MENGHADAPI BERITA BURUK MEDIA

Ameraldy Chatra

Kalau ada berita buruk muncul di media, apa yang musti Anda lakukan? Katakanlah sebelumnya Anda dikenal sebagai tokoh politik yang bersih. Berita itu tidak hanya mengejutkan Anda, tapi juga membuat pendukung-pendukung Anda terpana. Berikut tiga rekomendasi saya untuk menghadapi berita tsb.

*Pertama*: periksa dulu kebenaran berita itu. Apakah isi berita itu benar atau salah? Kalau Anda dikabarkan menerima uang hasil korupsi, periksa dulu apakah memang pernah menerima atau tidak?

Bila tidak berarti berita itu fitnah. Bila benar, apa yang harus dilakukan? Masuk ke langkah kedua.

*Kedua*: bila berita itu benar, jangan mengeluarkan bantahan apapun juga. Jangan mengatakan Anda kena fitnah. Sebab setiap bantahan hanya akan memperberat dosa, karena bantahan itu sudah pasti dusta.

Sekalipun Anda tahu sudah bersalah, pasti Anda tidak ingin mendapat malu apalagi hukuman karena kesalahan itu. Itu sangat manusiawi. Rasa takut malu dan hukuman itu yang mendorong Anda membuat dosa baru dengan berdusta.

Dalam kondisi seperti itu jurus diam adalah yang terbaik. Dalam diam itu usahakanlah berdoa kepada Allah agar diampuni dan dilindungi dari azab. Banyak-banyak bersedekah sebagai pengiring doa. Mudah-mudahan Allah mengijabah doa Anda.

Jika Anda memang bersalah, hanya Allah yang dapat menolong Anda dari azab dunia. Manusia tidak akan melepaskan Anda dari hukuman karena aturannya sudah ada.

Kepintaran berdusta atau bersandiwara tidak akan menolong Anda selamanya. Bila Allah menolong Anda, hukuman yang dijatuhkan kepada Anda akan lebih ringan, bahkan mungkin saja Anda dibebaskan.

Bagaimana kalau berita itu memang fitnah?

Gunakan jurus sabar. Berarti berita itu ujian bagi Anda. Hadapi ujian dengan sabar dan shalat. Berlindunglah kepada Allah atas perbuatan manusia yang merugikan Anda.

Sabar itu berarti tidak membuat tindakan yang mengesankan Anda panik, baik dengan memberikan bantahan keras atau lapor sana-sini. Reaksi panik itu justru merugikan Anda karena orang akan berasumsi bahwa Anda benar-benar sudah mendapat bagian dari sebuah perbuatan koruptif.

Reaksi panik juga menjadi sumber berita baru. Kita hidup di tengah manusia yang suka melihat kepanikan orang lain. Kepanikan tokoh politik jadi hiburan bagi orang-orang yang tidak menyukai. Bukan melahirkan simpati. Orang yang semulanya tidak tahu akan jadi tahu masalah Anda. Reaksi panik berarti eskalasi prasangka.

Melaporkan awak media ke polisi mungkin dianjurkan konsultan hukum. Menghadapi anjuran itu Anda perlu mempertimbangkan berbagai resiko. Bila sudah berurusan dengan lembaga hukum Anda sudah menabuh genderang permusuhan dengan awak media yang memberitakan Anda.

Genderang perang bukan hanya menyasar awak media itu. Anda juga membuka pintu untuk musuh-musuh politik Anda bereaksi keras. Musuh-musuh itu pasti akan berdiri di belakang awak media yang Anda kadukan. Artinya, mengadu ke polisi dapat berarti memperluas medan tempur Anda, dan ‘golok yang ada di tangan Anda suatu ketika dapat menggorok leher Anda sendiri’.

*Ketiga*: Bila Anda memang tidak bersalah, jangan marah dan membuat permusuhan dengan awak media. Mereka hanya bagian dari sebuah sistem yang mengedepankan sensasi dan kehangatan berita dalam persaingan bisnis yang ketat dengan media lain. Kadang mereka melakukan kekhilafan. Belum tentu sebuah tindakan yang didasari niat jahat.

Anda harus memahami tekanan yang mereka alami dalam bekerja. Sekalipun dirugikan, jangan sampai berprasangka buruk.

Anda juga musti ingat, fitnah itu biasa dalam dunia politik. Banyak politisi baik yang dihujani fitnah agar jatuh. Tapi mereka dapat meloloskan diri berkat tindakan yang bijak dan tepat. Tentu saja semua tidak lepas dari pertolongan Tuhan.

Membuat permusuhan dengan awak media punya resiko politik yang panjang. Anda boleh menang di pengadilan, tapi kemenangan itu hanya menyebabkan Anda menjadi arang, sementara awak media menjadi abu.

Ceritanya bisa panjang. Bermusuhan dengan media bukanlah praksis politik yang dianjurkan.

Sebaiknya, bila Anda memang tidak bersalah, perlihatkan kesabaran. Selanjutnya ajaklah awak media itu ngopi-ngopi dan berbicara dari hati ke hati. Kemudian jelaskan bahwa beritanya keliru.

Kemampuan Anda meyakinkan awak media itu sangat penting. Kalau tidak mampu menjelaskan sendiri, ajak teman atau sewa konsultan komunikasi yang dipercaya oleh media. Ingat, tidak semua konsultan komunikasi dipercaya oleh media.

Sodorkan juga bukti-bukti yang membuat awak media yakin. Bukan hanya berkata-kata.

Kalau awak media sudah yakin bahwa Anda memang bersih dan hanya korban fitnah orang lain, Anda boleh meminta awak media itu membuat tulisan untuk mengembalikan nama baik Anda.

Dengan cara seperti itu Anda tidak membuat kegaduhan yang membangunkan lawan-lawan politik Anda dari tidurnya. Operasi senyap juga tidak membuat semangat mereka menghancurkan Anda jadi berkobar-kobar.

_Wallahu ‘alam bis sawaab_
[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.