Genderang Perang Antara Rusia dan Turki Ditabuh di Idlib


IMPIANNEWS.COM (Rusia)

Surat kabar Inggris Financial Times (FT) melaporkan bahwa Rusia dan Turki, dua negara penjamin keamanan provinsi Idlib di Suriah utara, mulai berkonflik dan bersaing lagi menyusul serangan udara Rusia terhadap kelompk-kelompok pro-Turki, meskipun masih berlaku perjanjian Moskow-Ankara yang mengatur gencatan senjata di wilayah tersebut.

Laporan itu menyebut konflik tersebut sebagai persaingan baru antara Ankara dan Moskow di Suriah utara, yang menjadi “ancaman yang lebih panas” daripada sebelumnya.

Menurut FT, serangan Rusia terhadap Failaq Syam (Legiun Syam) yang berafiliasi dengan kelompok Tentara Nasional Suriah yang didukung Turki merupakan “balas dendam terhadap Turki atas campur tangannya dengan Azerbaijan di Karabakh”.

“Dimulainya kembali permusuhan di Idlib tampaknya merupakan pembalasan Rusia atas intervensi Turki untuk mendukung Azerbaijan dalam konfliknya dengan Armenia, dan tampaknya Putin juga telah menarik persetujuannya atas kehadiran militer Turki di Suriah utara,” tulis FN, seperti dikutip Al-Alam, dilansir impiannews. com, Minggu (1/11/20).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pernyataan di sela-sela pertemuan dengan faksi Partai Keadilan dan Pembangunan di parlemen Turki (AKP) Rabu pekan lalu mengatakan, “Ada tanda-tanda yang menunjukkan Rusia tidak mendukung stabilitas dan perdamaian di Suriah.”

Erdogan saat itu menilai serangan Rusia terhadap pusat rehabilitasi milisi Tentara Nasional Suriah di Idlib merupakan indikasi kurangnya dukungan kepada perdamaian dan stabilitas yang permenan di kawasan tersebut.

Sehari sebelum itu, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam percakapan dengan Erdogan telah membicarakan perkembangan regional, terutama Idlib.

Menurut pernyataan Kremlin, pembicaraan itu membahas tiga masalah, terutama Suriah, karena kedua belah pihak menegaskan komitmen mereka pada kesepakatan yang ada untuk menggalang stabilitas di Idlib dan timur Efrat serta penyelesaian politik di Suriah.

Pembicaraan itu dilakukan menyusul terjadinya serangan udara Rusia secara masif di daerah Jabal Al-Duwailah, Idlib, terhadap militan pro- Turki hingga menewaskan 40 anggota Failaq Sham, salah satu kelompok yang dianggap berkomitmen pada perjanjian antara Rusia dan Turki. [Tp]


Posting Komentar

0 Komentar