November 2019, Padang Deflasi 0,34 persen dan Bukittinggi Deflasi 0,10 persen

IMPIANNEWS.COM (Padang).

Perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan November 2019 secara umum berfluktuasi. Di Kota Padang pada bulan November 2019 terjadi deflasi sebesar -0,34 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 142,55 pada bulan Oktober 2019 menjadi 142,07 pada bulan November 2019. 

Laju inflasi tahun kalender Kota Padang sampai November 2019 adalah sebesar 1,65 persen. Sedangkan laju inflasi year on year (November 2019 terhadap November 2018) sebesar 1,81 persen.," papar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Dr. Ir. Sukardi, M.Si. di gedung BPS JL. Khatib Sulaiman No. 48, Padang, Ruang Vicon Gedung 1 lantai 2, Senin Siang (2/12/2019).

Lebih lanjut, Kota Bukittinggi pada bulan November 2019 mengalami deflasi sebesar 0,10 persen atau terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 133,72 pada bulan Oktober 2019 menjadi 133,59 pada bulan November 2019.

 Laju Inflasi tahun kalender sampai bulan November 2019 sebesar 1,32 persen, sedangkan laju inflasi year on year (November 2019 terhadap November 2018) adalah sebesar 1,74 persen.


"Deflasi di Kota Padang terjadi karena adanya penurunan harga pada 3 (tiga) kelompok dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran yakni: kelompok bahan makanan sebesar 1,35 persen; kelompok sandang sebesar 0,21 persen; dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,01 persen. 

Sedangkan kelompok lainnya mengalami inflasi dengan rincian: kelompok kesehatan sebesar 0,18 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,11 persen; kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,01 persen, terang Sukardi.

Di  Kota Bukittinggi sambung Sukardi, deflasi terjadi karena kenaikan harga pada 2 (dua) kelompok dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran yakni: kelompok bahan makanan sebesar 0,60 persen dan kelompok sandang sebesar 0,14 persen. Sedangkan kelompok lainnya mengalami inflasi yakni: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,22 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,07 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang masing-masing sebesar 0,01 persen.

Lebih rinci, Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga selama bulan November 2019 di Kota Padang antara lain; bawang merah; pisang; mobil; rokok kretek filter; kacang panjang; tomat sayur; udang basah; ayam hidup; batu bata/batu tela; petai; dan beberapa komoditi lainnya. Komoditas yang mengalami peningkatan harga di Kota Bukittinggi adalah bawang merah; beras; jeruk; rokok kretek; rokok putih; apel; tomat sayur; sewa rumah; sepat siam; petai; dan beberapa komoditi lainnya. 

"Komoditas yang mengalami penurunan harga selama November 2019 di Kota Padang diantaranya: cabai merah; daging ayam ras; minyak goreng; jengkol; emas perhiasan; angkutan udara; ikan tuna; kentang; telur ayam ras; cabai rawit; dan beberapa komoditi lainnya. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga di Kota Bukittinggi antara lain: cabai merah; belut; kentang; daging ayam ras; dencis; cabai hijau; jengkol; emas perhiasan; buncis; ketimun; dan beberapa komoditi lainnya," kata Sukardi.



Di  Kota Bukittinggi sambung Sukardi, deflasi terjadi karena kenaikan harga pada 2 (dua) kelompok dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran yakni: kelompok bahan makanan sebesar 0,60 persen dan kelompok sandang sebesar 0,14 persen. Sedangkan kelompok lainnya mengalami inflasi yakni: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,22 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,07 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,04 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang masing-masing sebesar 0,01 persen.

Lebih rinci, Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga selama bulan November 2019 di Kota Padang antara lain; bawang merah; pisang; mobil; rokok kretek filter; kacang panjang; tomat sayur; udang basah; ayam hidup; batu bata/batu tela; petai; dan beberapa komoditi lainnya. Komoditas yang mengalami peningkatan harga di Kota Bukittinggi adalah bawang merah; beras; jeruk; rokok kretek; rokok putih; apel; tomat sayur; sewa rumah; sepat siam; petai; dan beberapa komoditi lainnya. 

"Komoditas yang mengalami penurunan harga selama November 2019 di Kota Padang diantaranya: cabai merah; daging ayam ras; minyak goreng; jengkol; emas perhiasan; angkutan udara; ikan tuna; kentang; telur ayam ras; cabai rawit; dan beberapa komoditi lainnya. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga di Kota Bukittinggi antara lain: cabai merah; belut; kentang; daging ayam ras; dencis; cabai hijau; jengkol; emas perhiasan; buncis; ketimun; dan beberapa komoditi lainnya," kata Sukardi.



Terkait Andil Kelompok Pengeluaran pada Inflasi/Deflasi, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Dr. Ir. Sukardi, M.Si. jelaskan,"Deflasi di Kota Padang pada bulan November 2019 disebabkan adanya andil/sumbangan deflasi pada 3 (tiga) kelompok pengeluaran yakni: kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar -0,36 persen; kelompok sandang sebesar -0,01 persen; dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dengan andil yang hampir mendekati 0,00 persen. Sedangkan 4 (empat) kelompok lainnya memiliki andil inflasi yakni: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,02 persen; kelompok kesehatan dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang masing-masing sebesar 0,01 persen; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga dengan andil hampir mendekati 0,00 persen," jelasnya.

Di Kota Bukittinggi sambungnya, pada bulan November 2019,  sebanyak 2 (dua) dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan deflasi yaitu: kelompok bahan makanan sebesar -0,15 persen dan kelompok sandang sebesar -0,01 persen. 

"Sedangkan kelompok lainnya memberikan andil inflasi yakni: kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,04 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,02 persen; dan kelompok kesehatan; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga; serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yang masing-masing memberikan andil mendekati 0,00 persen, " pungkasnya.

Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.