PEP : Ilusi Kesejahteraan Keluarga ala Kapitalis Sekuler.

Ilustrasi keluarga. Foto: Shutterstock

Oleh: Risma Ummu Medinah

IMPIANNEWS.COM

"Perempuan adalah tiang negara ". 

Begitu pepatah mengatakan. Ibaratnya perempuanlah yang menentukan nasib suatu negara. Ketika suatu negara maju maka itu artinya tidak lepas ada andil seorang perempuan.

Lalu seperti apa pelibatan perempuan dalam kemajuan suatu negera? Apakah mereka akan mejadi pendongkrak perekonomian atau pendongkrak peradaban dengan melahirkan generasi cemerlang ?

Tentu hal itu tidak terlepas dari apa yang menjadi landasan suatu negeri tersebut.

___________________________

Belum lama ini kemensos Trirismaharini mendorong sebanyak 1.500 ibu Keluarga Penerima Manfaat ( KPM ) Program Keluarga Harapan ( PKH ) agar berdaya dan mandiri secara finansial untuk meningkatkan kesejahteraan. Hal itu diungkapkan beliau dalam acara Sosialisasi Penguatan Perekonomian Subsisten sebagai Upaya Perekenomian Masyarakat di Pendopo Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), ( Kompas.com, 26/6/2022).

Target dari rencana ini menurut beliau sekitar 6 bulan kedepan. Dan kali ini Risma akan membawa kota Surabaya sebagai Pahlawan Ekonomi ( PE ) percontohan nasional.

Dimulai menjadikan mereka sebagai mentor dengan membekali bagaimana cara marketing produk,branding hingga packaging. 

Pahlawan Ekonomi ( PE ) ini sebetulnya program Risma di tahun 2010 yang lalu saat menjabar sebagai walikota Surabaya.

Risma mengatakan PE digagas untuk mengubah nasib warga yang kurang mampu. Selain mampu menguasai marketing produk dll mereka juga harus bisa memanage keuangan agar kelak mempunyai tabungan untuk masa depan mereka seperti jaminan pendidikan ,kesehatan dan asuransi ( detik.com/jatim,27 /6 / 2022).

Sepintas gagasan tersebut menjadi solusi pemberdayaan perempuan dan kemajuan serta kesejahteraan hidup keluarga.

Namun ketika perempuan digiring ke ranah publik dan lebih fokus menjadi tulang punggung keluarga maka solusi tersebut hanyalah sebuah ilusi.

Perempuan sejatinya Allah fitrahkan sebagai ummun warabbatul bait yang bertugas mendidik anak anaknya menjadi generasi tangguh yang bertakwa dan peduli terhadap urusan umat.

Seorang ibu yang mempunyai cita cita besar menjadikan generasinya sebagai pemimpin. 

Namun hari ini ketika tidak adanya peran negara dalam menjamin seluruh kebutuhan individu masyarakat. Maka salah satu bukti keberlepasan tanggung jawab mereka dalam meriayah rakyat adalah dengan mendorong perempuan untuk terjun "berdaya" dalam bidang bisnis. 

Dilemparkan tanggung jawab mereka dengan menggenjot perempuan menjadi pahlawan ekonomi. Diberdayakan mereka agar mampu memenuhi kebutuhan pendidikan,kesehatan dan asuransi dengan mandiri. Sungguh miris. 

Perempuan Indonesia tidak sadar bahwa dirinya sedang dibajak dan menjadi sasaran untuk kekuatan ekonomi mereka. 

Mereka dipaksa bergerak melawan fitrah nya.

Maka inilah wajah rusak periayahan sistem sekuler kapitalis . Yang telah menjadikan kekuatan ekonomi dibawah bayang bayang para pemilik modal dengan genjotan kaum hawa.

Sungguh sedih dan malang nasib kaum perempuan sudah diiming- imingi dengan kesejahteraan yang semu dengan menyematkan mereka sebagai pahlawan ekonomi.

Solusi ala kapitalis ini justru semakin memperburuk keadaan. Tidak sedikit ketika peran perempuan berperan ganda muncul banyak permasalahan dalam keluarga seperti perselingkuhan yang berujung perceraian karena peran utama mereka telah terganggu. 

Ketika perempuan telah mandiri,berdaya dan cakap dalam memanage keuangan namun sejatinya paradigma berpikir mereka telah berubah. Kesuksesan mereka dalam ekonomi tidak diiringi kesuksesan dalam rumah tangga. 

Kehidupan yang hedonis dan matrealistis ala kapitalis sungguh telah mengintai keutuhan tatanan keluarga. Yang ada hanya menjadikan peran perempuan sebagai pendongrak ekonomi.

Berbeda dalam pandangan Islam peran ibu rumah tangga adalah sebagai pendongrak peradaban dan melahirkan generasi cemerlang. Mereka akan fokus mendidik anak karena tidak disibukkan menjadi tulang punggung atau membantu nafkah suaminya. Meskipun hukum bekerja bagi perempuan adalah mubah namun mereka tidak boleh sampai melalaikan kewajiban utamanya sebagai ibu pendidik dan pengurus rumah tangga. 

Syariat Islam menetapkan wali bagi perempuan ketika tidak bisa memenuhi nafkahnya. Peran negara dalam sistem Islam akan mengambil alih dalam pemenuhan kebutuhan pokok keluarga, pun ketika posisinya sebagai single parent (janda). Keluarga tidak akan dipusingkan bagaimana pemenuhan kebutuhan pendidikan,kesehatan dan lainnya karena negara akan mampu memfasilitasi dengan mudah dan gratis.

Maka hanya Islamlah yang jelas memuliakan perempuan dan betul-betul memosisikan sesuai fitrahnya dengan kesejateraan yang hakiki bukan ilusi.

Sudah saatnya kita mencampakkan sistem kapitalis sekuler dibumi ini dan segera beralih kepada sistem Islam yang Allah ciptakan dalam institusi Daulah Khilafah Islamiyah.

Wallahua'lam bishowab.

Posting Komentar

0 Komentar