Pengamat Siapapun Presiden AS Terpilih, Konflik AS - Tiongkok akan Tetap Memanas.


Siapapun yang terpilih jadi presiden AS pada Pilpres 2020, hubungan AS-Tiongkok diyakini tetap panas (BBC)

IMPIANNEWS.COM (AS).

Sejumlah analis politik menilai siapapun pemenang Pilpres AS 2020 atau siapapun presiden terpilih nanti, tak akan berpengaruh banyak terkait konflik dengan Tiongkok. Donald Trump atau Joe Biden tak berpengaruh terhadap hubungan AS dengan Tiongkok dan diyakini tetap panas. Sikap konfrontatif antara AS dan Tiongkok kemungkinan akan terus berlanjut.

Dengan jajak pendapat yang menunjukkan Joe Biden memegang keunggulan atas Trump di empat negara bagian paling penting, para analis melihat ada kemungkinan kemenangan didapat mantan Wakil Presiden era Barack Obama tersebut. Akan tetapi hasil mengejutkan pada empat tahun lalu juga tak boleh dilupakan saat Trump menang dari Hillary Clinton.

Apapun hasilnya, para analis menilai bahwa Perang Dingin AS dan Tiongkok akan tetap ada. “Tidak peduli siapa yang memenangkan pemilu, hubungan AS-Tiongkok tidak akan terlalu baik. Saya pikir kebijakan Trump mungkin lebih tidak menentu, dia sangat tidak dapat diprediksi. Saya ragu akan ada banyak perubahan dalam kebijakan, karena salah satu dari sedikit hal yang menyatukan Partai Republik dan Demokrat adalah bahwa mereka sama-sama bermusuhan dengan Tiongkok,” kata Associate Professor dan Wakil Direktur Pusat Riset Bisnis Asia Pasifik City University, Priscilla Roberts, kepada MNA seperti dilansir dari Macau Bussiness, dikutip impiannews.com, Selasa (3/11).

“Demokrat cenderung lebih fokus pada masalah hak asasi manusia dan Partai Republik lebih pada strategi, tetapi saya akan mengatakan mereka semua sangat kompak tidak senang dengan Tiongkok,” kata Profesor Roberts.

“Saya cukup lega bahwa kampanye pemilihan yang berlangsung tanpa memicu krisis besar di Laut China Selatan, mungkin di Taiwan. Saya pikir yang terbaik di tengah situasi yang cukup antagonis ini, tidak benar-benar diterjemahkan menjadi permusuhan langsung,” jelasnya

Hanya saja, bagi Profesor Departemen Pemerintahan dan Administrasi Publik UM, Michael Share, hasil pemilu akan memberikan perubahan besar bagi AS dan hubungannya dengan Tiongkok. Dia menilai ke depan setelah pemilihan presiden diprediksi lebih stabil.

“Saat ini benar-benar tidak menentu dan bisa bolak-balik tergantung suasana hati. Saya pikir Biden juga jauh lebih berkomitmen pada perdagangan bebas daripada Trump,” kata Share.

Oleh karena itu, Share yakin jika Biden terpilih akan segera mengarah pada pelonggaran pembatasan perdagangan dan kembali ke pendekatan perjanjian multilateral oleh pemerintahannya.

Pemilu AS akan dimulai pada Selasa malam waktu AS dengan hasil, seperti biasa, keluar pada waktu yang berbeda untuk masing-masing dari 50 negara bagian. Tahun ini, sejumlah rekor warga AS telah memberikan suara mereka dalam pemilu 2020 melalui surat suara absensi, karena pandemi Covid-19, jutaan orang telah memutuskan untuk tidak memberikan suara secara langsung pada hari pemilihan.

“Dua negara bagian yang harus diwaspadai pada Rabu pagi adalah Florida dan North Carolina karena mereka akan menghitung dengan sangat cepat. Jika Florida dan North Carolina memberi dukungan pada Biden, kita akan tahu bahwa dia akan menang dan dengan selisih yang besar, karena keduanya memilih Trump pada 2016,” kata Share kepada MNA.

Di bawah sistem Electoral College AS, setiap negara bagian mendapatkan jumlah pemilih tertentu berdasarkan jumlah total perwakilannya di Kongres. “Jika ini adalah kemenangan telak bagi Biden, karena perkiraan mengatakan bahwa dia bisa menang dengan 350 suara elektoral sama dengan yang didapat Obama pada 2008, kita kemungkinan akan tahu pada Rabu malam dan kemungkinan tidak akan ada gugatan pengadilan. Jika hampir mendekati, seperti pada 2016 atau 2000, Anda mungkin akan melihat gugatan pengadilan dan kami mungkin tidak mengetahuinya selama berhari-hari,” pungkas Share.***


Posting Komentar

0 Komentar