Korea Selatan dan Jepang Saling Mengejek..

IMPIANNEWS.COM.(Korsel). 

Korea Selatan dan Jepang saling melemparkan ejekan baru pada Senin (25/11/2019). Itu terjadi hanya beberapa hari setelah ada persetujuan untuk menyelamatkan pakta berbagi intelijen yang penting. Ejekan itu semakin menyoroti ikatan rapuh antara mantan musuh perang dan sekutu Amerika Serikat itu.

Para pejabat dari masing-masing pihak mengkritik atau menentang komentar yang dibuat oleh pihak lain dan di media. Mereka berdebat apakah Tokyo telah meminta maaf atas apa yang Seoul katakan sebagai pernyataan akhir pekan yang tidak akurat tentang perjanjian tersebut.

Di bawah tekanan Washington, Korea Selatan membuat keputusan di menit terakhir pada Jumat (22/11/2019) untuk secara kondisional mempertahankan pakta, yang dikenal sebagai GSOMIA. Itu adalah perputaran dramatis di tengah perselisihan atas sejarah dan perdagangan yang telah bertahan selama beberapa bulan.

GSOMIA, atau Perjanjian Keamanan Umum Informasi Militer, adalah simbol utama kerja sama keamanan antara kedua musuh lama dan kemitraan trilateral dengan Amerika Serikat. 

Tokyo mengatakan bahwa Seoul membuat pilihan strategis dan berharap untuk mengadakan pembicaraan perdagangan. Namun, tampaknya itu tidak akan segera mengembalikan status eksportir jalur cepat Korea Selatan.

Para pejabat di Gedung Biru kepresidenan Seoul pada Minggu (24/11/2019) mengatakan bahwa mereka telah mengajukan protes dan menerima permintaan maaf atas pengumuman kementerian perdagangan Jepang.

 Permintaan maaf itu menyatakan bahwa mereka akan terus meningkatkan penyaringan pada ekspor tiga bahan inti yang digunakan dalam semikonduktor. Tetapi mereka mengatakan bahwa hal itu sangat berbeda dengan apa yang disepakati.

Pada hari Senin, Gedung Biru mengungkapkan laporan surat kabar Yomiuri yang mengutip seorang pejabat kementerian luar negeri Jepang mengatakan tidak benar bahwa Tokyo telah meminta maaf.

“Untuk mengklarifikasi sekali lagi, kami telah mengajukan keluahan dan Jepang telah meminta maaf,” kata sekretaris pers senior Yoon Do Han yang dikutip Reuters. 

“Madia Jepang dan Korea menciptakan permainan kebenaran, tetapi kami tahu yang sebenarnya,” jelas Yoon.

Kurang dari dua jam kemudian, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menentang pernyataan Yoon. Suga mengatakan bahwa pembatasan ekspor sama sekali tidak berhubungan dengan GSOMIA.

“Tidak produktif untuk mengomentari setiap komentar Korea Selatan, tetapi tidak benar bahwa pemerintah Jepang meminta maaf,” kata Suga dalam konferensi pers yang dikutip Reuters.

Permusuhan itu berasal dari ketidaksepakatan mengenai kompensasi bagi warga Korea Selatan yang dipaksa bekerja di perusahaan Jepang selama pendudukan pada 1910-1945. 

Setelah Mahkamah Agung Korea Selatan memerintahkan kompensasi tahun lalu, beberapa mantan buruh berusaha untuk merebut aset lokal perusahaan Jepang, dan Tokyo memberlakukan kontrol ekspor.

Otoritas perdagangan Korea Selatan dan Jepang diperkirakan akan bertemu pada awal minggu ini untuk membahas masalah ini. Pada hari Sabtu, menteri luar negeri kedua negara sepakat untuk menyelenggarakan pertemuan puncak.

 Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe direncanakan untuk bertemu di sela-sela pertemuan trilateral dengan Tiongkok.

Moon dan Abe belum melakukan pembicaraan formal selama lebih dari setahun. Namun, mereka melakukan obrolan selama 11 menit di sebuah konferensi internasional di Thailand awal bulan ini.

Seorang pejabat senior Gedung Biru mengaku sangat kecewa dengan laporan surat kabar Asahi Jepang.

 “Tokyo tidak kebobolan apa pun dan Korea Selatan hanya menyerah pada tekanan AS yang sangat kuat,” tulis Asahi yang mengutip Abe.

“Saya tidak bisa tidak mempertanyakan apakah itu adalah sesuatu yang akan dikatakan oleh pemimpin pemerintah Jepang dengan hati nurani,” kata pejabat itu pada Reuters. (fay)

Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.