Ahli Epidemiologi Sebut Kasus Corona di Indonesia Sudah Tak Terkendali




Ahli Epidemiologi Sebut Kasus Corona di Indonesia Sudah Tak Terkendali

IMPIANNEWS.COM (Jakarta).

Jumlah kumulatif kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia mencapai 180.646 orang. Dari jumlah tersebut, 129.971 orang dinyatakan sembuh dan 7.616 orang lainnya meninggal dunia.

Lonjakan kasus positif meningkat drastis dalam satu pekan terakhir. Tiga kali kasus positif Covid-19 bertambah di atas angka 3.000 dalam sehari, yakni 28 Agustus 3.003 orang, 29 Agustus 3.308 orang, dan 2 September 3.075. Rata-rata pertambahan kasus dalam tujuh hari ke belakang sebesar 2.926 orang.

Meskipun pasien yang dinyatakan sembuh terbilang tinggi, pasien yang meninggal dunia juga tak bisa diabaikan. Dalam tujuh hari terakhir, pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia mencapai 672 orang atau rata-rata bertambah hampir 100 orang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyatakan peningkatan kasus positif Covid-19 di Indonesia masih relatif terkendali dibandingkan dengan negara lain. Ketika Jokowi mengeluarkan pernyataan itu, kasus Covid-19 sebanyak 174.796 orang per 31 Agustus.

Epidemiolog Universitas Airlangga, Windhu Purnomo menepis klaim Jokowi. Windhu mengatakan penyebaran virus corona tak terkendali dengan melihat pergerakan kurva selama enam bulan ini.

Menurut Windhu, angka pertambahan kasus positif dan pasien meninggal dunia yang masih tinggi menunjukkan pemerintah belum optimal menekan laju kasus Covid-19 di hulu melalui testing dan penelusuran kontak erat.

"Di hulu masih kurang penanganannya, 'banjirnya' (pasien) akan tiba sampai hilir (di rumah sakit), jumlah tes itu sendiri meski dikebut belum ideal. Kalau melihat kondisi ini, ya masih akan meningkat, jadi tentu kasusnya tidak terkendali," kata Windhu saat dihubungi.

Pernyataan Windhu menyebut kasus akan terus meningkat bukan tanpa alasan. Melihat data Satgas Covid-19, sepanjang Agustus kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 66.420 kasus. 

Baru dua hari masuk bulan September saja kasus bertambah 5.850 kasus.
Kasus kematian pasien juga meningkat sepanjang bulan kemarin. Pada Agustus angka kematian berada pada angka 50-100 setiap harinya.

Kasus meninggal tertinggi yakni pada 27 Agustus sebanyak 120 orang. Jika ditotal, pasien yang meninggal pada Agustus mencapai 2.286 orang, lebih tinggi dari angka kasus kematian Juli dengan kumulatif pasien meninggal sebanyak 2.255 orang.

Angka kematian di Indonesia sebesar 4,2 persen tersebut masih berada di atas rata-rata angka kematian global sebesar 3,3 persen.

"Angka kasus positif meningkat juga dipicu oleh kebijakan pemerintah yang makin longgar, makin relaksasi, pemerintah kan pernah mengatakan jangan nge-gas terus, sekarang 'rem' ini perlu ditarik," kata Windhu.

Windhu juga menegaskan bahwa angka positif sebetulnya dua kali lipat lebih banyak dari pada yang diumumkan oleh Satgas Covid-19. Kondisi tersebut tak terlepas dari jumlah testing yang masih rendah sehingga pelacakan kasus belum optimal.

Sesuai target WHO, suatu negara semestinya mampu melakukan testing 1.000 per 1 juta penduduk per minggu. Apabila menggunakan asumsi jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa, maka dibutuhkan tes Covid-19 sebanyak 260 ribu per minggu. Dengan demikian, target tes per hari berada di kisaran angka 37 ribu.

Pada pekan lalu, Satgas Covid-19 merinci testing Covid-19 di Indonesia. Pada 20-26 Juli Indonesia melakukan tes sebanyak 89.712 tes, 27 Juli-2 Agustus 85.402 tes, 3-9 Agustus 90.063, 10-16 Agustus 89.127, dan 17-23 Agustus 95.463 tes.

"Mungkin ada 350-400 ribu itu mungkin, itu angka optimistik," kata Windhu.

Sementara, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Hariadi Wibisono mempertanyakan definisi pengendalian kasus oleh pemerintah sehingga sering menyebut pandemi Covid-19 masih terkendali.

Menurutnya, pandemi Covid-19 baru bisa dikatakan terkendali jika tidak ada satu pun penularan di masyarakat.

"Terkendali itu maksudnya apa? Apa artinya jika kasus bertambah itu terkendali? Menurut saya terkendali itu kalau tidak ada kasus satu pun di masyarakat," kata Hariadi.

Hariadi mengatakan pemerintah saat ini semestinya melakukan pembatasan aktivitas penduduk dengan tetap meningkatkan testing dan penelusuran kontak yang masif di tengah masyarakat untuk memutus mata rantai penularan virus.

"Bukan melakukan relaksasi, membuka tempat berpotensi kerumunan, yang semestinya dilakukan ya membatasi aktivitas penduduk," ujarnya. ***