Catatan Novwibawa, "Pergantian Tahun, Ajang Introspeksi Diri"

Novwibawa seorang wartawan senior di kota ini, dalam kondisi di rawat di rumah sakit Baiturrahmah masih bisa mencurahkan perasaan dengan menulis sebuah karya bermanfaat bagi kita, tulisannya penuh makna yang dalam begitu beliau mencintai pekerjaan jurnalistik.


Kami bangga dengan semangat di miliki walaupun kondisi sedang di rawat dan diawasi dokter RS Baiturrahmah, semoga beliau cepat sembuh dan kembali kepangkuan keluarganya. Dibawah ini tulisan Novwibawa tempat curahan hatinya bila sendurian.

TAK terasa sudah kita telah sampai di penghujung tahun 2017. Beberapa saat lagi tahun 2017 akan menjadi kenangan dan tahun 2018 telah diambang mata akan menyambut kita semua. Memang tak terbantahkan lagi malam pergantian tahun baru masehi sangat ditunggu-tunggu oleh semua kalangan diseantero dunia

Di malam pergantian Tahun, sebagian besar manusia meluapkan perasahaan gembira dan bersuka ria. Sampai saat megetik tulisan ini penulis tidak paham Apa Sebenarnya yang menjadi landasan mereka hingga begitu bahagianya dengan tibanya pergantian tahun?. Karena menurut hemat penulis dengan adanya pergantian tahun, berarti semakin tuanya umur manusia dan semakin tuanya umur bumi dan alam semesta ini. Artinya jika bumi dan alam semesta telah tua dan semakin dekatnya dengan yang datangnya hari kiamat.

Dan juga tidak bisa di pungkiri, pada sebagian orang sangat menginginkan adanya perubahan. Sebab dasar dari manusia adalah makhluk sosial yang suka perubahan dan pembaharuan. Sehingga karena itu maka manusia merayakannya denga penuh antusias, penuh optimisme dan penuh semangat di dalam menjalankan hidup. Hidup itu perlu perubahan, perlu inovasi dan perlu variasi.


Seperti tahun-tahun yang lalu, mayoritas manusia menghadapi tahun baru sering dirayakan secara glamor dan hedon. Hingga kita lupa merenung lebih dekat dengan makna yang lebih baik. Bukankah tahun baru ajang intropeksi diri kita di tahun lalu. Sadarkah kita bahwa masih banyak kekurangan dan keburukan yang kita lakukan di tahun lalu. Banyak target, banyak rencana baik belum terlaksanakan, bahkan masih ada janji yang belum ditepati. Sadar atau tidak, sebagai manusia pasti mempunyai kelemahan dan kekurangan. Namun selama masih ada jiwa dan raga yang baik, tentu manusia harus berusaha untuk hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Di tahun baru 2018 ini cobalah kita belajar dari kegagalan, kekurangan dan kekeliruan di tahun 2017. Semua yang terjadi pada tahun sebelumnya harus kita jadikan pelajaran dan peringatan. Agar kita benar-benar bisa menghayati makna tahun baru ini dan memperbaiki serta menyempurnakan apa yang telah kita lakukan. Jika kita belum bisa memahami apa makna tahun baru, jika apa yang terjadi di tahun 2017 masih terjadi juga di tahun 2018 ini, jika keteledoran masih tetap kita lakukan, maka tidak ada gunanya kita merayakannya.

Tahun baru memang pertanda bergantinya tahun. Namun yang pokok, kelak ada pergantian kehidupan. Banyak yang tiup terompet. Sebanyak itu yang tak tahu terompet dipicu otak dan nafsu. Sedikit yang bermuhasabah. Sesedikit itu pula yang tahu, landasan muhasabah adalah hati dan akal.

Akhir kata, dalam keheningan saya merenung: “Siapa yang tak sadar kekeliruan 2017, dia tak punya masa depan di 2018. Siapa yang tak mau akui keliru kemarin, dia tak bakal punya masa depan”. (***)