Islam Memberi Solusi Ketersediaan Bahan Pangan dan Kestabilan Harga

PENULIS: Risma M
(Aktivis Muslimah)

IMPIANNEWS.COM

Gejolak perasaan emak -emak seakan riang tak terkira sejak ada informasi harga minyak goreng bisa dibeli dengan harga14.000 untuk 1L dan 28.000 untuk 2L.

Namun ternyata banyak cerita dibalik itu semua.

Fenomena panic buying kembali terjadi. Antrian untuk membeli minyak goreng kembali membludak di setiap swalayan. 

Pemandangan seperti ini bukan kali pertama, saat awal pandemi panic buying terjadi ketika masker menjadi anceran karena barang habis dimana mana.

Pun susu beruang mempunyai riwayat yang sama karena dianggap bisa menangkal virus Corona.

Wajar panic buying terjadi, ketika harga minyak  goreng saat ini sangat melangit, alhasil menjadi kesempatan bagi para emak-emak untuk memborong minyak goreng 'murah' tersebut.

Namun berita penurunan harga minyak goreng tersebut masih simpang siur. Belum sepenuhnya difahami oleh masyarakat terutama Emak emak berdaster.

Menurut surat selebaran yang dikeluarkan oleh kementerian perdagangan republik Indonesia yang ditandatangani oleh Dirjen perdagangan dalam negeri Oke Nurwan. Surat edaran tersebut ditujukan untuk retail modern seluruh Indonesia. Dengan membuat kebijakan satu harga, dan promo ini berlaku untuk 6 bulan sampai bulan Juli 2022 atau diperpanjang.

Kemudian kebijakan ini dengan pembatasan pembelian minyak goreng maksimal 2L, sebagai upaya pemerataan dan menghindari terjadinya pembelian dalam jumlah besar oleh pihak pihak tertentu.

Namun banyak yang menilai, subsidi selisih harga dari pemerintah atas harga minyak untuk 2L dari sekitar 40rb menjadi 28 rb adalah kurang tepat dan dinilai banyak potensi kecurangan dan penimbunan.

Sebagaimana pernyataan Agus sebagai anggota pengurus harian YLKI "Pemerintah seharusnya memikirkan solusi akhirnya, karena subsidi dinilai bukan jalan keluar atas tingginya harga suatu produk di pasaran". (Kompas.com.22/Jan/2022).

Ibarat orang sakit yang diberi minyak angin/balsem, pemberiaan subsidi ini tidak akan menyembuhkan penyakit yang sebenarnya. Sifatnya hanya menghangatkan sementara di tempat tertentu saja," ujar Agus.

Masih menurut beliau,idealnya pemerintah mendiagnosis penyebab dari mahalnya minyak goreng, kemudian memberikan obat yang tepat. (Kompas.com.22/Jan/2022).

Pembatasan penjualan minyak goreng agar setiap orang hanya membeli 1 pcs menjadi bukti kurangnya penanganan yang benar dalam hal distribusi dan ketersediaan bahan pangan.

Padahal pemerintah sudah menyediakan minyak goreng sebanyak 1,2 miliar liter untuk jangka waktu 6 bulan. Serta menyiapkan anggaran biaya untuk menutup selisih harga ditambah PPN sebesar 3,6 triliun yang dibayarkan melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS). Seperti yang dijelaskan oleh Airlangga selaku komite BPD KS (Aceh.trend.com ,6/1/2022)

Ketersediaan stok minyak goreng yang disediakan pemerintah ternyata sampai hari ini justru menjadi permasalahan. 

Terbukti banyak masyarakat yang belum pernah sama sekali mendapatkan minyak goreng bersubsidi di retail retail modern dengan alasan stok sudah habis.

Kenapa ini bisa terjadi?

Benarkah solusi yang diambil pemerintah sudah tepat dan mampu menyelesaikan masalah ketersediaan stok dan harga minyak goreng yang tidak terkendali?

Pematokan Harga Suatu Kezaliman !

Pematokan harga yang dilakukan pemerintah dalam pandangan Islam adalah haram.

Karena Allah SWT telah memberikan hak kepada setiap orang untuk membeli dengan harga yang dia sukai. Artinya aktivitas jual beli itu adalah harus sama-sama rida antara penjual dan pembeli.

Pematokan harga bermakna bahwa seorang penguasa atau wakilnya mengintervensi kepada pelaku/pedagang dipasar agar mereka memberlakukan harga tertentu sekaligus melarang setiap orang untuk melakukan transaksi jual-beli Lebih mahal atau lebih murah dengan alasan demi kemaslahatan khalayak.

Dalam sebuah hadist Imam Ahmad dari Anas r.a mengatakan :

" Harga pada masa Rasulullah Saw pernah membumbung. Lalu mereka melapor," Ya Rasulullah, seandainya saja harga ini engkau patok (tentu tidak akan membumbung seperti ini),"

Beliau menjawab,"sesungguhnya Allah lah Maha Pencipta,Maha Penggenggam, Maha Melapangkan, Maha Memberi Rizki dan maha menentukan harga.

Sesungguhnya aku sangat ingin menghadap ke hadirat Allah, sementara tidak ada seorang pun yang menuntutku karena suatu kezaliman yang aku lakukan kepadanya, dalam masalah harta dan darah," ( HR Ahmad)

Kenapa Islam sangat tegas sekali mengharamkan pematokan harga, karena faktanya pematokan harga akan melahirkan potensi buruk yang membayakan.

Seperti membuka pasar secara sembunyi sembunyi dan penjualan dibawah tangan (tidak diketahui negara) sehingga akan mengakibatkan harga melambung tinggi, barang hanya dijangkau oleh orang kaya saja sementara orang miskin gigit jari.

Pematokan harga pun bisa berpengaruh terhadap konsumsi barang, kemudian produksi barang bahkan boleh jadi mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi.

Dan keberbahayaan ini terbukti terjadi saat pematokan harga minyak goreng dilakukan pemerintah saat ini.

Kebijakan pematokan harga jelas menunjukkan solusi yang tidak efektif dalam menstabilkan harga. Justru menimbulkan distorsi ekonomi terhadap kelangsungan barang dan sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan.

Karena pangkal dari semua masalah ini adalah adanya hubungan mesra antara penguasa kelapa sawit dengan para penguasa. Dimana kebijakan pemerintah berada dalam tekanan korporasi.

Negara hanya sebagai regulator dan fasilitator. Mereka menetapkan kebijakan tapi tidak bisa menghentikan gurita kerakusan para kapitalis.

Itulah akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalis yang hanya mengedepankan kepentingan para pemilik modal.

Islam Memberi Solusi Ketersediaan Bahan Pangan dan Kestabilan Harga

Solusi untuk kestabilan harga minyak goreng hanya dengan penerapan aturan Islam secara Kaffah. Pemimpin dalam khilafah Yaitu Khalifah meniscayakan adanya'peran negara dalam kestabilan harga dengan pengimplementasian kebijakan mandiri yang tidak tergantung kepada negara lain. Apakah koorporasi atau pun asing.

Pemimpin (Khalifah) bertanggungjawab atas kepengurusan umat termasuk dalam ketersediaan bahan pokok dan kestabilan harga.

Sebagaimana dalam sebuah hadist :

"Imam (Khalifah) adalah rain (pengurus rakyat) dan ia bertanggungjawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari Muslim).

Untuk mewujudkan Kepengurusan yang benar dan tepat sebagaimana yang tercantum dalam hadist dan nash syar'i maka kuncinya negara harus menerapkan Islam Kaffah dalam sistem khilafah.

Kepengurusan seorang Khalifah dalam hal ini adalah dengan pengurusan pangan dari hulu sektor produksi, hilir sampai konsumsi. Sehingga dijamin semua rakyat menikmati bahan pokok untuk dikonsumsi.

Kunci dalam periayahan negara dalam hal ini untuk ketersediaan minyak goreng adalah yang pertama Negara Islam akan mengatur tentang sistem kepemilikan dan masalah kepemilikan harta, sesuai dengan Islam. Individu dan swasta tidak boleh menguasai kepemilikan umum.

Seperti misalnya hutan, maka hutan tidak boleh dimiliki oleh individu apalagi dibuka dan dirusak demi keuntungan para kapitalis.

Kedua negara harus menjamin ketersediaan pasokan barang di dalam negeri dengan mengoptimalkan hasil para petani dan produsen dari lokal. Kalaupun stok tidak mencukupi maka akan diambil kebijakan impor oleh negara.

Ketiga Negara harus melakukan pengawasan rantai tata niaga, sehingga tercipta harga kebutuhan secara wajar dan terjaga dari tindakan curang seperti kelangkaan dan penimbunan. Dan hal itu akan tercipta dalam struktur tertentu dalam khilafah. Sehingga pasar akan terjaga, dengan adanya Qodhi hisbah.

Maka solusi satu satunya adalah dengan mengembalikan fungsi pemimpin sebagai junnah/perisai dalam sistem khilafah Islam.

Yaitu mengurusi semua permasalahan umat dengan syariat Islam Kaffah dalam bingkai khilafah Islahisbah.

Sebagaimana yang telah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khatab pernah terjadi paceklik yang disebut 'Am Ar -Ramadah.

Paceklik hanya terjadi di Hijaz sebagai akibat langkanya makanan sehingga menyebabkan melambungnya harga makanan tersebut.

Namun Umar tidak mematok harga makanan tersebut namun beliau mengirim dan menyuplai makanan dari Mesir dan dari negeri Syam ke Hijaz. Begitulah ketika Islam secara praktis diterapkan dalam kehidupan akan mampu mengakhiri krisisi tanpa harus melakukan pematokan harga .

Wallahu a'lam bishowab.

Posting Komentar

0 Komentar