Rudal Canggih AS Ini Bisa Lenyapkan Militer Korut Tanpa Membunuh


IMPIANNEWS.COM (WASHINGTON).

 Seorang pakar militer memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) dapat membalas ancaman musuh, termasuk Korea Utara (Korut), dengan menggunakan terobosan rudalnya. Senjata terobosan ini diklaim mampu "memusnahkan" kemampuan militer Pyongyang tanpa menyebabkan kematian.

Senjata tersebut bernama Counter-Electronics High Power Microwave Advanced Missile Project (CHAMP) dan terpasang pada rudal jelajah yang dibawa oleh pesawat pengebom B-52.

Senjata microwave itu dilaporkan memiliki jangkauan 700 mil, yang berarti dapat terbang ke negara "nakal", pada ketinggian rendah, dan memancarkan energi gelombang mikro yang memiliki kemampuan untuk menonaktifkan sistem elektronik musuh.

"Ini benar-benar merupakan terobosan pada level senjata nuklir dalam hal apa yang dapat dilakukannya. Korea Utara dapat sepenuhnya dihancurkan dalam hal militernya tanpa membunuh siapa pun," kata penulis dan pakar militer Ronald Kessler kepada OANN.

"Itu hanya akan menetralisir lokasi uji coba nuklir, pusat komando, pesawat, itu akan menghancurkan sistem radar yang mungkin mendeteksi rudal," ujarnya, yang dilansir Express.co.uk, Kamis (30/5/2019).

"Jadi pihak lawan bahkan tidak tahu bahwa rudal ini datang dan tidak bisa mengusirnya."

CHAMP memiliki kemampuan untuk memanggang peralatan elektronik secara permanen dengan menggunakan meriam pulsa elektromagnetik untuk menembakkan seberkas energi yang mampu menyebabkan lonjakan tegangan pada peralatan elektronik.

Kessler menjelaskan rudal itu diam-diam dibuat oleh Boeing's Phantom Works for the US Air Force Research Laboratory.

"Untuk itu dapat digunakan dengan cara terselubung dan untuk benar-benar menghapus seluruh militer yang benar-benar unik. Tentu saja, pihak lain akan mencoba melindungi peralatan mereka," ujarnya.

“Mereka akan mencoba untuk memiliki pusat kendali dan pusat komando di bawah tanah. Tetapi meski begitu rudal ini dapat menghapus isolasi di bawah tanah," paparnya.

Komentar itu muncul setelah Korea Utara melanjutkan uji coba rudal jarak pendeknya. Peluncuran rudal Pyongyang bulan ini adalah yang pertama sejak 2017 dan yang pertama sejak Presiden Donald Trump bertemu pemimpin Korut Kim Jong-un.

"Korea Utara menembakkan beberapa senjata kecil, yang mengganggu beberapa orang saya, dan yang lain, tetapi bukan saya," kata Trump beberapa hari lalu.

Namun, komentarnya bertentangan dengan penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton. Bolton mengatakan uji senjata Korea Utara pada bulan ini melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

"Resolusi Dewan Keamanan PBB melarang peluncuran rudal balistik dan tidak ada keraguan bahwa Korea Utara telah melanggar resolusi itu," katanya.