Catatan Millenial "Rang Mudo Minangkabau"

Abdul Jamil

IMPIANNEWS.COM

Anak muda adalah seseorang yang berusia diantara 17-25 tahun. Anak muda adalah generasi penerus bangsa yang ditangan dan di kakinya telah bertahta tanggung jawab terhadap wajah dan arah bangsa kedepannya. Karena Ir. Soekarno pernah berkata:

"Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"

Begitu penting peran pemuda dalam menegakkan semangat perjuangan begitu juga di Minangkabau, peran pemuda yang begitu penting itu sangat berguna bagi kemajuan Minangkabau pada masa mendatang. Seperti yang dikatakan dalam filosofi Minangkabau berikut ini:

“anak mudo parik paga nagari”.  Maksudnya

Sistem yang ada di Minangkabau bisa melahirkan sosok pemuda menjadikan pelindung, pengaman dan tulang punggung dalam memajukan kehidupan nagari atau Minangkabau. Begini kalau anak muda Minangkabau  menuai kesuksesan maka Nagari di Minangkabau juga akan sukses. Ibarat seperti air bah besar, apabila kita menghadang nya kita akan terbawa hanyut ke dalamnya. Begitu juga tentang anak muda banyak anak muda Minangkabau yang sukses maka semakin membuat kita termotivasi untuk sukses kedepan. Banyak dari kita anak muda Minangkabau dulunya adalah bapak pendiri bangsa misalnya saja M M Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, M Yamin dan masih banyak lagi. 

Semua yang disebutkan merupakan orang yang sukses yang menempa pendidikan yang ada di Minangkabau. Begitu gigih dalam menghadapi segala rintangan dan cobaan agar bangsa kita berdiri. Kita sebagai generasi Minangkabau yang notabene hidup di zaman  milenial untuk kedepannya kita bisa menghidupkan kembali cahaya yang telah padam dalam pepatah Minangkabau dapat diistilahkan "Mambangkik batang tarandam” secara harfiah dapat diartikan: membangkit batang yang terendam atau terbenam. 

Dari sini tampak sebagai suatu upaya untuk mengobarkan semangat agar terus maju, dengan tetap berpijak pada kekuatan dan potensi – potensi yang dimiliki, mengolah dan membangkitkannya kembali sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Demikianlah, jargon tersebut dipandang sebagai hasrat seseorang atau kelompok untuk mengembalikan kejayaan mereka di masa lalu. Namun pada sisi lainnya, penggunaan kalimat “mambangkik batang tarandam” dapat mencerminkan perasaan semangat, rendah diri, dan nuansa pesimisme karena adanya beban akibat tuntutan terhadap “pengembalian kejayaan masa lalu” yang pernah dialami secara personal maupun kelompok.

Membangkitkan kejayaan masa lalu kita sebagai orang Minang sangat penting untuk sekarang ini karena sudah tidak banyak orang yang berasal dari Minangkabau yang sekarang sebagai orang yang berpengaruh di dalam negara untuk sekarang ini. Ada beberapa faktor yang membuat anak muda Minangkabau sekarang sudah tidak lagi menjadi orang Minang yang sama seperti dahulu lagi diantaranya:

Lembaga Pendidikan Non formal yang sudah mulai dilupakan masyarakat

Di Minangkabau banyak pendidikan non formal misalnya saja surau, lapau, dan galanggang sekarang sudah tidak diminati oleh rang mudo Minangkabau. Misalnya saja Surau sekarang sudah mulai ditinggalkan, mana ada zaman sekarang pemuda yang tidur di surau karena surau adalah tempat yang sudah jarang disinggahi oleh beberapa pemuda yang ingin belajar ilmu agama misalnya. Dahulu pemuda yang tidak tidur di surau akan dihina sekarang malah sebaliknya

Pengetahuan ilmu dan teknologi yang semakin maju

Ilmu teknologi yang maju membuat rang mudo Minangkabau sekarang sudah tidak ada lagi yang mengamalkan tidur di surau karena sudah ada pengganti yang sepadan yaitu Handphone yang semakin marak beredar dalam masyarakat. Sekarang rang mudo Minangkabau terkenal virus diumah saja, karena Rang Mudo ini sudah nyaman dengan mainan barunya

Merantau yang sudah mulai dilupakan

Merantau disebabkan semakin menipisnya lahan yang pertanian, semakin susahnya mencari pekerjaan di kampung halaman membuat seseorang di Minangkabau pergi merantau. Banyak pengangguran di Minangkabau sekarang menganggur akibat sempit nya lahan pekerjaan. 

Semakin padatnya penduduk membuat seseorang menjadi semakin sulit mencari pekerjaan terutama di kampung halaman mereka. Semakin berkembangnya zaman, semakin sempurna  teknologi mau tidak mau untuk mencukupi kebutuhan ekonomi harus pergi merantau. 

Satu lagi yang menarik, karena perkembangan teknologi yang semakin maju. Lapangan pekerjaan sampingan di Minangkabau semakin pudar misalnya saja songket. Songket merupakan kain yang ditenun dengan tangan sendiri. Biasanya harga songket lebih mahal daripada harga songket yang dibuat dengan teknologi. 

Songket di Minangkabau merupakan suatu kerajinan yang sudah menjadi tradisi. Sekarang sudah tidak banyak orang yang ahli dalam membuat songket karena faktor pengaruh zaman yang semakin pesat. Karena adanya mesin yang canggih perlahan kerajinan menenun atau usaha menenun songket di Minangkabau dapat dikalahkan. Dikalahkan disini dalam artian harga songket yang terbuat dari teknologi lebih murah dibandingkan  harga songket yang dibuat dengan tangan sendiri.  

Karena hal ini rang mudo pergi merantau faktanya di tempat domisili penulis sekarang pemuda lebih suka di rumah dibanding merantau oleh karena itu pemuda yang sudah kecanduan Hp maka dia  akan diam di rumah dibanding merantau. Sekarang pergeseran nilai budaya yang sudah semakin terlihat.

Ketiga faktor tersebut tentu berpengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat kedepan. Oleh karena itu masyarakat Minangkabau sekarang harus sadar akan perubahan-perubahan yang terjadi sekarang ini. 

Perubahan ini disebabkan karena perkembangan teknologi yang semakin canggih, dan kurangnya literasi dan bacaan yang membuat rang mudo sekarang sekaan terbuai dengan kemajuan teknologi. Untuk itu kedepan kita sebagai masyarakat Minangkabau harus mencari solusi secara bersama bagaimana nasib kita sebagai masyarakat Minangkabau kedepan. Kita harus melahirkan Tan Malaka baru, M Yamin baru serta M Hatta baru agar marwah kita sebagai masyarakat Minangkabau yang terkenal dengan cerdik pandai  dalam pemikiran seperti kata Ir Soekarno: 

"Bekerja seperti orang Jawa, berbicara seperti orang Batak, berpikir sebagai orang Minang"

Kita sebagai generasi penerus tentu tidak mau menghilangkan pepatah Bung Karno ini karena sudah terkenal dimana-mana bahwa orang Minang terkenal dengan pemikiran nya . Semoga kedepaj kita bisa mencarikan solusi bersama untuk masalah rang mudo kita.

Ditulis oleh: Abdul Jamil Al Rasyid

Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand 2019
Serta Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek

Posting Komentar

0 Komentar