Ketika Deno-Madur Masih Berlanjut

Alfred Tuname
Penulis Buku “le politique”
(2018)
Jelang Pilkada Manggarai 2020, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Deno Kamelus dan Viktor Madur dikabarkan masih satu paket. Paket “DM” (seperti Pilkada 2015) masih berlanjut. Kabar angin atau gosip pecah kongsi lenyap dengan sendirinya.

Partai PAN mengusung gerbong Paket DM. Begitu juga halnya Partai Nasdem. Persyaratan kursi untuk mengusung Paket DM sudah memenuhi syarat. Partai PAN ada 5 kursi; Partai Nasdem ada 5 kursi. Sepuluh kursi DPRD Manggarai dari kedua partai politik itu cukup untuk mengusung pasangan calon Deno Kamelus danViktor Madur. 

Dengan majunya Paket DM atau incumbent, langit politik Manggarai kian cerah. Sketsa dan imajinasi politik tak lagi samar-samar. Arsiran dan peta politik sudah bisa reka-reka. Setidaknya, kekuatan politik bergeser dari arsiran Pilkada 2015. Bisa jadi, kekuatan itu bertambah. Hitungannya, berkuasa selama lima tahun di Manggarai, cakar incumbent cukup kuat untuk menggaet simpati pemilih extra para simpatisan utama (:muatan dasar). 

Dalam politik, agak mustahil apabila incumbent tidak berjuang untuk terus menambah pundi-pundi suara. Imajinasi politik elektoral pasti selalu muncul di tiap aras kebijakan politik pembangunannya. Itu sudah menjadi “fatsun” politik praktis. 
Itu berarti, bargain position politik Paket DM cukup kuat. Di atas kertas, kans menuju kemenangan politik cukup besar. Tak ada hambatan yang berarti. Tingkat popularitasnya cukup menyakinkan. Popularitas itu bisa linear dengan kurva elektabilitasnya. 

Selama tidak ada “matahari kembar”, nyaris taka da volatilitas pada soal elektabilitas. Justru, tingkat elektabilitas incumbent semakin melambung. Sejarah politik Pilkada Manggarai cukup menjadi bukti linearitas popularitas terhadap elektabilitas. 

Tentu selalu ada titik-titik bocor dalam kapal politik yang dinahkodai incumbent. Pasangan calon Deno Kamelus dan Viktor Madur pasti merasakan itu. Titik bocor itu dibuat sendiri oleh “tikus-tikus” yang juga ada dalam lambung kapal pemerintahan selama lima tahun. Mereka adalah pihak-pihak yang tidak merasa mendapat profit dari kemenangan bersama politik Pilkada 2015. 

Atas soal “profit politik” itu, ada muncul fenomena “like rats fleeing a sinking ship” dalam tubuh paket incumbent. Mereka yang merasa tidak dapat profit politik mencoba berenang menjauh dan mencoba mencari pegangan baru. Apa yang mereka rasakan selama berada dalam lambung kapal pemerintah, diekspresikan dan dibocorkan. Lahirlah kritik dan umpatan-umpatan ad hominem. Media sosial biasanya menjadi “sedotan” untuk bernafas dalam kritikan dan umpatan itu. 

Hal itu pun pasti akan ada dalam konstetasi politik. Kemunculannya pun bisa diprediksi. Orang-orangnya pun bisa diduga. Meskipun itu berada dalam air keruh politik yang mana siapa saja bisa mencelupkan diri, aliran politik kebenaran akan menjernihkan semuanya. Aliran itu adalah gelombang pilihan rakyat. Yang terjadi, the rats are fleeing; the ship of truth is aways sailing. 

Semua itu cukup dibaca sebagai fenomena politik di musim Pilkada.  Semua politisi, khususnya incumbent, harus lebih paham dan sadar akan fenomena politik itu. Bahwa guncangan kapal tidak selalu muncul haluan, tetapi juga dari dalam lambung kapal itu sendiri. Semacam duri dalam daging politik. 
Sikap politik untuk menghadapi fenomena itu adalah biarkanlah “tikus-tikus” itu melarikan diri sebelum mereka bermetamorfosa menjadi mutan sengkuni. Dalam kisah Mahabharata, hancurnya kota Indraprastha dimulai dari muslihat Sengkuni. Pada konteks Pilkada, kamus politiknya adalah dalam kondisi menang atau kalah, sengkuni tetap menang. 

Untuk memenangkan pertarungan politik Pilkada, setiap politisi tentu tidak mengharapkan ada sengkuni. Minimal, tipikal sengkuni dibersihkan dari masing-masing kubu. Poinnya, berpolitik mesti etik; berkontestasi mesti santun. Pilkada memang harus demikian biar langsung langit tetap biru, tak ada merah api-tak ada kabut asap. 

Masyarakat Manggarai tentu mengharapkan langitnya cerah dan tetap biru. Sebagai pemimpin daerah, Deno Kamelus dan Viktor Madur tentu mengharapkan langit Manggarai tetap biru. Tak ada pertikaian, tak ada anarkisme. Sebagai incumbent, Paket DM harus menjadi yang pertama untuk menjaga kelangsungan Pilkada Manggarai 2020 agar tetap aman dan damai. 

Jika Pilkada aman dan damai, masyarakat mampu menggunakan hak politiknya secara baik. Jika Pilkada aman dan damai, masyarakat akan mengapresiasi pemerintah dan penyelenggara Pemilu.  Pemerintah benar adalah pemerintah yang mempertahankan dan menjamin hak-hak politik warga negara. 

Akhirnya, ketika Deno-Madur masih terus berlanjut sebagai pasangan calon dalam Pilkada 2020, tetaplah etik dan santun dalam berpolitik. Jadikan harapan publik sebagai asupan kekuatan; jadikan kritikan publik sebagai menu perjuangan. Lalu, jadikanlah lawan politik sebagai pesaing bukan musuh. Itu saja. Selamat berjuang, pak!

Post a Comment

0 Comments