PENGHULU DI MINANGKABAU

IMPIANNEWS.COM
Catatan, --- Sebagai seorang pemimpin, penghulu atau pangulu memang lebih tinggi kedudukannya dari sanak-kemenakan atau masyarakat secara umum, tetapi tidak terlalu tinggi. Dalam adat Minangkabau dikenal dengan ungkapan “ditinggikan sarantiang, didahulukan salangkah”. Dengan demikian, dalam kedudukannya sebagai pemimpin, ia tetap dekat dengan anggota kaum yang dipimpinnya. Pangulu dalam kedudukannya tersebut memiliki fungsi yang besar, baik di dalam kaum maupun di nagari. 

KEDUDUKAN PANGULU
Di dalam masyarakat, pangulu juga sama dengan laki – laki lain di Minangkabau. Ia menjadi anggota masyarakat , menjadi bapak buat anak – anaknya, menjadi sumando di rumah istrinya. Begitupun dalam nagarinya, ia menjadi niniak mamak sekaligus menjadi warga. 

Dalam kedudukannya sebagai pemimpin kaum, pangulu disebut juga dengan “ Datuak”. Gelar itu diterima sebagai warisan dari mamaknya dahulu. gelar tersebut akan di turunkan jika pangulu telah tua atau telah meninggal dunia. Lalu kemenakan pangulu tersebut menerima gelar itu sebagai penerusnya. Jadi pangulu juga berkedudukan sebagai penerus gelar pusaka dari suatu generasi ke generasi selanjutnya.

Selain gelar, pangulu juga akan menerima warisan berupa harta warisan dalam bentuk tanah atau disebut “harta pusaka tinggi”. Harta tersebut wajib dipelihara, tidak boleh dijual atau digadaikan. Harta tersebut hendaknya tetap utuh, jika memungkinkan hendaknya pangulu tersebut bisa menambahnya. Maka dengan begitu melalui harta tersebut pangulu bisa mensejahterakan kemenakan sekaumnya.

Jadi kedudukan pangulu adalah sebagai pemimpin kaum. Dalam kepemimpinannya itu, pangulu menyandang gelar yang disebut dengan “datuak”. Untuk menjaga gelar dan kepemimpinannya tersebut, pangulu menerima warisan harta pusaka.

Mengenai harta pusaka tersebut, dalam adat dijelaskan sebagai berikut:

Sawah ladang banda buatan
Sawah batumpak di nan data
Ladang babidang di nan lereng
Banda baliku turuik bukik 

Cancang latiah niniak mamak moyang
Tambilang basi rang tuo – tuo
Usah di jua digadaikan
Kalau sumbiang mintak di-titiak

Batah batimpo hilang bacari
Tarapuang bakaik tabanam basalami
Kurang ditukuak, ketek dipagadang
Senteng dibilai, singkek diuleh 

FUNGSI PANGULU 
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pangulu memiliki kedudukan yang terhormat, oleh karena itu ia memiliki fungsi. Fungsi tersebut ialah menjaga dan memimpin sanak – kemenakannya beserta masyarakat di nagari.

Dalam memimpin sanak-kemenakannya, pangulu mengikuti alur adat yang berlaku. pangulu tersebut berpedoman pada ketentuan adat yang telah ditetapkan oleh nenek moyang orang Minangkabau. Dalam melaksanakan fungsinya di nagari, ia bekerja sama dengan pangulu lainnya. Pelaksanaan tugas atau fungsinya berpedoman kepada garis adat di nagari tersebut.

Sebenarnya, fungsi dari pangulu itu telah tergambarkan dalam kewajibannya. Kewajiban itu di dalam adat disebut utang. Utang adalah sesuatu yang harus dibayar. Maka selama masa jabatannya, ia harus membayar utang tersebut. Utang pangulu yang dimaksud dalam adat Minangkabau yaitu , “manuruik alua nan luruih, manampuah jalan nan pasa, mamaliharo sanak kamanakan dan mamalihario harato pusako”.

Pertama, “manuruik alua nan luruih”. Dalam Minangkabau “alua nan luruih” adalah “alua adat”. alua adat adalah peraturan yang dibuat dengan kata mufakat oleh pangulu dalam suatu nagari. peraturan itu merupakan peraturan pelaksanaan dari aturan pokok. Gunanya adalah untuk mencapai tujuan. “alua nan luruih” mengandung makna kebenaran yang dapat diukur. Semua itu dijelaskan dalam ungkapan adat sebagai berikut :

Luruih manahan tiliak
Balabeh manahan cubo
Bungka manahan asah
Ameh manahan uji
Ilmu manahan surah
Hukum adia manahan bandiang
Bajalan tatap di nan pasa
Bakato tatap di nan bana

Alua tersebut terbagi dua yaitu alua adat dan alua pusako. Tadi telah di jelaskan tentang alua adat. sekarang apa yang dimaksud dengan alua pusako? Yaitu aturan yang turun-temurun dari Datuak Parpatih Nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan. Alua pusako tidak dapat berubah, sesuai dengan ungkapan adat “indak lakang karano paneh, indak lapuak karano hujan”. Contohnya adalah “salah batimbang, mati bakubua”.

Salah cotok malantiangkan
Salah makan maluakan
Salah ambiak mangambalikan
Salah ka tuhan minta tobat
Salah ka manusia minta maaf
Sasek suruik, talangkah kambali

Jadi selain menurut alua adat “ alua nan luruih” tersebut juga di dasarkan “alua pusako”. Menurut adat dijelaskan “kato dahulu batapati, kato kudian kato bacari”.

Kedua, “manampuah jalan nan pasa”. Dalam adat dijelaskan “baadat, balimbago, bacupak, bagantang”. Baadat artinya memakai dan mematuhi aturan adat yang berlaku. balimbago artinya memiliki pertimbangan berdasarkan pengetahuan dan akal. Bacupak dan bagantang artinya berukuran dan bertakaran. Maksudnya segala tindakan harus didasarkan pada ukuran tertentu atau takaran tertentu.

Ketiga, “mamaliharo sanak kamanakan”. Sebagai pemimpin ia selalu memperhatikan sanak kemenakannya. Memelihara dalam segala tindakan. Tanggungjawab tersebut seperti yang dijelaskan dalam adat Minangkabau sebagai berikut :

Hanyuik bapinteh, hilang bacari
Tarapuang bakaik, tabanan basalami
Siang dicaliak –caliak, malam didanga – danga
Lupo maingek-an, takalok manjagoan
Senteng babilai, kurang batukuak
Panjang bakarek, singkek bauleh
Kamanakan disambah batin, mamak disambah lahia

Keempat, “mamaliharo harato pusako”. Harta pusaka merupakan harta milik kaum dalam suatu pasukuan. Harta tersebut merupakan modal utama untuk kesejahteraan sanak – kemenakan. Oleh karena itu pangulu harus menjaganya. Harta tersebut juga tidak boleh habis dan tidak boleh dijual atau digadaikan. Semua itu telah dijelaskan dalam ungkapan adat berikut :

Jua nan indak dimakan bali
Sando nan indak dimakan gadai
Gadai nan indak dimakan pagang
Amanah jan hilang, suku jan baranjak
Bangso jan putuih, harato jan tajua jo tagadai
rusak adat karanonyo

Penggunaan harta pusaka diatur pangulu. Tujuannya agar dapat mensejahterakan sanak- kemenakannya, untuk memelihara adat dan menutup malu di dalam kaumnya. Dalam adat harta pusaka hanya boleh digadaikan oleh beberapa hal, seperti yang dijelaskan dalam kata pusaka berikut:

kok tasasak ikan ka ampang
tasasak kijang karimbo
indak dapek batenggang lai
tak kayu janjang dikapiang
tak ameh bungka diasah
tak aia talang dipancuang
guno harato pandindiang malu


Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.