Balimau Itu Baik, Bukan Untuk Menambah Dosa


IMPIANNEWS.COM
Bulan Ramadhan adalah bulan mulia bagi umat muslim se dunia. Nabi muhammad SAW dalam sabdanya menyebutkan barang siapa yang bangga dengan datangnya bulan Ramadhan, diampuni dosanya yang telah berlalu. Dan, barang siapa yang mendirikan Ramadhan penuh iman dan perhitungan diampuni dosanya yang telah berlalu.

Demikianlah Rasulullah menggambarkan mulianya bulan Ramadhan ini. Bagi muslim beriman persiapan menyambut bulan Ramadhan sudah dimulai dari bulan syaban dengan membiasakan diri memperbanyak amal shaleh. Itulah gambaran persiapan menurut syariat, yakni membersihkan diri dan mensucikan hati.

Di zaman dahulu di daerah Minangkabau membersihkan diri dan mensucikan bathin ini dinamai "Balimau". Balimau adalah kata kerja dengan kata dasar limau (jeruk-red), bermakna membersihkan diri debgan limau, karena dikala itu belum ada sabun mandi. 

Nenek moyang minangkabau menyambut ramadhan dengan mandi balimau di topian (batang air - sungai) bersama sama dengan posisi terpisah antara kaum lelaki dengan perempuan. Setelah mandi balimau, mereka makan Bajamba bersama. Melakukan doa bersama, saling bertimbang maaf. Sehingga terwujud suci badan dan suci bathin. 

Bahkan ada yang saling mengunjungi guna saling bersilaturrahmi. Tradisi balimau ini di sebagian daerah masih bertahan, sayang dengan kemajuan zaman, makna baiknya semakin memudar.

Ironis memang, sebagian insan ada yang menyambut bulan Ramadhan dengan uforia yang identik dengan kemubaziran dan lagho (senda gurau - bermain - tidak mendekatkan). Oknum memaknai balimau lebih dominan ke arah di dunia tampa memikirkan ukhrawi.

Zaman dahulu, menurut pemerhati tradisi Balimau, Syafrizal

"Balimau identik dengan air (topian) mandi membersihkan diri di sungai (mandi tobat), karena zaman dahulu banyak berada di pinggir sungai. Sayang ada sebagian oknum ada yang menyalahkan fungsikan makna Balimau, khususnya bagi kaum yang tidak muhrim. Balimau dijadikan uforia, sementara kita diperintahkan bersuci diri menghadapi bulan suci islam,"katanya.

Sebagaimana yang sering kami pantau, tradisi balimau di Batang Kampar. Di daerah ini warga setempat masih kental tradisi balimau. Usai mandi balimau, warga makan bersama dan ditutup dengan doa, makan bersama serta saling memaafkan. Ini harus dilestarikan tampa merusak makna hakiki.

Sayang, ada oknum mengaplikasikasikan Balimau, salah dalam aturan syariat islam

"Ulah baekong - ekong bujang jo gadih bukan muhrim, balimau jadi salah makna,"terang singkat Syafrizal.

Terkait tradisi balimau, ketua mui kota payakumbuh pada Jumat (03/05/2019) mengajak muslim Payakumbuh tidak melakukan hal - hal yang tidak sesuai syariat islam.

Balimau bagi urang awak (Minangkabau) menjadi adat. Tapi, adat balimau tidak ada dalam syarak. Sementara Minangkabau menganut adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangatokan adat mamakai. Bulan Ramadhan adalah bulan mulia, sehingga mesti disambut penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Ramadhan disambut dengan silaturahim. Jadi sambutlah Ramadhan penuh kesucian lahir dan bathin. Bukan dengan hal - hal negatif yang dilarang syarak, sehingga makna balimau menjadi perbuatan dosa,"terang Buya Mismardi

Dipandang secara duniawi dan ukhrawi, Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133-134).

"Inikan jelas, ada dua kesucian yang harus kita capai. Jangan kotori diri, jangan lagi tambah dosa. Balimau lai, puaso indak, qiyamu Ramadhan indak pulo. Iko nan parah bana. Karena perbuatan kita akan kita pertanggungjawabkan nafsi-nafsi,"terang Ketua MUI Kota Payakumbuh, H. Mismardi.

Himbauan untuk tidak mengotori makna balimau juga diterangkan Ketua MUI Kabupaten Limapuluh Kota, H. Safrijon.

"Dibawakan dengan zaman sekarang, balimau bisa dilakukan dengan bersilaturahim. Malah sudah baik diterapkan, yakni dengan berkumpul bersama untuk membersihkan pandam pekuburan jelang Ramadhan. Semua unsur berkumpul untuk bersilaturahim. Makan bersama, berdoa dan bermaafan sembari menggalang dana untuk kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.  Inikan lebih baik, disamping secara personil dan keluarga kita juga bisa lakukan,"kata Saftijon.

"Yang salah adalah, salah aplikasi, tidak sesuai syariat islam. Sebagian oknum mencampurkan ajaran agama lain dengan ajaran islam mencampurkan budaya asing dengan budaya minang yang khas.
Balimau diisi dengan hura - hura menghamburkan harta ke arah yang tidak diredhoi, mandi bersama dengan bukan muhrim, mengunjungi lokasi dilarang oleh bukan muhrim. Terkesan membuang - buang waktu secara percuma. Apalagi, ulah balimau lupa shalat 5 (lima) waktu. Ini yang salah dan hanya akan menambah dosa. Padahal, nenek moyang minangkabau memaknai balimau bukan demikian,"terangnya.

"Kita harus memaknai balimau dengan saling memaafkan antara anak dan orangtua, suami istri, karib kerabat, handai toulan, rekan sejawat, rekan kerja. Ukhuwah islamiyah semakin kuat. Terkait mandi mensucikan badan, kan bisa di rumah saja, tak harus ke pantai Padang. Kalau ke pantai Padang untuk liburan leluarga, boleh saja tapi itu bukan untuk balimau,"sambungnya.

"Jangan sampai dengan balimau kita lupa saling bertimbang maaf. Mari kita semakin lebih baik dalam menjalankan syariat islam kedepan, karena kita umat akhir zaman. Kita orangtua harus membeberkan makna yang lurus terkait balimau kepada generasi muda, agar tidak salah langkah,"imbau Safrijon.(ul)

Ironis memang, sebagian insan ada yang menyambut bulan Ramadhan dengan uforia yang identik dengan kemubaziran dan lagho (senda gurau - bermain - tidak mendekatkan). Oknum memaknai balimau lebih dominan ke arah di dunia tampa memikirkan ukhrawi.

[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.