankan sekedar untuk mendapat ijazah dan bisa segera mendapatkan pekerjaan sesuai yang diinginkan, tidak lebih dari itu. 

Sistem Pendidikan Islam mengatasi Bullying

Keluarga dalam Islam sangat berperan dalam pembentukan pribadi anak. Keluarga yang dibina  dengan landasan agama  melalui penanaman  nilai-nilai agama sejak dini tentu akan menghasilkan anak- anak yang baik, punya rasa kasih sayang dan kepedulian kepada sesama manusia.

Lingkungan sekolah juga sangat penting perannya. Kurikulum sekolah dalam sistem Islam, berbasis pada aqidah Islam dan mengacu pada pembentukan kepribadian Islami. Kepribadian Islami ini akan terbentuk dari pola pikir dan pola sikap Islami. Pelajaran di sekolah tidak hanya memfokuskan pada keberhasilan akademik saja, tetapi juga  memperhatikan nilai-nilai perilaku siswa.  Penanaman nilai-nilai aqidah didalam kurikulum sekolah akan sangat menunjang terbentuknya pribadi-pribadi siswa yang mulia.

Selanjutnya peran negara tentu sangat menentukan penyelesaian masalah bullying ini. Negara dalam sistem Islam punya wewenang yang sangat besar dalam menyelesaikan berbagai persoalan ditengah-tengah rakyat. Berbagai kebijakan bisa diberlakukan agar masalah ini tidak terus meluas  Kebijakan tersebut antara lain : Pelarangan tayangan ataupun game-game yang mengandung unsur kekerasan, penataan kurikulum sekolah yang berbasis aqidah Islam untuk menjadikan siswa memiliki kepribadian mulia, juga penerapan hukum yang tegas dan menjerakan bagi pelaku kekerasan. Hukum qisos dan jinayah yang bersumber dari Alloh SWT tentu akan ampuh untuk mengatasi masalah ini.

Sistem Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah, akan sangat memperhatikan atas semua permasalahan yang menimpa umat. Peran negara dan penguasa dalam menerapkan hukum-hukum Alloh SWT, akan sangat menentukan, tuntas tidaknya penyelesaian berbagai permasalahan. Jika penguasa menerapkan aturan Alloh SWT secara sempurna. Insha Alloh keberkahan hidup akan dirasakan oleh semua umat manusia.

Wallahu'alam bi showaab.

Post a Comment

0 Comments