BAK ABU DIATEH TUNGUA “ SUMANDO”

H. SAIFUL GUCI, SIP
IMPIANNEWS.COM
CILOTEH TANPA SUARA- Kemarin saat didaulat oleh LKAAM Limapuluh Kota menyampaikan materi “Sejarah Barih Balabeh Luak Limo Puluah “ untuk pembekalan adat bagi Kepala sekolah SLTA, SLTP, MAN, MTs dan KUPT se Kabupaten Limapuluh Kota dalam sesi pertanyaan salah seorang peserta. “ pak Saiful , apa yang dimaksud sumando (menantu) yang disebutkan bak abu diateh tunggua, diambuih ditabang angin (seperti abu diatas tunggul, dihembus angin terbang) ). Dimana dapat kita lihat apabila istri meninggal nasib laki-laki banyak yang terkatung-katung dimana dia akan menetap sementara apabila suami yang meninggal tidak ada masalah bahkan sang istri dapat mencari suami baru “ tanya salah seorang peserta.
******
Sumando, dalam bahasa minang artinya menantu. Kata Sumando berasal dari bahasa malayu kuno (su= badan, mando dari kata mandah= menumpang sementara). Dalam struktur adat Minang, kedudukan suami sebagai orang datang (Urang Sumando) sangat lemah. Sedangkan kedudukan anak-lelaki, secara fisik tidak punya tempat di rumah ibunya. Bila terjadi sesuatu di rumah tangganya sendiri, maka ia tidak lagi memiliki tempat tinggal.
Istilah ” bak abu diateh tunggua” ini, umum diketahui oleh setiap  orang Minangkabau yang sudah dewasa, yang diibaratkan perlakuan yang dialami seorang suami  dirumah istrinya yang lazim disebut Rang Sumando (manantu ).
Lelaki minang ibarat bak abu diateh tunggua, dapat diterbangkan jika tidak dinginkan dan ia akan terbang entah kemana. ia tidak memperoleh harta apapun, semua harta dimiliki saudara perempuan  dia tidak pernah memimpin, ia hanya sebagai lambang, karena pemerintahan ditangan bundo kanduang dan setinggi jabatan seorang lelaki minang hanya sebagai penghulu, yaitu sebagai penyelesaian masalah, dan apa yang didapat setelah ia dapat menyelesaikan masalah kaumnya?
kita akan lihat riwayat lelaki minang. semua lelaki minang jaman dulu memiliki jalan hidup yang sama. setelah ia melepaskan masa balita yaitu saat ia berumur kurang lebih 7 tahun, ia akan “keluar” dari rumah untuk belajar disurau  yang pada jaman dulu diminang kabau adalah lembaga pendidikan, disurau anak laki-laki minang akan dilatih mengaji, silat, alua pasambahan dan lain-lainnya hingga ia cukup bertanggung jawab dan siap dilepas ke tengah masyarakat, dan berkat  “karantina” tersebut lelaki minang memiliki jiwa yang kuat, kemudian dia tidak akan “dikembalikan kerumah”, ia akan dinikahkan dengan orang yang telah meminangnya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa diminang perempuan meminang laki-laki. setelah menikah ia akan bekerja untuk perempuannya dan kalau saja mereka bercerai apakah siperempuan pulang ke rumah orang tuanya?. TIDAK !; jadi si laki-lakilah yang pulang kerumah orang tuanya?. sama sekali tidak;
laki-laki akan keluar dari rumah dan akan kembali kesurau hingga ajalnya menjemput, jika ia tak menikah lagi. TETAPI kenapa ia tidak kembali ke rumah orangtuanya saja?. diminang, lelaki dewasa tidak diijinkan tinggal dirumah karena ia tak memiliki hak terhadap rumah orang tuanya, sebuah aib jika ia tinggal dirumah orang tuanya. karena rumah itu milik saudara perempuan. sedangkan tinggal serumah dengan seorang saudara perempuan dan urang sumando amat memalukan bagi laki-laki minang masa itu....bukankah itu menyedihkan?
Sebagaimana kita ketahui bahwa lahirnya sebuah petuah, dikarenakan adanya suatu masalah yang hendak diselesaikan. Bagaimana Ninik Mamak menyelesaikan suatu masalah, tentunya berdasarkan kriteria tertentu, yaitu : Pertama, nilai manfaatnya, Kedua, ukuran berat dan ringannya, Ketiga, kemudahan dalam menyelesaikan masalah itu.
Dengan mengumpamakan  “ Bak abu dan debu” itu, memang lebih tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi dalam penyelesaian suatu masalah. Pengertian manfaat tentunya terkait dengan kedudukan dan peran yang disandang seorang lelaki pada umumnya, terutama tentang Rang Sumando pada khususnya.
Peran lelaki Minang sudah jelas yaitu sebagai seorang bapak – sebagai seorang Mamak – dan sebagai Urang Sumando. Dalam kedudukan seperti ini, maka Ia akan menjalankan perannya masing-masing – kapan saatnya ia sebagai seorang Kepala Keluarga, – kapan saatnya sebagai Pemimpin Kaum dan Kapan pula sebagai seorang yang Tamu di keluarga besar Isterinya. Jika seorang laki-laki bisa menempati posisi yang diamanahkan oleh Agama – kemudian juga memenuhi tanggung jawab dalam Adat,  maka pastilah semua laki-laki itu tidak mengalami nasib seperti itu. Jadi sebenarnya, tidak bisa dikatakan bahwa semua laki-laki Minangkabau “ bak abu diateh tunggua”.
Sebagai seorang sumando yang hidup menumpang dalam rumah gadang di kaum istrinya, harus tahu diri, contohnya saja posisi sumando duduk ditengah rumah gadang adalah di depan pintu kamar yang melihat ke luar rumah dimana dapat kearah papan sabalik anjuang dan paso paso atau dapat melihat di atas jendela dengan Motif ukiran TANTADU MANYASOK BUNGO JO BUANG NIBUANG (ulat menghisap bunga dengan buah nibung) yang mempunyai filosofi bahwa sumando hanya seorang laki-laki pergi mandah (menumpang ). Dirumah istri dia hanya berperan sebagai benih dalam memperbanyak keluarga di kaum istri.

Tatandu samo manyasok 
Bungo satangkai kambang nyarak 
Dibuek ukia langkok-langkok 
Susun barangkai tatandu bararak 
Buah nibuang sato bararak 
Bararak sarato jo putiaknyo 
Indah ukia jo tatahnyo 
Ragam sarato indahnyo  
Papan sabalik kagunonyo 
Pita jo pilin kabatehnyo 
Ukia sabalik nan tampak nyato 
Adat bajalin di dalamnyo

Begitu juga seorang sumando harus paham fungsinya sebagai menambah ekonomi di rumah istrinya. Situasi macam ini secara logis mendorong pria Minang untuk berusaha menjadi orang baik agar disengani oleh dunsanaknya sendiri, maupun oleh keluarga pihak istrinya. Sebagai sorang sumando juga sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya harus rajin dalam memenuhi ekonomi rumah tangga. Pada saat pagi hari harus berangkat dari rumah istri untuk mencari nafkah, sore harinya baru pulang dengan membawa hasil supaya “dapua lai barasok” menandakan ada beras yang akan dimasak. Hal ini diibaratkan ITIAK PULANG PATANG (itik yang pulang di sore hari). Itiak pada pagi hari mencari makan di sawah, dan pulangnya ke kandang beriringan pada sore hari  sambil membawa telur atau memberikan tambahan ekonomi bagi yang punya rumah.Itiak apabila terkena lumpur dan bertelur,tidak nampak perubahan yang signifikan terjadi pada tubuhnya.Tubuhnya tetap bersih dan seimbang serta terkesan lihai dalam bergerak.Sehingga hewan Itiak  menggambarkan karakteristik budaya Minang yang tidak berubah dalam kondisi apapun.

ITIAK PULANG PATANG menjadi motif ukiran di rumah gadang yang posisinya ditempatkan dibagian yang datar atau hiasan di pinggir pintu rumah. Motif Itiak pulang patang menggambarkan barisan itiak yang berjalan melalui pematang sawah menuju kandangnya, motif ini melambangkan kesepakatan, dan persatuan yang kokoh dalam Adat di alam Minangkabau

Dilahia itiak nan disabuik
Di bathin adat jo limbago
Kieh ibarat caro Minang
Adat nan samo kito pakai

Elok barih itiak pulang patang
Arak baririang samo saraso
Indak saikua nan manyalo
Saiyo sakato bajalan pulang
Tuah di ateh nan sakato
Cilako kato basilang

Sebagai seorang lelaki di Minangkabau dia menjadi SUMANDO di kaum istrinya, dan menjadi MAMAK di persukuannya. Dia harus teguh dalam menjalankan prinsip-prinsip hidup yang telah dihayati dan dijalankan sejak dahulu. Barisan itiak yang teratur dan terarah mencerminkan kekonsekuensian dan keteguhan pendirian serta prinsip hidup orang Minang dalam mengisi kehidupannya baik dengan agama maupun dengan ilmu pengetahuan.

Seorang lelaki minang pabila dia duduk dirumah orangtuanya adalah duduk dipinggir jendela bersandar bandue jendela, supaya dapat melihat ke atas pintu kamar dimana diatasnya terpampang ukiran KALUAK PAKU KACANG BALIAMBIANG yang mempunyai filosofi “ anak dipangku kamanakan dibimbiang “

Kaluak paku kaca balimbiang 
Tampuruang lenggang lenggokan 
Bawo manurun ka Saruaso 
Tanam siriah jo gagangnyo 
Anak dipangku kamanakan di bimbiang 
Urang kampuang dipatenggangkan 
Tenggang nagari jan binaso 
Tenggang sarato jo adatnyo 

Anak bapangku kamanakan babimbiang 
Samo dibawo kaduonyo 
Arif manganduang bijak bicaro 
Kini basuo dalam ukia 
Latak di rasuak paran dalam 
Disalasa balai-balai 
Baitu tutua rang dahulu
Saat ini yang sudah banyak perubahan, ketika munculnya para intelektual Minang yang sudah mendalami budaya luar. Kedudukan Rang Sumando dikeluarga sudah tidak perlu diperbicangkan lagi. Pasangan keluarga minangkabau saat ini – sudah berubah – karena adanya kuatnya peranan para suami atau Bapak / Ayah di keluarga inti.
Kedudukannya lelaki Minang sebagai Rang Sumando (menantu), maka budaya Minangkabau membedakan dalam 4 golongan, yaitu Rang Sumando Kacang Miang , Rang Sumando Lapiak Buruak, Rang Sumando Langau Hijau dan Rang Sumando Niniak Mamak.
Istilah ini diberikan kepada masing-masing sifat yang ada pada diri laki-laki ini.
RANG SUMANDO KACANG MIANG, memiliki sifat yang suka  iri hati dan dengki. Prilaku dan kebiasaannya suka menghasut dan menfitnah. Istilah sekarang popular dengan Provokator. Dikatakan “ kacang miang ‘, karena sesuatu yang ditebarkannya membuat pihak lain mengalami gangguan.  Ulah dan prilakunya ialah , bahwa dia tidak suka kalau ada orang lain melebihi kondisi rumah tangganya. Ia  sering menciptakan persaingan antara para Rang Sumando dalam satu kaum itu. Yang sangat membahayakan tatkala sifatnya yang demikian itu menimbulkan keresahan didalam kehidupan berkeluarga dan berkaum.
Pada masa dahulu, kehidupan pasangan rumah tangga demikian – Jika terdapat di dalam Rumah Gadang akan menimbulkan suasana yang tidak mengenakkan ini dan tidak nyaman.  Prilaku Urang Sumando yang demikian itu tidak memberi manfaat bagi keluarga besar isterinya. Tidak jarang anggota keluarga besar isteri akan berupaya menjauhi dirinya atau menjauhkannya dari keikut sertaan dalam perundingan, rapat keluarga. Tatkala pada suatu masa terjadi peristiwa yang menyebabkan Urang Sumando ini harus pergi meninggalkan rumah tangganya termasuk istri dan anak-anaknya, yang berakhir dengan perceraian, maka  Pihak   Penghulu / Kepala Kaum istrinya – tidak ada yang ingin mendamaikan antara dirinya dengan istrinya. Bahkan  yang lebih parah membiarkan saja kepergiannya itu.  Kepergiannya pun dianggap ringan seperti ringannya abu diatas tunggul kayu .
RANG SUMANDO LAPIAK BURUAK, sebutan buat seorang Rang Sumando yang pemalas, pengangguran. Meskipun badannya tegap – namun badannya tanpak lusuh seperti orangyang tua renta meskipun ia tidak berpenyakit. Kegiatan kesehariannya hanya dirumah isterinya – duduk bermenung – pasif dan tidak ada inisiatif.  Tidak berupaya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Ia benar-benar menganggap kedudukan dirinya sebagai tamubelaka.  Ia tidak mau berkontribusi bagi kepentingan orang banyak.
Sebaliknya istrinya yang bekerja keras diluar rumah, entah bertani – bersawah atau berladang – bahkan berjualan keluar rumah untuk berdagang. Pada masa sekarang ini, tidak jarang ada laki-laki serupa ini terlarut dengan karir isterinya, bahkan ia bangga dengan hidupnya yang tergantung dengan pendapatan isterinya.  Sebaliknya, jika Ia diajak bekerja, tidak mampu menghasilkan penghasilan – karena Ia tidak pernah bersungguh-sungguh.  Bila di beri saran kebaikan – ia tidak bisa menerima saran itu.  Akibat Rang Sumando golongan ini, dianggap tidak berguna bagi keluarga isterinya. Tidak masuk hitungan – karena sosoknya yang pasif itu  dianggap sepi saja dikeluarga besar isterinya.
Karena itulah ia tidak diberi peran apa apa lagi, sehingga Ia dibebaskan dari tanggung jawab dan diringankan oleh lingkungan keluarga istrinya. Lelaki serupa inilah yang nasibnya disebut “ bak abu diateh tunggua”. Kapan saja dia boleh terbang dan tidak akan dicari.
RANG SUMANDO LANGAU HIJAU , ini sebutan untuk Rang Sumando yang mata keranjang dan hidung belang. Istilah Minangnya “ caluang “.
Lelaki seperti ini memiliki kebiasaan suka merayu para gadis atau janda-janda. Membohongi para wanita yang dirayunya, meskipun dia sendiri sudah punya anak dan istri. Apabila berhasil dengan rayuannya – ia menikahi para gadis itu. Akibatnya ia memiliki isteri dan anak dimana-mana.
Banyak istilah lain yang mengarah terhadap lelaki serupa ini, bahwa ia memiliki kelemahan dibidang ke susilaan. Lelaki serupa ini  ada, baik pada masa dahulu maupun masa sekarang, baik yang tinggal kampung halaman atau dikota bahkan di Rantau jauh sekalipun. Yang memprihatinkan – apabila ia suka mengunjungi tempat maksiat dan tidak pernah melaksanakan sholat.
Jika Penghulu/ Kepala Kaum mengetahui – urang sumando yang serupa ini di keluarga besarnya, maka Penghulu / Kepala Kaum akan berusaha memisahkan lelaki ini dari isterinya, demi menjaga akhlak keluarga besarnya. Ketika lelaki Minang melakukan hal serupa ini dikeluarga isterinya, maka segenap keluarga besar isterima mengharapkan ia terbang pergi. Ia pun  akan akan menerima nasib “ bak abu diateh tunggua”.
RANG SUMANDO NINIAK MAMAK , adalah laki-laki Minang yang punya wibawa dan disegani karena sifat-sifat dan prilakunya yang terpuji. Berkata selalu jujur dan perkataan yang dilontarkannya selalu benar. Berupaya dan berusaha untuk memenuhi nafkah anak-isterinya. Sikap dan keteladanannya selalu menjadi contoh, baik dikeluarga – masyarakat. Dikeluarga isterinya suaranya didengar. Ia dijadikan tempat bertanya dan menyelesaikan masalah. Urang Sumando yang memiliki sifat seperti ini, Ia akan dijadikan PEMIMPIN dalam keluarga isterinya.
Jika masa dahulu kala, menggambarkan Rang Sumando Ninik Mamak ialah ketika ia rajin bersawah dan berladang. Selalu menghasilkan panen padi secara sempurna. Begitu pula dalam menjalani ibadahnya. Ia tidak pernah putus menjalani syariat Agama Islam. Hal ini dapat ditunjukkan kesehariannya. Ba’da sholat subuh  – dengan bekal secangkir kopi Rang Sumando ini , sudah turun dari rumah memanggul pacul atau memanggul bajak sambil menarik kerbau, menuju sawah atau ladang garapannya. Barangkali tak salah bila kita saksikan suasana dalam pedesaan yang menampilkan suasana para petani. Kira-kira jam 09.00 istri petani yang setia datang ke sawah menjujuang bakul nasi dan menjinjiang tabuang kawa , untuk suami yang menjadi kebangaannya ini.
Apabila digambarkan masa sekarang,  ketokohannya ditampilkan, ketika sebagai urang sumando yang mampu beradaptasi dengan keluarga isterinya. Bahkan di keluarga isterinya, urang sumando ninik mamak ini ditempatkan sebagai pemimpin keluarga.(disadur kembali oleh ul)

Istilah ” bak abu diateh tunggua” ini, umum diketahui oleh setiap orang Minangkabau yang sudah dewasa, yang diibaratkan perlakuan yang dialami seorang suami dirumah istrinya yang lazim disebut Rang Sumando (manantu ).

[blogger]

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.