Richard Wright: Penulis Yang Memperjuangkan Hak Kaum Kulit Hitam di Amerika

Foto: Library of Congress, Washington, D.C. (LC-USW3-030278-D)

Oleh: Muhammad Fazil Maulana dan Ferdinal
(Civitas Academica Unand)

IMPIANNEWS.COM

Richard Wright merupakan penulis kulit hitam keturunan Afrika Amerika yang lahir pada 4 September 1808 di dekat Natchez, Mississippi, Amerika Serikat. Richard Wright merupakan seorang novelis dan penulis cerita pendek yang dikenal sebagai penulis Afrika Amerika yang berani protes melawan tindak diskriminasi kulit hitam yang dilakukan oleh kaum kulit putih yang terjadi semenjak berakhirnya perang dunia II.

Wright yang lahir dalam keluarga kulit hitam dimana kakeknya diperbudak dan ayahnya meninggalkan dia pada umur 5 tahun. Pada tahun 1937 dia pergi ke kota New York dan menjadi editor di sebuah harian. Richard Wright menarik perhatian publik ketika dia meluncurkan novel Uncle Tom’s Children pada tahun 1938. Novel ini diluncurkan karena sebuah pertanyaan: Bagaimana bisa orang kulit hitam hidup dinegara yang menolak orang kulit hitam itu sendiri. Kemudian Richard Wright menerbitkan novel fiksi yang berjudul Native Son. 

Novel ini menceritakan seorang kulit hitam yang malang bernama Bigger Thomas. Thomas secara tidak sengaja membunuh gadis kulit putih. Dalam novel ini, Richard menjabarkan bagaimana tindak kejahatan yang dialami oleh kaum kulit hitam dapat dipahami dengan mudah. Novel ini menjadi novel Richard dengan predikat Best Seller. Ketika novel ini muncul, kebudayaan Amerika berubah selamanya. Native Son menyerang kaum mayoritas kulit putih akan perlakuan mereka yang mempermalukan kaum kulit hitam. 

Novel ini berpusat pada aspek negatif dari politik, dan bagaimana hal itu mempengaruhi komunitas kulit hitam. Kondisi kehidupan Bigger dan keluarganya yang berada dikemiskinan memberi kita konteks yang hebat dari depresi, dan ini juga menjadikan novel Richard yang terkenal. Native Son mengeksplorasi bagaimana perjuangan orang Afrika-Amerika dalam mendapatkan kebebasan hak. Dalam Native Son, Wright merepresentasikan kekerasan yang dialami oleh kaum kulit hitam sebagai: “Kekerasan adalah kebutuhan bagi kaum yang tertindas. Ini bukan strategi yang dirancang secara sadar. Ini merupakan ekspresi naluriah yang mendalam dari seorang manusia yang menyangkal individualitas”

Dalam Native Son, Wright cenderung menyerang kaum kulit putih dengan karyanya yang berbentuk kritikan. Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari dan hubungan antar manusia, maka kasus Richard Wright ini merujuk kepada pembuatan karya sastra yang mewakili keluh kesah penulis akan sesuatu. Keluh kesah dari penulis ini terjadi karena adanya sikap kurangnya kesadaran diri dari teman, atau orang yang baru ditemuinya. Oleh karena itu Wright menulisnya dalam buku Native Son, Wright mendeskripsikan perlawanannya dengan “Orang bisa menderita karena kurangnya kesadaran diri daripada kekurangan roti”. Ini menjelaskan bahwa orang-orang yang kurangnya kesadaran diri atau bisa disebut orang yang kurang peka terhadap keadaan sekitar maka ia akan menderita. 

Pada masa Wright menulis novel ini, banyak orang yang kurangnya kesadaran diri terhadap tindak diskriminasi kaum kulit putih terhadap kaum kulit hitam. Bahkan kata kaum kulit putih orang hitam harusnya menjadi religius supaya gampang dipengaruhi. Ini tertulis dalam buku Native Son yaitu “Orang kulit putih suka kita menjadi religius, supaya kita gampang dipengaruhi”. Kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan orang-orang sekitar yaitu kita harus menjadi pribadi yang utuh, percaya dengan prinsip hidup sendiri, jika tidak maka kita akan mudah dipengaruhi oleh orang lain. Sebaliknya jika kita merupakan orang yang tidak berpendidikan maka kita akan mudah dipengaruhi.

Richard Wright kemudian menerbitkan karya dalam bentuk sebuah buku yang berjudul Black Boy. Autobiografi Wright ini muncul lima tahun setelah buku Native Son.   Buku ini bercerita tentang pengalaman Richard tentang perpesktif buruk dan kekerasan yang dilakukan orang kulit putih kepada orang kulit hitam, serta kesadarannya untuk mengembangkan minatnya dalam bidang sastra. Wright menjabarkan dalam autobiografinya mengenai pengalaman Wright ketika bekerja sebagai pelayan di daerah Selatan. Berkali-kali dia membawakan barang ke kamar hotel seperti barang bawaan atau makanan dan suatu ketika Wright melihat wanita kulit putih telanjang sedang duduk.

Wright tidak merasa malu karena dia mengatakan: “Orang kulit hitam tidak dianggap sebagai manusia bagaimanapun…Aku bukan laki-laki …Aku merasa dua kali diusir” begitulah dikutip dari buku Black Boy. Wright ingin pembaca merasakan kemarahannya dan dia ingin dirinya merasa dihormati sebagai laki-laki. 

Perjalanan Richard dari kecil hingga dewasa, dari budidaya imajinasinya untuk mencari gaya realis yang kuat, dari perkebunan “bocah kulit hitam” dengan intelektual, disejajarkan dengan berbagai aspek kulit hitam di Amerika. Meskipun Wright diidentifikasi oleh orang lain sebagai pria dengan kulit berwarna hitam, akan tetapi perasaan pribadinya, keunikannya, dan emosionalnya menunjukkan bahwa dia hidup. Sebagaimana dia merekonstruksinya di Black Boy dan American Hunger, keduanya mendirikan hubungan dengan identitas orang kulit hitam yang lengkap dan pengalaman orang kulit hitam.

Ketika Wright menggambarkan identitas kaum kulit hitam dalam Black Boy sebagai kaum yang penuh kehangatan. Kaum kulit hitam dapat bertahan hidup dihadapan rezim kaum kulit putih karena mereka menemukan sumber daya alam berupa perkebunan. Wright juga membuat autobiografinya agar orang-orang tidak hanya memahami ceritanya saja, tetapi menjadikan orang-orang candu membaca karya sastra, baik itu novel maupun autobiografi. Didalam Black Boy, Wright mengatakan bahwa “membaca novel seperti narkoba, menciptakan candu. Novel menciptakan suasana hati dimana saya hidup berhari-hari.”

Richard Wright berani melawan penindasan yang terjadi pada kaum kulit hitam karena kaum kulit hitam berhak mendapatkan perlakuan manusiawi dari sesama manusia. Kejadian yang dialami oleh Richard Wright juga terjadi di banyak sampai saat ini. Di Eropa misalnya, seringkali terjadi tindakan diskriminasi yang umumnya dilakukan oleh kaum kulit putih terhadap kaum kulit hitam. Diskriminasi warna kulit sering terjadi di tempat umum, sekolah dan lapangan sepakbola. Bahkah FIFA (Federation Internationale de Football Association) menjalankan kampanye anti rasisme di setiap pertandingan dengan harapan dapat mengurangi tindakan rasisme. 

Kaum minoritas lebih suka mengganggu kaum minoritas dengan tindakan-tindakan yang bersifat merugikan, biasanya diskriminasi sering terjadi pada kaum minoritas seperti halnya yang dialami oleh kaum kulit hitam pada masa hidup Richard Wright. Banyak konteks seperti ini, kebanyakan kaum yang tertindas menunjukkan jati dirinya sebagai pekerja keras, bermental baja dan pintar. Mereka pada umumnya melawan tindakan diskriminasi dengan menciptakan karya sastra yang sifatnya mengkritik kaum mayoritas karena telah bertindak sewenang-wenang dalam diskriminasi. 

Karya-karya Wright seperti Native Son dan Black Boy merupakan symbol dari penindasan kaum-kaum kulit hitam yang dilakukan oleh kaum kulit putih. Setelah berbagai perjuangan yang dilalui oleh Wright, pada akhirnya dia mengubah sejarah amerika mengenai kaum kulit hitam selamanya. Richard Wright meninggal pada 28 November, 1960 di Kota Paris, Prancis.

Posting Komentar

0 Komentar