Bersuka Cita Saat Rakyat Menderita, Ironis!

Oleh: Annisa Siti Rohimah
(Pemerhati Sosial)

IMPIANNEWS.COM

Cianjur Jawa Barat diguncang gempa dengan kekuatan M 5,6 SR. Warga Cianjur menelan kerugian besar. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 526 infastruktur rusak, yakni 363 bangunan sekolah, 144 tempat ibadah, 16 gedung perkantoran, dan tiga fasilitas kesehatan. Sedangkan jumlah rumah warga yang rusak sebanyak 56.320 unit. Warga yang terdampak mengungsi di 110 titik yang tersebar di 15 wilayah kecamatan, sehingga membutuhkan strategi tenaga dan kekuatan yang ekstra dalam distribusi logistik. (kompas.com, 26/11/2022)

Tentu para korban bencana mereka sangat membutuhkan bantuan baik dari sesama masyarakat. Apalagi kepada pemerintah yang berkewajiban memberikan bantuan layak kepada para korban. Baik berupa uang, bahan makanan, pakaian dan lain-lain. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam para warga karena kehilangan tempat tinggal, saudara, anak, suami, istri dan orang tua. Malah penguasa mengadakan acara besar dan bernuansa politik. Acara yang diadakan juga jauh dari kesan berduka, atau setidaknya merasa empati terhadap korban.

Acara itu merupakan Acara Nusantara Bersatu yang digelar Relawan Jokowi di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (26/11). Bahkan dilansir dari cnnindonesia.com, acara Nusantara Bersatu yang digelar relawan Jokowi menyisakan sampah berserakan berjumlah 31 ton sampah yang mengotori Gelora Bung Karno (GBK). Penampakan lautan sampah di GBK tersebut menjadi sorotan publik dan berujung viral di media sosial.

Dalam acara tersebut mereka manyatakan 2024 manut Jokowi yang artinya 2024 para relawan mengikuti keputusan Jokowi. Deklarasi ini merupakan acara untuk menggalang kekuatan politik menghadapai pilpers 2024, walaupun pilpres dua tahun lagi. 

Selain itu, dalam acara temu relawan ini, peserta yang hadir tidak murni sebagai relawan Jokowi. Sebab mereka juga diajak untuk bersilaturahmi dengan Jokowi dan akan bershalawat qubro. Akan tetapi ketika tiba di lapangan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Para panitia berusaha melakukan berbagai cara agar kegiatan yang mereka adakan terlihat meriah dan peserta membludak, meskipun caranya salah. Biaya yang dikeluarkan untuk penyelenggaraan acara tersebut mencapai seratus milyar rupiah.

Banyak netizen yang mencibir acara tersebut karena dana sebanyak itu alangkah lebih baiknya apabila disalurkan kepada korban gempa di Cianjur. Sangat miris sudah mengadakan acara yang nirempati di tengah bencana, ditambah menghabiskan dana hingga sebanyak itu. Naudzubillahimindzalik. 

Tentu semua itu, akibat dari sistem kehidupan yang memisahkan agama dari kehidupan atau kapitalisme sekuler. Individu, masyarakat dan negara telah menihilkan peran agama untuk mengatur masalah kehidupan. Agama menjadi urusan pribadi masing-masing individu. Bukan juga menjadi urusan negara. Sehingga, dengan segala cara, orang yang memiliki modal besar dan kekuasaan akan memanfaatkan rakyat untuk kepentingan mereka. Termasuk menggiring rakyat ke acara yang mereke selenggarakan. Meskipun kebohongan dijadikan alasan, tentu tak dijadikan masalah bagi mereka. 

Sistem kapitalis sekuler juga lebih memihak pada pemodal besar dan penguasa, bukan kepada rakyat yang menderita. Karena materi menjadi tolok ukur bagi setiap perbuatan individu, masyarakat dan negara. Demi kekuasaan yang diperebutkan lewat pemilu, mereka akan mengeluarkan dana besar. Karena demikianlah cara untuk mengembalikan modal yang keluar. Maka tak heran, dalam sistem kapitalis sekuler, ada penguasa yang bersuka cita saat rakyatnya menderita.

Sangat berbeda ketika sistem Islam kafah diterapkan dalam naungan Khilafah. Para pemimpin bertanggung jawab mengurusi rakyatnya. Apalagi jika terjadi musibah berupa bencana alam. Mereka akan langsung mengambil berbagai kebijakan yang sangat dibutuhkan rakyat dengan cepat dan tepat. Sedangkan biaya penanganan bencana selalu ada alokasi khusus. Bahkan ketika baitul mal kosong pun, ada mekanisme pajak dari muslim lelaki yang mampu. Atau bahkan negara akan meminjam dana dari rakyat, untuk kemudian hari diganti. Tak ada peristiwa penguasa bersenang-senang, sementara rakyat harus menderita.

Dahulu umar ketika terjadi musim paceklik, selama sembilan bulan. Saat itu hujan tidak turun, sehingga mengakibatkan gagal panen, hewan peliharaan banyak yang mati. Jikalau ada yang hidup, maka badannya kurus. Penduduk Madinah kesulitan makanan. Uang yang ada tidak mampu membeli makanan, sebab bahan makanan tidak tersedia.

Masyarakat Madinah saat itu hanya bisa makan dari bahan makanan yang disimpan di gudang. Akan tetapi, rakyat yang tinggal di luar Madinah tidak mendapatkan makanan. Sehingga saat itu Umar berjanji tidak akan akan makan makanan yang mewah serta menahan dirinya untuk tidak makan enak. Umar tidak mau hidup enak sementara rakyatnya kelaparan.

Seorang pemimpin sudah seharusnya seperti itu, ia harus merasakan penderitaan rakyatnya bahkan dana yang ada digelontorkan untuk menolong rakyatnya, bukan senang-senang bahkan menghabiskan dana untuk sesuatu yang tidak penting. 

Pemimpin yang serupa dengan Umar ini tidak akan bisa ditemukan dalam sistem saat ini. Karena pemimpin dalam sistem sekuler kapitalis seperti sekarang ini, dapat terpilih karena memiliki power dari pihak tertentu, atau terpilih karena memiliki dana terbanyak. Berbeda dalam sistem Islam seorang pemimpin dipilih karena dilihat dari kemampuan atau kapabilitas yang dimilikinya. Sehingga ketika terpilih, ia memahami, mengurusi rakyatnya dan benar-benar  menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin. 

Maka dari itu, sudah saatnya kita bersama-sama berjuang, berdakwah demi tegaknya sistem Islam yang menyelesaikan semua problematika kehidupan. Wallahualam bisshawab.

Posting Komentar

0 Komentar