Remaja Penerus Masa Depan, Arahkan Dengan Islam

Ilustrasi tawuran remaja. [Antara]

Oleh: Hilma Ummu Sulthan

IMPIANNEWS.COM

Tidak terasa, ramadan sudah berada di pertengahan bulan. Artinya sudah setengah perjalanan menuju kemenangan. Yang menjadi pertanyaan sudah seberapa jauhlah target ramadan sudah terealisasikan? 

Agenda membangunkan sahur mungkin sudah menjadi agenda rutinan sebagai salah satu target tercapainya raih pahala sebanyak-banyaknya di bulan ini. Biasanya agenda bangun sahur ini diisi oleh pemuda-pemudi dengan membawa alat musik serta lagu-lagu aransemen sahur. Bahkan mereka sampai sahur on the road demi menghidupkan malam-malam di bulan ramadan kali ini.

Sayang seribu sayang, agenda bangun sahur itu menjadi petaka tatkala fakta membuktikan banyaknya klitih diantara pemuda yang berada dihalaman saat menjelang sahur. Sebut saja MD (20) yang harus meregang nyawa di Jalan Sanip, Kelurahan Jati Pulo, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat karena ada di lokasi  tawuran ketika ia hendak membangunkan sahur masyarakat sekitarnya. Tawuran ini pun tak jelas sebabnya. (serambinews.com 14/4/22)

Belum selesai mengelus dada, di Surabaya (07/4/22), hampir terjadi perang sarung antar pemuda dengan Sajam yang berbahaya bagi mereka. Polsek Asemrowo Surabaya bahkan memeriksa hampir 50-an remaja dalam 2 kampung karena kejadian perang sarung tersebut. (Beritadiy.pikiran-rakyat.com 11/04/22)

Mengapa bulan Ramadan yang identik dengan dilipatgandakan pahala justru dipergunakan remaja untuk bersenang-senang terhadap kekerasan?

Dosen Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Farid Pribadi menyatakan penyebab perang sarung antar remaja yang awalnya hanya hiburan dan main-main kemudian mendadak menjadi serius disertai kekerasan di dalamnya diduga karena berkurangnya alternatif saluran-saluran kompetisi karena pandemi Covid-19.

Fenomena remaja yang kerap terjadi di bulan Ramadan seperti ini harusnya diatasi dengan benar sama halnya  pemberantasan KKN, penjualan narkotika, miras, dan sebagainya. Kenakalan remaja seperti klitih dan perang sarung sudah mengarah kepada kriminalitas karena memakan korban.

Selain warga yang peduli terhadap remaja, maka peran negara pun ikut penting dalam hal ini. Negara dapat berperan andil memberikan edukasi kepada remaja betapa pentingnya Ahsanul amalan di bulan Ramadan. Tak lupa juga bagaimana wajibnya negara memberikan fasilitas yang benar agar remaja dengan kekuatannya yang besar dapat mengeksploitasinya dengan cara yang benar pula. Tidak cukup memberikan sanksi terhadap pelaku dan meranag kegiatan aktivitas di jalanan.

Remaja mempunyai potensi yang tinggi dalam memegang tampuk masa depan negara. Artinya negara harus mampu mendidik remaja agar mereka mampu menjadi penerus masa depan negara ke arah yang lebih baik.Apa jadinya bila remaja menjadi kriminal di awal perjalanan kehidupannya. Bisa jadi negara akan hancur dipegang oleh orang yang tak memiliki kemampuan untuk memimpin negara.

Benar saja apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam saat beliau berinteraksi dengan pemuda yang merangkap sekaligus sebagai sahabat. Ali bin Abi Thalib salah satu pemuda sekaligus sahabat yang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam didik dengan baik. Tercermin ketikaAli bin Abi Thalib memutuskan mengucapkan kalimat syahadat dalam usia yang sangat dini. Setelah itu Ali bin Abi Thalib menjadi sosok pemuda pemberani yang siap membela agamanya. Tidak ada kata main-main dalam kamus kehidupannya. Hanya ada mati syahid dalam benaknya dengan jihad fisabilillah.

Belumlah dicukupkan dengan kisah Ali bin Abi Thalib, tersebut pula sahabat bernama Zaid bin Haritsah yang sejak kecil hidup bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. Zaid pun merupakan salah satu panglima perang terpercaya yang akhirnya syahid di medan perang saat mempertahankan panji Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, harkat dan martabat Islam ketika diterjang oleh musuh.

Jauh dari panggang api, mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk disandingkan antara remaja saat ini dengan pemuda di zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam karena pendidikan agamanya. Sejatinya remaja saat ini haruslah sama-sama kita arahkan kepada aktivitas yang bermanfaat terutama aktivitas yang dapat meraih pahala berlipat di bulan suci seperti mengkaji Islam secara kaffah, mengaji, tak lupa infak sedekah serta dakwah. Agar kelak mereka menjadi pemberani dalam membela yang hak dan memberantas kebatilan, bukan remaja yang haus akan hawa nafsu demi kesenangan yang fana. Arahkanlah remaja dengan Islam. Sebuah agama sekaligus ideologi yang berasal dari Maha Pencipta. Maka kehidupan akan menjadi sempurna dengan terbentuknya anak-anak yang kuat pemberani dalam membela agama dan negaranya.


Wallahu'alam bishowab

Posting Komentar

0 Komentar