48 Tahun Payakumbuh, Dari Kota Batiah Menuju Kota Randang

IMPIANNEWS.COM
Hari ini (17 Desember 2018) tepat 48 tahun usia Kota Payakumbuh. Hal tersebut didasarkan kepada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 8/1970 tanggal 17 Desember 1970 yang menetapkan Kota Payakumbuh sebagai Kotamadya Payakumbuh. Disusul Radiogram Mendagri nomor SDP.9/6/181 menegaskan, hari peresmian Kota Payakumbuh dilaksanakan pada tanggal 17 Desember1970, dan saban tahun diperingati sebagai Hari Jadi Kota Payakumbuh. 

Usia ke-48 tahun adalah sebuah usia dengan tingkat kematangan yang sempurna jika dipersonifikasikan kepada usia manusia. Angka 48 kali ini pun punya makna spesial bagi saya dan pasangan saya, Sdr. Erwin Yunaz selaku Wakil Walikota Payakumbuh. Merujuk kepada apa yang disampaikan Sdr. Saiful Guci pada cilotehtanpasuara.com, dimana HUT ke-48 diartikannya dengan Al-Fath. Al Fath, adalah surat ke-48 dalam Al Qur'an yang berarti Kemenangan. 

Kenapa HUT ke-48 dengan makna Kemenangan menjadi spesial bagi kami, karena ujung dari visi yang kami canangkan diawal kepemimpinan kami adalah Menuju Payakumbuh Menang. Lengkapnya visi kami berbunyi "Payakumbuh Maju, Sejahtera dan Bermartabat, Dengan Semangat Kebersamaan, Menuju Payakumbuh Menang”. Hal ini sama dengan makna kemenangan dalam surat ke-48 tadi. 

Kalimat “Menuju Payakumbuh Menang” dalam visi tersebut kami berikan sebagai Kesiapan Payakumbuh untuk menghadapi globalisasi, berbasis kekuatan lokal, untuk menjadi yang terbaik dan terdepan dengan mempertahankan pencapaian sebelumnya, serta menjadi contoh bagi daerah lain untuk menciptakan perubahan bagi kenyamanan dan kesejahteraan warga kota Payakumbuh.

Untuk mewujudkan itu, tentu dibutuhkan kerja keras. Untuk bisa maju dan menang, Payakumbuh harus mampu membangun berbagai produk lokal yang memiliki daya saing global. Jika tidak bisa banyak, paling tidak ada satu produk lokal Payakumbuh yang bisa memiliki daya saing global. 

Challege (baca: tantangan) saya adalah bagaimana kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat kota terus tumbuh dan berkelanjutan melalui produk berdayakan saing global tadi. Jika tidak mampu membangun dan mewujudkannya, maka mimpi menjadi pemenang hanya angan semata. 

Bahasa mimpi ini kami sampaikan berangkat kepada sebuah fakta bahwa daya ungkit APBD dan APBN dalam membangun sebuah daerah tidak akan melebihi rata-rata pembangunan Indonesia. Pertanyaannya, apakah kita mampu berupaya membangun lebih cepat serta percepatan kesejahteraan yang jauh di atas rata-rata Indonesia sekarang? Tentu saja bisa, namun bukan semata bekerja menghabiskan uang APBN dan APBD. Butuh usaha ekstra dalam penciptaan kemakmuran. Salah satu yang cepat dalam penciptaan kemakmuran adalah pariwisata, namun Payakumbuh yang kecil mungkin tidak cukup untuk itu. Cara lain memperbanyak industri yang berorientasi pasar di luar Payakumbuh dan bahkan kalau perlu bisa diekspor. Pilihan inilah yang ingin kami jalankan. Tentu pelaku usahanya bukan kami tapi pengusaha. Kami hanya pendukung dan penyedia anggaran yg mungkin mendukung cita-cita ini tercapai. Pada akhirnya pengusahalah yg menjadi tumpuan kita, atau dengan kata lain para pengusahalah yg menjadi pahlawan-pahlawan kita. Mereka yang menjadi lokomotif pertumbuhan ke depan. Tidak salah kami terus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pengusaha yang ada agar bisa bersama-sama kita besar dan mampu menciptakan kemakmuran baru. Tentu prinsip bisnis yang beretika, prinsip efisiensi dan berdaya saing kita pegang teguh agar tidak ada rente ekonomi yang mengganggu.

Maka mulailah kami menelaah produk lokal apa yang dimiliki Payakumbuh  yang memiliki daya saing global serta daya ungkit yang besar untuk menunjang perekonomian kota. Jujur saja, Payakumbuh hanyalah kota kecil dengan sumber daya alam yang terbatas. Payakumbuh tidak memiliki sumber tambang ataupun sumber energi yang menjadi surga PAD (Pendapatan Asli Daerah). Payakumbuh juga tidak banyak memiliki potensi wisata alam, sehingga sulit menjadikan pariwisata sebagai produk unggulan. Tapi Payakumbuh sejak lama dikenal sebagai Kota Batiah. Kota yang memiliki banyak Industri makanan ringan yang justru menjadi Brand bagi kota dan kabupaten lain. Sebut saja produk Sanjai, Galamai, Karupuak Lado, Bareh Randang,  Batiah, dan lain-lain yang sejak lama menjadi oleh-oleh khas Ranah Minang. Sebagian besar produk itu diproduksi di Payakumbuh dan atau Luak Limopuluah. Akan tetapi kenyataannya, bukan Payakumbuh yang mendapat nama dari produk itu,  Akan tetapi daerah lain ataupun perusahaan swasta yang menjadi reseller nya. Meski demikian Tidakkah mengapa, sebab, hasil produksi puluhan IKM Payakumbuh yang bergerak disektor itu tetap dinikmati warga Payakumbuh. 

Meski bisa dikatakan iconic, Produksi makanan khas tersebut kami lihat belum memenuhi syarat untuk bisa menjadi produk berdaya saing global dan daya ungkit kuat untuk mendatangkan banyak PAD bagi Kota Payakumbuh. Disamping minat pasar Internasional yang belum terlihat, standarisasi produk juga menjadi PR yang harus diselesaikan. Produk harus bisa memenuhi selera pasar global yang cenderung perfeksionis. Khususnya kualitas mutu dan juga kehigienisan. 

Maka, ketika ada survey CNN yang mengatakan Rendang sebagai makanan terenak didunia pada dua tahun terakhir, ditambah kenyataan bahwa Payakumbuh satu-satunya daerah yang memiliki Kampung Rendang dengan jumlah IKM Rendang tak kurang dari 30-an IKM, maka kami menilai, inilah produk unggulan itu. Inilah produk berdaya saing global Dan berdaya ungkit kuat untuk mendongkrak perekonomian kota. 

Pengakuan CNN menjadi dasar utama menjadikan produk ini layak dikedepankan oleh Payakumbuh.. Apalagi pangsa pasar global amat menjanjikan. Sebut saja, kebutuhan buat Jamaah Haji dan Umrah yang jumlahnya puluhan juta setiap tahunnya. Belum lagi pasar potensial di negara-negara Timur Tengah yang memiliki kultur yang sama dengan Indonesia bahkan dengan tingkat konsumsi daging yang luar biasa.  Semua itu menjadi peluang besar untuk dimasuki produk rendang Payakumbuh. 

Menyikapi hal itu, saat ini kami tengah fokus mengemas rendang ( beserta olahannya sebagai produk lokal Payakumbuh yang bersaing di pasar global. Meski tidak hanya ada di Payakumbuh, produk Rendang Payakumbuh termasuk yang terdepan di Provinsi Sumatera Barat. 

Pernyataan itu kami dasarkan kepada realitas lapangan. Sebagaimana data yang kami ungkap diatas, dimana tercatat pada tahun 2018 ini terdapat 37 Industri Kecil dan Menengah (IKM) rendang di Kota Payakumbuh dan Payakumbuh juga telah lama memiliki Kampung Rendang. Dan tahun depan (baca:2019), akan mulai beroperasi sentra Rendang berupa pabrik produksi randang dilengkapi teknologi Retouch dari Jerman. Sentra itu juga akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti dapur edukasi pembuatan randang, display dengan puluhan varian randang, dan juga kafetaria. Jadi disamping menjadi sarana produksi, sentra rendang juga menjadi sarana edukasi, wisata sejarah dan juga wisata kuliner bagi para pengunjungnya. Nantinya, Sentra rendang Kota Payakumbuh akan memproduksi rendang perhari yaitu 3.200 kg/hari dan per dapur yaitu 355,56 kg/dapur. 

Maka, saat ini kami telah menjadikan rendang sebagai brand/ icon baru Kota Payakumbuh. Payakumbuh City of Randang, demikian kami menyebutnya. Dimata kami, kemajuan Kota maupun masyarakat Payakumbuh akan jauh lebih cepat dengan merealisasikan Payakumbuh City Of Randang. Konsep Payakumbuh City Of Randang ini tidak terlepas dari sektor ekonomi, budaya lokal, sumber daya alam, pertanian, peternakan, sosial masyarakat dan kesejahteraan. 

Bahkan, ada salah seorang profesor dari salah satu universitas negeri ternama di Kota Padang mengusulkan tagline yang lebih ekstrem. Usulnya, Payakumbuh The Capital City of Randang. Kami hanya tersenyum, sembari bertekat,  semoga julukan itu nantinya betul betul disematkan oleh orang kepada Kota Payakumbuh ketika Payakumbuh City of Randang ini sukses dijalankan. Semoga saja. Amin. 

Akhirnya, atas nama Walikota Payakumbuh kami menyampaikan Dirgahayu Ke-48 buat Kota dan Warga Payakumbuh. Mari terus berbenah dan berkarya, memberikan kemampuan terbaik dibidang kita masing-masing. Dengan itu kita yakin, Payakumbuh Menang bukanlah sebuah hayalan belaka. (ul)

(Relis Walikota Payakumbuh Riza Falepi)

Hari ini (17 Desember 2018) tepat 48 tahun usia Kota Payakumbuh. Hal tersebut didasarkan kepada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 8/1970 tanggal 17 Desember 1970 yang menetapkan Kota Payakumbuh sebagai Kotamadya Payakumbuh. Disusul Radiogram Mendagri nomor SDP.9/6/181 menegaskan, hari peresmian Kota Payakumbuh dilaksanakan pada tanggal 17 Desember1970, dan saban tahun diperingati sebagai Hari Jadi Kota Payakumbuh.

[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.