Peristiwa Situjuah adalah Mata Rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 di Sumatera Tengah

IMPIANNEWS.COM
Limapuluh Kota, --- "Kenang Peristiwa Situjuah : Besar, Penting dan Sakral !"

Hal itu, disampaikan mantan Panglima TNI Jendral Moeldoko, saat mewakili Presiden RI Ir. Haji Joko Widodo menjadi inspektur upacara peringatan Peristiwa Situjuah ke-70 , Selasa (15/1/2019), bersama Wakil Menteri ESDM kakanda Haji Arcandra Tahar dan Komisaris Utama BRI Haji Andrinof Chaniago (Mantan Menteri Bappenas), di hadapan lebih dari 5.000 orang yang memenuhi kampung Pahlawan itu.

Sebagai anak nagari, kami terharu, bangga, bahagia, setelah sepekan nan lalu, mendapat kabar dari sederet sahabat dan senior, jika surat permohonan menjadi Irup Peristiwa Situjuah yang dua kali dikirim ayahanda Walinagari DV Dt Tan Marajo, sejak November-Desember sudah di-disposisi Bapak Presiden. Bapak Jokowi, merespons surat Wali Nagari (Kepala Desa).

Sejatinya, Bapak Presiden akan hadir dalam peringatan peristiwa perjuangan paling heroik di Ranah Minang ini dalam mempertahankan kedaulatan NKRI. Sebanyak 69 pejuang, terdiri dari perwira dan prajurit TNI, termasuk rakyat, tewas diterjang timah panas penjajah pada subuh buta 15 Januari 1949 di Lurah Kincia.

Namun begitu, kehadiran Pak Mul, kakanda baik hati Arcandra dan ayahanda Andrinof yang diutus Bapak Presiden, menjadi bukti kuat, jika Pemerintah Pusat sangat memperhatikan kalau api perjuangan pahlawan asal Ranah Minang tidak pernah padam.

Peringatan Peristiwa Situjuah, sudah digelar masyarakat bersama TNI dan Polri, sejak 15 Januari 1968. Sejumlah tokoh, seperti Wakil Presiden Muhammad Hatta, Dubes RI untuk Singapura Mayjen A Thalib dan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Ismet Yuzairi pernah memimpin upacara tersebut. Berpuluh tahun, baru dalam peringatan ke-70 Istana menurunkan tim untuk datang. Luar biasa.

Peristiwa Situjuah adalah mata rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 di Sumatera Tengah yang nilai-nilai perjuangannya diakui pemerintah melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara. Dan ditindaklanjuti Presiden Joko Widodo dengan menerbitkan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Bela Negara.

Kemarin, saya, ayahanda Wali Nagari Situjuah Batua, pak Bupati Irfendi Arbi dan pak Wabup Ferizal, sudah sampaikan kepada pak Moeldoko agar memperhatikan makam Lurah Kincia, serta makam makam para pejuang lainnya dalam rangkaian PDRI 1948-1949.

Alhamdulillah, beliau sepakat soal ini. Bahkan, saat kami menghantarkan hingga Bukittinggi, beliau meminta, agar Pemkab bergerak cepat. Bikin master plan, gramd desaign. Saya punya usul, Pemkab membentuk tim gabungan. Memugar kawasan Lurah Kincia menjadi kawasan wisata sejarah.

Termasuk di Banda Dalam dan Situjuah Gadang, Koto Kociak di Guguak, Koto Tinggi Gunuang Omeh dan Halaban. Sehingga, seluruh jejak sejarah PDRI hingga Bidar Alam, tak pernah lapuk. Namun jadi tempat study, kawasan tujuan wisata sejarah.

Terima kasih tak terhingga untuk pak Kapolda Sumbar Irjen Pol Fakhrizal, pak Danrem 032 Wirabraja Kolonel Inf Kunto Arief Wibowo, pak Kapolres Payakumbuh AKBP Endrastyawan Setyowibowo, Kapolres 50 Kota AKBP Haris Hadis, Dandim 0306/50 Kota Letkol Solikhin dan Danramil Luhak Kapten Haryadi serta Kapolsek Situjuah Iptu Karim.

Dukungan kehadiran juga diberikan pak Kapolres Tanah Datar AKBP Bayuaji, Kapolres Bukittinggi AKBP Arly Jamber Jumhana, Danyonif 131 BRS, Dandenzipur 02 Padang Mengatas, perwakilan TNI AU, TNI AL. Tri Matra TNI dan Polri benar benar kompak.

Hadir juga kemarin, Wako Payakumbuh Riza Falepi, Ketua TP PKK Sumbar Ny Nevi Irwan Prayitno, Bupati/Wako se-Sumbar, kakanda Firdaud HB, kakanda Masril Koto, serta yang paling teristimewa seluruh pejuang, pelaku sejarah, saksi sejarah, veteran dan keluarga para syuhada'.

Apresiasi nan sangat tinggi, untuk Panitia Peristiwa Situjuah Nagari Situjuah Batua, Panitia Kecamatan, dan Panitia Kabupaten, atas segala semangat kerja luar biasa. Terimakasih untuk persiapan nan dari hulu hingga hilir. Semoga jadi ladang amal.

Benar pesan kebangsaan pak Presiden Jokowi yang disampaikan pak Muldoko kemarin. "Orang Minang ikut menentukan arah perjalanan Bangsa. Negeri dan Bangsa imerindukan kembali lahirnya tokoh-tokoh Bangsa termasuk Tokoh Ulama dari Ranah Minang.

Akhir kata, mengutip puisi Chairil Anwar, "Kerja belum selesai. Belum apa apa," . Semangat berkorban, berjuang, ini tidak bisa dengan ucapan, namun harus ada tindakan. Aksi nyata !. (rel/ul)

Peristiwa Situjuah adalah mata rantai Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 di Sumatera Tengah yang nilai-nilai perjuangannya diakui pemerintah melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara. Dan ditindaklanjuti Presiden Joko Widodo dengan menerbitkan Inpres Nomor 7 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Bela Negara.

[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.