Tekad Remaja Yang Mengidap Kanker Untuk Mewujudkan Impiannya

Photo Pinterest

Oleh: Nadinda Denissa
(Civitas Academica Universitas Andalas)

IMPIANNEWS.COM

The Fault in Our Stars bercerita tentang seorang wanita penderita kanker ganas yang mengikuti kelas terapi. Di sana ia bertemu banyak orang yang memiliki latar belakang penyakit yang berbeda dan mempertahankan hidup mereka dari bunuh diri, depresi dan lain-lain dan disanalah dia bertemu dengan pacar dan sahabatnya yang selalu ada saat dia membutuhkan. begitu saja, mereka juga menderita kanker ganas yang membuat pacarnya meninggalkannya. Setelah banyak hal terjadi, mencari pelukis buku yang tidak dikenal, berkeliling Amsterdam, membuat sumpah kematian, melakukan upacara pra-kematian untuk melihat kekasihnya mati di depan matanya. semua kepahitan telah dirasakan oleh Hazel Grace. sampai akhirnya penulis buku yang sangat dia sukai itu mengungkapkan isi akhir dari buku tersebut.

Bagian ini menceritakan tentang Augustus yang ingin melaksanakan pemakamannya di gereja. Ketika dia memasuki altar gereja, ada suasana yang terang, damai dan tenang. Sudah ada Augustus dan Ishak di dekat patung Yesus. Isaac tertawa melihat ekspresi panik di wajah Hazel Grace karena dia terlambat. Setelah menjelaskan semuanya, Hazel Grace bertanya apa dan mengapa dengan gereja ini dan kami. Augustus angkat bicara, “Saya ingin mengadakan pemakaman. Apakah Anda ingin berpidato di pemakaman saya?” Tiba-tiba pertanyaan itu mengejutkan Hazel Grace, tapi dia tetap menjawab bahwa dia akan berpidato di pemakaman kekasihnya. Mustahil bagi penderita kanker ganas untuk tidak memikirkan kematian yang cepat, itulah yang dipikirkan Hazel Grace.

Saat Isaac menyampaikan pidatonya, Hazel Grace mulai bertanya kepada Augustus mengapa dia melakukan semua ini dan mengapa dia berada di gereja pada tengah malam malam ini. “Apakah kamu pikir pintu itu akan terbuka setiap malam? Dan saya melakukan ini karena saya tidak dapat mendengarkan Anda ketika saya mati. Ini saat yang tepat untuk mendengarkannya.” Kedengarannya konyol tapi itulah kenyataannya. Sepertinya Augustus telah mengetahui kematiannya, itulah yang dipikirkan Hazel Grace selama di gereja.

Pada topik ini, banyak pembaca yang merasa kebingungan dengan pola pikir Augustus. Tetapi pada akhirnya penulis menjelaskan semua kenapa semuanya terjadi.

"Luar biasa,"ia berkata "Saya berharap saya akan hadir sebagai hantu, tetapi hanya untuk memastikan, saya pikir saya akan - yah, tidak menempatkan Anda di tempat, tapi saya hanya sore ini berpikir saya bisa mengatur prefuneral, dan saya pikir karena saya dalam semangat yang cukup baik, tidak ada waktu seperti sekarang. "– pilih Rasyid, salah seorang pembaca novel “The Fault In Our Stars”. Dari kutipan tersebut ia dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Augustus, Hazel Grace, Isaac maupun seluruh pemeran yang ada di novel ini. Tetapi Augustus memilih untuk tidak memperlihatkan kesedihannya, malah ia menjadikan kematiannya sebagai pengingat untuk semua orang tetap berjuang untuk hidup mereka sendiri. Dengan tidak membiarkan semua orang sedih terhadap kematiannya dalam jangka waktu yang lama.

"Tapi itu tidak benar. Saya menyebutnya sembilan karena saya menyelamatkan sepuluh saya. Dan di sinilah, sepuluh besar danmengerikan, membanting saya lagi dan lagi saat saya berbaring diam dan sendirian di tempat tidur saya menatap langit-langit, ombak melemparkan saya ke batu-batu kemudian menarik saya kembali ke laut sehingga mereka bisa meluncurkan saya lagi ke wajah bergerigi tebing, meninggalkan saya mengambang menghadap ke atas air,  tidak penuh sesak."Hazel Grace memilih kematian kekasihnya adalah sakit yang paling sakit ia rasakan seumur hidupnya. Inilah kutipan yang dipilih Grayson Walker pada blognya tentang buku The Fault in Our Stars. Kutipan itu sangat menyentuh pikirannya. Rasa sakit yang datang dari kematian kekasih yang tak bisa dihindari dan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya perlahan.

Perjuangan Gus dan Hazel, yang sama-sama tidak sempurna karena penyakit yang mereka idap, namun kisah keduanya tidak hanya berkeluh kesah tentang rasa sakit yang mereka alami. Diceritakan juga tentang keinginan Hazel yang mempunyai keinginan bertemu dengan penulis buku kesukaannya, yaitu buku yang berjudul Kemalangan Luar Biasa yang saking sukanya, Hazel telah membacanya hingga berulang kali. Dan Gus, berusaha mewujudkan keinginan Hazel tersebut. Akhirnya Hazel bisa bertemu dengan Peter Van Houten, penulis favoritnya. Namun sesuatu terjadi hingga akhirnya Hazel merasa sangat kecewa dengan pertemuan itu.

Dan meski hanya sesaat saja, kisah cinta Gus dan Hazel sangat manis dan menyentuh. Keduanya saling melengkapi. Itu yang terlintas dalam pikiran saya, karena saya yakin, di luar cerita fiksi seperti ini, pada kehidupan nyata ada banyak juga pasangan yang saling mencintai dengan tulus tapi pada akhirnya harus berpisah karena "sesuatu" hal. Sungguh tidak adil.

Ada banyak kalimat yang kemudian menjadi kalimat favorit saya dari buku ini, di antaranya :

•Aku takut dilupakan untuk selamanya. (halaman 21)

•Akan tiba saatnya. Ketika kita semua mati. Kita semua. Akan tiba saatnya ketika tidak ada lagi umat manusia yang tersisa untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu. (halaman 22)

•Terkadang orang tidak memahami janji yang mereka ucapkan ketika mereka sedang mengucapkannya (halaman 86)

•Aku granat. Aku hanya ingin menghindari orang, membaca buku, berpikir, dan berada bersama kalian, karena tidak ada yang bisa kulakukan untuk melukai kalian; kalian sudah terlalu kebal, jadi biarkan saja aku melakukan semua itu, oke? Aku tidak depresi. Aku tidak perlu lebih sering pergi ke luar. Dan, aku tidak bisa menjadi remaja biasa karena aku granat (halaman 136)

•Aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tidak mau mengingkari diriku sendiri dari kenikmatan sederhana berkata jujur. Aku jatuh cinta kepadamu, dan aku tahu bahwa cinta hanyalah teriakan ke dalam kekosongan, dan kelupaan abadi tak terhindarkan, dan kita semua sudah ditakdirkan, dan akan ada hari ketika semua upaya kita kembali menjadi debu, dan aku tahu matahari akan menelan satu-satunya bumi yang kita miliki, dan aku jatuh cinta kepadamu. (halaman 207 - 208)

•Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan. (halaman 365)

•Dibandingkan dengan semua orang lainnya, kaulah yang paling tahu bahwa hidup dengan rasa sakit bukannya mustahil (halaman 402)

Saat Hazel dan Augustus datang ke dia untuk bertanya apa yang terjadi setelah novel Imperial Affliction tamat. Diceritakan di novel karangan Van Houten tersebut, pemeran utamanya, Anna, meninggal karena kanker, tapi tidak diberitahu apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh lainnya. Hazel ingin tahu bagaimana ibu Anna, dan orang-orang di sekitar Anna menjalani hidup setelah Anna tiada. Tapi, Peter ternyata tidak menyambut keinginan Hazel itu dengan baik.

Di akhir cerita Augustus meninggalkan surat untuk Hazel setelah dia meninggal terlebih dahulu karena penyebaran sel kanker. Itu digambarkan betapa takutnya tentang kematian dan menyakiti orang yang dia cintai itu Hazel, itulah sebabnya beberapa kali dia menghindar dari Augustus. Berkali-kali dia mengatakan kalau dia itu bom waktu, dia bisa mati kapan saja dan bikin keluarga serta Augustus sedih. Tapi film ini mengajarkan bahwa nasib tidak ada yang bisa menebak, Augustus-lah yang pergi terlebih dahulu dan Hazel-lah yang harus patah hati karena ditinggalkan. Sebelum berpulang, Augustus menitipkan surat terakhirnya untuk Hazel lewat Van Houten.

“Apa lagi? Dia sangat cantik. Anda tidak bosan melihatnya. Anda tidak pernah khawatir jika dia lebih pintar dari Anda. Anda tahu dia. Dia lucu tanpa pernah menjadi jahat. Aku cinta dia. Aku sangat beruntung mencintainya, Van Houten. Anda tidak bisa memilih apakah Anda terluka di dunia ini, orang tua, tetapi Anda memiliki beberapa mengatakan siapa yang menyakiti Anda. Saya suka pilihan saya. Kuharap dia menyukai miliknya.”  Inilah kutipan kecil yang ada pada surat Augutus. Ia menceritakan bagaimana Hazel Grace sangat menantikan akhir dari cerita bukunya. Dan menceritakan bagaimana sudut pandang ia melihat Hazel Grace kekasihnya.

Hal penting yang bisa dipetik dari kisah Hazel dan Gus ini adalah tentang pentingnya mensyukuri setiap nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa, terutama nikmat sehat dan jangan pernah coba-coba merendahkan dan menganggap remeh mereka, orang-orang yang ber"label" sakit.

The Fault in Our Stars adalah buku yang memulai saya gemar membaca, khususnya buku- buku karya John Green. Karya John Green tidak hanya sekedar buku penghibur saya, tapi ada banyak hal yang bisa saya pelajari terutama yang berhubungan dengan lingkungan sosial dan juga Self Development. Buku ini bercerita tentang kesedihan dan penderitaan orang-orang yang menderita kanker tapi, buku ini juga menyajikan humor-humor cerdas didalamnya. Meskipun ada beberapa adegan dan perkataan yang tidak penting, pembaca masih tetap bisa menikmati alur cerita pada bagian ini. Penulis juga menjelaskan denga teliti penokohan dan karakter masing-masing pemeran. Ada beberapa adegan yang terlalu  vulgar untuk diceritakan dan tidak berkaitan dengan alur cerita. Tetapi itu hanya beberapa adegan kecil. Berkat kesuksesan buku ini, pada tahun 2014 The Fault in Our Stars karya John Green diadaptasi ke dalam film yang di sutradarai oleh Josh Boone.

Posting Komentar

0 Komentar