Azerbaijan Mengamuk Habisi 2.300 Prajurit Armenia dan Persenjaan Perang

 Azerbaijan Mengamuk Habisi 2.300 Prajurit Armenia dan Persenjaan Perang


IMPIANNEWS.COM (Azerbaijan).

Azerbaijan mengklaim telah berhasil membunuh atau melukai 2.300 personel militer Armenia, sejak konflik antar kedua negara kembali meletus di zona konflik Nagorno-Karabakh pada Minggu 27 September. Klaim disampaikan langsung Kementerian Pertahanan Azerbaijan, menurut laporan di media Anadolu Agency, dikutip impiannews.com. Rabu 30 September 2020.

Selain mengklaim telah "menghabisi" 2.300 prajurit Armenia, Kemenhan Azerbaijan juga mengaku berhasil menghancurkan 130 tank dan kendaraan lapis baja, 200 artileri dan sistem misil, 25 sistem pertahanan udara, dan enam zona observasi.

Tidak hanya itu, Baku juga mengklaim telah berhasil menghancurkan lima gudang senjata, 50 senjata anti-tank, dan 55 mobil di wilayah Nagorno-Karabakh. Sejauh ini Armenia belum berkomentar mengenai klaim Kemenhan Azerbaijan.

Nagorno-Karabakh diakui komunitas internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, namun dikuasai grup etnis Armenia. Puluhan ribu orang tewas dalam konflik memperebutkan wilayah tersebut, yang sudah dimulai sejak awal 1990-an.

Sementara itu di sisi Armenia, Perdana Menteri Nikol Pashinyan berencana mengakui kemerdekaan Nagorno-Karabakh. Ia juga membuka kemungkinan membentuk aliansi militer dan politik dengan otoritas Nagorno-Karabakh.

Pashinyan diketahui telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin via telepon. Ia mengatakan saat ini Armenia belum akan meminta tolong Rusia di bawah kerangka perjanjian pascaruntuhnya Uni Soviet. Namun, Armenia tidak sepenuhnya menutup kemungkinan ke arah sana.

Sebelumnya, Pashinyan dan juga Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menolak dialog damai yang diserukan komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan juga Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

"Kedua kubu harus segera mengakhiri pertempuran," kata James Appathurai, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal NATO untuk Kaukasus dan Asia Tengah.

"Mereka harus melanjutkan negosiasi demi mencari solusi damai. NATO mendukung upaya Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) Minsk Group dalam mengakhiri konflik," sambungnya. Sekjen PBB Antonio Guterres juga menyampaikan seruan senada.***


Posting Komentar

0 Komentar